Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan

Kado Istimewa dari Kedalaman Samudra

Kamis, 04 Februari 2021

Kado Istimewa dari Kedalaman Samudra
Oleh: Karunia Sylviany Sambas


Mohon maaf, Sahabat. Artikel ini telah dikembalikan ke draft karena akan digunakan untuk kepentingan lain.

Terima kasih. 

Cara Mengirim Cerpen Anak ke Harian Umum Kompas

Sabtu, 17 Oktober 2015
Harian Umum Kompas

Assalamu'alaykum, Sahabat Khansa

Bagi yang ingin mengirimkan naskah cernak ke Harian Umum Kompas, berikut ketentuannya, ya.

Sumber info ini berasal dari Rubrik Cerita-Cerita Kompas Anak


Redaksi menerima kiriman naskah, cerita pendek, atau dongeng. Karangan harus asli dan belum pernah diterbitkan. Panjang karangan 3-4 halaman, diketik dua spasi. Karangan yang layak muat akan diberi imbalan yang pantas. Naskah harap dikirim ke 

Redaksi Kompas Anak,
Jalan Palmerah Selatan Nomor 26-28, Jakarta 10270.

Berdasarkan pengalaman pribadi saya, naskah juga bisa dikirim melalui alamat e-mail : opini@kompas.co.id, opini@kompas.com, dan kompas@kompas.co.id
 
Semoga bermanfaat.


Wassalamu'alaykum


Karunia Sylviany Sambas

Lomba Menulis Dongeng Anak bersama Nusantara Bertutur & Konferensi Sanitasi dan Air Minum Nasional (KSAN) 2015

Rabu, 14 Oktober 2015
Assalamu'alaykum.
Hai .. hai ... NuBi bareng KSAN 2015 lagi ngadain Lomba Menulis Dongeng Anak, lho! ;)

Sahabat Khansa yang tersebar di seantero nusantara, yuk, kita ramein ajang keren ini. Selamat menulis dan mengirim. Semoga sukses, ya! 
Klik untuk melihat tampilan gambar lebih jelas
Sumber info dari akun facebook Nusantara Bertutur

Hai, Sahabat Nusantaraaa~

Ikutan Lomba Menulis Dongeng yang diadakan oleh Nusantara Bertutur dan KSAN 2015 yuk!

Jadi, Konferensi Sanitasi dan Air Minum Nasional (KSAN) adalah acara dua tahunan (sejak 2007) yang dilaksanakan sebagai bagian dari upaya pencapaian Universal Access 2019.

Lalu, dalam KSAN tahun ini ini diadakan Lomba Menulis Dongeng Anak – KSAN 2015.

Mengapa diadakan lomba menulis dongeng? Karena kami ingin mengedukasi anak-anak dan lingkungan pendidikan dengan bahasa yang mudah dimengerti dan disukai oleh anak-anak, mengenai kondisi saat ini serta harapan yang ingin dicapai dalam permasalahan air minum dan sanitasi Indonesia. Selain itu kami juga ingin menyebarkan isu air minum dan sanitasi di komunitas dongeng anak, dengan harapan dongeng-dongeng anak tentang air minum dan sanitasi akan semakin banyak jumlahnya.

Sahabat Nusantara bebas loh mau mengirimkan berapa pun jumlah naskah karya. Ayoo kirim yang banyak yaa!

Syarat Lomba:
1. Lomba ini bersifat terbuka tanpa batasan usia bagi seluruh Warga Negara Indonesia
2. Naskah ditulis dalam Bahasa Indonesia yang baik dan benar, serta diketik dalam format cerita pendek. Panjang naskah maksimal 5000 karakter (no spaces), font Times New Roman, 12 pt, dan spasi 1,5.
3. Tema dongeng adalah kondisi air minum dan sanitasi (air limbah domestik, drainase, dan persampahan) saat ini, serta harapan yang ingin dicapai oleh Indonesia dalam peningkatan akses air minum dan sanitasi tersebut.
4. Naskah harus asli, bukan terjemahan atau saduran, atau mengambil ide dari orang lain yang sudah ada. Selain itu naskah tersebut belum pernah diterbitkan di media massa (cetak maupun elektronik), dan tidak sedang diikutsertakan dalam lomba lain.
5. Cerita diharapkan dapat memasukkan unsur-unsur Nusantara (misal: lokasi, flora, fauna, budaya, dsb.).
6. Lampirkan: biografi penulis, scan KTP/kartu identitas lain, alamat dan nomor telepon rumah/hp, nomor rekening bank, dan foto terbaru penulis.
7. Softcopy naskah dilampirkan dalam email yang ditujukan ke Panitia Lomba Menulis Dongeng dengan alamat email nusantarabertutur@gmail.com dan mencantumkan judul subjek
'Naskah Lomba Menulis Dongeng Anak - KSAN 2015'

Kriteria Penilaian:
Naskah dongeng tersebut akan dinilai berdasarkan kriteria yang dimiliki oleh Nusantara Bertutur dan Panitia KSAN 2015. Kriteria tersebut terdiri atas:

1. Nusantara bertutur:
a. Rendah hati
b. Dapat dipercaya
c. Menghargai
d. Tanggung jawab
e. Adil
f. Peduli
g. Kenegarawanan

2. Panitia KSAN 2015:
a. Kesesuaian dengan tema
b. Ketepatan informasi yang diberikan

Selamat berkarya! Nubi tunggu karya kamu yaa.
Wassalamu'alaykum.


Karunia Sylviany Sambas

Cerpen Anak Belajar Membatik dimuat di Kompas Klasika Nusantara Bertutur edisi Minggu, 04 Oktober 2015

Jumat, 09 Oktober 2015
Assalamu'alaykum wr wb, Sahabat Khansa ^_^

Alhamdulillah. Hari ini saya kembali membawa berita bahagia. Kabar ini datang dari NuBi. Salah satu rubrik di Harian Kompas yang sedang giat-giatnya melestarikan budaya mendongeng lewat #GerakanSumbangDongeng.

Naskah ini saya kirim di hari jelang deadline. Kan lebih dekat lebih baik ;) 
Sensasi diburu deadline itu amazing sekali, lho! 

Saya copy paste versi asli naskah Belajar Membatik, ya. Setelah membaca ini, semoga banyak pelajaran yang bisa diambil. Jadi, kita makin paham keinginan NuBi untuk #GerakanSumbangDongeng-nya itu seperti apa. Kan nggak kenal maka nggak sayang. Supaya sayang dan disayang NuBi, so kudu kenalan dulu! 

Cerpen Anak Belajar Membatik dimuat di Kompas Klasika Nusantara Bertutur edisi Minggu, 04 Oktober 2015
Klik untuk melihat gambar lebih jelas
Naskah ini sesuai kriteria NuBi

Atik Belajar Membatik
Oleh Karunia Sylviany Sambas

Sabtu sore ini, Atik berkunjung ke rumah Nenek di Sekoja, Jambi. Saat ini Nenek sedang bercengkerama dengannya. Atik menceritakan tentang kegiatan di sekolah.
            “Ohya, Nek. Waktu tas sekolah teman Atik koyak, teman-teman menertawai dia. Kasihan sekali, Nek.”
            “Atik tidak ikut-ikutan menertawai, kan?” tanya Nenek.
            Atik menggeleng kuat-kuat.
“Mengejek orang lain itu kan perbuatan tidak baik, ya, Nek.”
Nenek mengangguk sambil tersenyum.
Atik melihat sebuah tas yang tergantung di dekat mesin jahit Nenek.
            “Nek, tas itu bagus, ya. Coraknya batik. Teman-teman Atik belum ada yang punya begitu.”
            Nenek menoleh.
“Tas batik itu buatan Nenek. Kainnya Nenek beli langsung dari sanggar batik,” jelas Nenek.
            “Nek, Atik juga mau tas seperti itu. Nanti Atik akan berikan pada teman Atik yang tasnya koyak.”
            Nenek tersenyum lagi.
“Hati cucu Nenek sungguh baik.”
            Esoknya, Atik dan Nenek pergi ke sanggar batik. Pemilik sanggar batik ini bernama Bu Hanum. Beliau adalah teman sekolah Nenek.
            Di sana banyak anak seusia Atik yang sedang membatik.
“Batik tulis Jambi memiliki ciri khas yang unik dan menarik. Baik dari segi warna maupun motif. Sebagian besar pewarna batik Jambi diambil dari bahan-bahan alami, yaitu campuran dari aneka kayu dan tumbuh-tumbuhan yang ada di Jambi, seperti getah kayu lambato dan buah kayu bulian, daun pandan, kayu tinggi dan kayu sepang,” jelas Bu Hanum.
“Kamu ingin belajar membatik?” tawar seorang anak seusia Atik.
            Nenek tersenyum dan mengizinkan. Nama anak itu Dilla. Dia adalah cucu Bu Hanum. Sambil menunggu Atik, Nenek bercengkerama dengan Bu Hanum.
            Dilla mengajari Atik membatik.
Mula-mula, ia meletakkan kain putih seukuran sapu tangan pada sebuah benda yang disebut gawangan. Sudah ada pola berbentuk bunga di kain itu. Dengan gawangan, kain jadi tidak bergerak dan mudah untuk dibatik.
Lalu, Dilla mengambil lilin dengan menggunakan canting. Canting adalah alat yang digunakan untuk membuat motif batik. Lilin tadi sudah dicairkan di dalam sebuah wajan kecil. Secara perlahan, Dilla menggoreskan canting mengikuti pola. Dari urutan atas ke bawah. Sesekali, Dilla meniup-niup ujung canting.
“Ini cara agar lubang canting tidak tersumbat lilin, Tik,” jelas Dilla.
Sambil membatik, Dilla mengajak Atik bicara.
“Batik adalah salah satu warisan budaya bangsa kita. Buktinya, UNESCO sudah mengukuhkan batik Indonesia sebagai warisan budaya dunia,” ucap Dilla dengan nada bangga.
UNESCO itu United Nations Educational Scientific and Cultural Organization, sebuah badan organisasi dunia yang menangani masalah pendidikan, ilmu pengetahuan, dan kebudayaan. Atik pernah belajar ini di sekolah.
Setelah membatik, selanjutnya proses pewarnaan sesuai warna yang diinginkan. Selesai diwarnai, lilin tadi dilorotkan. Kain dibilas lalu dijemur.
Karena hari sudah agak siang, Atik pamit pulang. Nenek juga sudah membeli kain batik untuk membuat tas.  
Atik berterima kasih pada Dilla. Kini ia jadi tahu banyak tentang batik. (***)

Hikmah Cerita
Bangga menjadi anak Indonesia sekaligus mencintai batik sebagai salah satu warisan budaya.


Sebagai bahan belajar, silakan Sahabat Khansa bandingkan antara naskah asli dengan naskah yang dimuat, ya. 


Bagi Sahabat Khansa yang ingin mengirim naskah cerpen anak #GerakanSumbangDongeng ke Kompas Klasika Nusantara Bertutur, silakan klik di sini  Selamat mengirim. Semoga sukses! ^_^

Semoga bermanfaat.

Wassalamu'alaykum wr wb,

Karunia Sylviany Sambas

Antologi Cerpen Perjuangan Hidupmu Inspirasiku

Minggu, 19 Juli 2015



Judul                : Antologi Cerpen Perjuangan Hidupmu Inspirasiku
Penulis             : Sahabat GP
Cetakan           : Pertama, Agustus 2013
Editor              : Sinar Yunita dan Widia Aslima
Setting dan Layout : Goresan Pena Publishing
Desain Sampul : Fransisca Rina Milansi
ISBN               : 978-927-0093-66-0
Harga               : Rp. 41.000
Penulis             : Rp. 36.900


Untuk pemesanan ketik PHI_NAMA_ALAMAT_JUMLAH kirim ke 085 221 422 416 atau inbox ke FB Capten Iwan Wungkul


Kontributor :
Doni A, Duayu Al Farabi, Aifia A. Rahmah, Tri Oktiana, Nanna Novita, Ferry Willi, Eni NN, Bunda Umy, Nenny Makmun, Desih Sukaesih, Buk Nung, Zulfa Rahmatina, Musa Annisa, Novy Noorhayati Syafida, Vysel Arina, Melianaa Prasetyo, Tiwtiw, DG.Kumarsana, Julia Hartini, Anna El Uswa, Nafi’atul Aizazah, Okta Hebat, Mahdi Rahmadhani, Venty Ayu Ningrum, Kans' Zein Basry, M. Lefand, A.Zidny, Tyssa Kurniaty, Aji Sutrisno, Jay Wijayanti, Bilqis Anisah, Yuan Yunita, De Chieka, Matin Aqila Al Fattah, Rayyandina Amaliya, Tiartha, N. Kirana, Welly Eka S., Siti Khumairah, Nelly Nezza, Rusdi El Umar, Anna M.U., Dedek Suhendar, Rivi Ririz, Titi Haryati Abbas, Tri Ratna Rachmawati, Frans Muliardi Sitanggang, Pratama Ramadhan, Maftuhatus Sa'diyah, Ardini N W, Farida Sundari, Wiwied Fransiska, Marita Ningtyas, Gitta Yoon, Rohyuli, Nazri Z. Syah Nazar, Karunia Sylviany Sambas, Zulzilah Arth, Bagas Satriawan, Ernita Lusiana, Lusi Tri Jayanti, Asih Putri Utami, Wardatun Nabilah, Nia Lestari, Athani, Lintar, Fatimah Mardiana, Bidha Nuriskha, Farida Sundari, Suherlinda, Sri Juli Astuti, Zada El-Zada Qolbi

Cerdak Story Teenlit Magazine Mei 2013

Selasa, 22 April 2014


Cerdak Story Teenlit Magazine Mei 2013 

Kala Penyihir Disapa Cinta
Oleh : Karunia Sylviany Sambas

Hari ini seisi sekolah Vollenwitch heboh. Khususnya makhuk cantik dan centil itu. Ah, apa sih yang sedang mereka bicarakan?
“Rest, pokoknya aku mesti bisa naklukin makhluk tampan itu?” Ale si penyihir bertopi ungu buka suara.
“Aku juga naksir berat sama Jang Ers. Aku yang bakalan naklukin hati dia!” Arest tak kalah aksi.
***
Mereka berdua murid tingkat akhir sekolah penyihir yang terkenal. Kemana-mana selalu berdua. Dandanan mereka juga mirip. Bedanya, Ale bertopi ungu, sedangkan Arest bertopi pink.
Hari ini, penyihir cantik dan centil memulai aksinya, mencoba menarik perhatian makhluk tampan. Sapu terbang melayang di ruangan kelas. Eh, kenapa Jang Ers betah membaca kitab mantra di kursinya? Si cool ini masih malu-malu rupanya.
Hmm … sebenarnya ia tak benar-benar membaca. Ada sesuatu yang tengah dipikirkannya. Apa itu? Dia belum mau buka kartu. Kita simak kisah ini selanjutnya.
“Hai Jang Ers, kamu rajin banget deh baca kitab mantra. Mau dong ditularin rajinnya.” Arest tersenyum centil.
Jang Ers menoleh sejenak.
“E … eh ….” Ia buru-buru menutup kitab.
“Aku kan baru di kelas ini, jadi masih harus belajar banyak.” Jang Ers tersenyum.
***
“Rest, gimana kalo kita buat kompetisi yang sehat. Kita adain lomba, yang menang boleh lanjut pedekate sama Jang Ers. Oke nggak tuh?”
“Hmm … usul kamu boleh juga, tapi … bukannya kamu juga naksir sama Jang Ers?” ledek Arest.
“Nggak apa-apa deh. Kita kan sobatan kayak apa tuh …. Oh ya, kepompong! Hihihi.” Ale cekikikan.
 “Oke! Kalo gitu kita bertarung secara betina ya.” Mereka tos ala penyihir. Saling menautkan topi kerucut.
***
            Hari yang ditentukan tiba. Olala … pertandingan khusus untuk Ale dan Arest! Penyihir yang bersahabat sejak tingkat pertama itu memulai aksi mereka. Setengah memaksa mereka meminta Ayre, penyihir yang dijuluki ratu masak sebagai juri.
            “Satu … dua ….” Aba-aba diberikan. Ale dan Arest telah siap di posisinya masing-masing.
“Tiga!!!” Mereka segera meluncur.
Sapu terbang menusuk tajam.
            Swing … swing …
            Mereka berputar di antara pohon kelapa yang menjulang tinggi.
            Hap! Ale dan Arest hinggap di salah satu pohon. Mereka memerhatikan sebuah restoran terlengkap dan terlezat di kota mereka dengan seksama. Sang koki terlihat sedang sibuk mengolah suatu masakan.
            Tak lama, Arest tersenyum. “Aku udah tau rahasianya. Dah … Ale sayang.” Arest beranjak meninggalkan Ale. Ale sebal. Pikirannya kacau. Konsentrasi pun buyar.
            “Gawat!” batin Ale.
Arest mulai terlihat sibuk di dapur. Berpindah dari satu meja ke meja lain. Ia bekerja dengan cekatan.
Penyihir bertopi pink itu sudah menyelesaikan separuh pekerjaannya ketika Ale tiba.
“Kamu lama banget sih, Sayang,” ujar Arest tanpa melihat wajah Ale.
Waktu semakin sempit. Merasa peluangnya kian menipis, Ale gusar, tapi cepat ia mengerjakan tugasnya.
 “Yap! Waktu habis!”
“Tadaa ….. Fiuhh, akhirnya selesai juga,” Arest menyeka peluhnya.
“Hampir saja!” Ale telah siap dengan hidangannya.
Sang juri telah mencicipi hidangan itu.
Somay kamu enak, Ale,” ujar Ayre. Ale tersenyum kemenangan. “Tapi, hidangan Arest lebih enak. Sepertinya kamu lupa menambahkan kecap.” Ucapan terakhir itu membuat Ale lemas seketika. Topi kerucutnya miring ke kiri. Ia tak peduli.
            Arest bersorak gembira.
***
Esoknya di kelas, Ale terlihat murung.
Tak jauh di seberang Jang Ers tengah memerhatikan penyihir cantik bertopi ungu itu.
“Hai Ale, mau membantuku memahami kitab mantra ini?”
Wow, pucuk dicinta ulam pun tiba. “Kesempatan bagus nih.” Ale tersenyum penuh arti.
Ale dan Jang Ers segera akrab.
“Memahami kitab mantra yang tebal ini terasa ringan kalau berdua sama kamu,” ujar Jang Ers hari itu. Kata-kata itu berhasil menghadirkan rona kemerahan di pipi Ale.
Kedekatan dua penyihir ini membuat Arest cemburu bukan kepalang.
“Kan aku yang menang, tapi …. Ah, sudahlah.” Perlahan Arest menjauh. Sayangnya, Ale tidak menyadari perubahan sikap Arest.
***
Hari ini Arest terlihat gelisah. Bagaimana tidak? Dua hari lagi ujian kenaikan tingkat akan dilaksanakan. Ia kasihan pada Ale. Semenjak dekat dengan Jang Ers, nilai-nilai Ale menurun drastis. Padahal, ia adalah pelajar terbaik selama dua tahun berturut-turut. 
Arest menyadari sesuatu. Sepertinya ada yang tidak beres. Nilai Jang Ers menanjak naik. Dan Ale, sebaliknya.
“Oh, tidak! Ale dijebak!”
Arest menemui Ale hari itu juga.
“Apa? Kamu jangan jelek-jelekin Jang Ers, ya.” Ale ketus.
Arest sedih.
***
“Aku udah berhasil naklukin hati Ale. Sebentar lagi aku akan jadi bintang kelas Vollenwitch. Gak sia-sia aku pindah sekolah untuk memperbaiki citra penyihir pecundang. Hahaha.” Tawa itu memecah kesunyian di salah satu ruang. Jang Ers sedang berbicara dengan seseorang.
Deg! Ale seperti baru saja terbangun dari tidur panjangnya. Hatinya sakit. Ia telah mengabaikan Arest, sang sahabat sejati yang sudah mengingatkannya tempo hari.
Segera ia menuju kelas, mencari sosok yang begitu ia rindukan. Penyihir bertopi pink itu hampir terjengkang dari kursi ketika Ale menubruknya dengan haru biru. Penyihir cantik dan centil harus bersatu. Akur!