Tampilkan postingan dengan label Event. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Event. Tampilkan semua postingan

Pengumuman Pemenang Lomba Menulis Dongeng Anak bersama Nusantara Bertutur & Konferensi Sanitasi dan Air Minum Nasional (KSAN) 2015

Rabu, 04 November 2015
Assalamu'alaykum, Sahabat Khansa. 

Apa kabar?
Semoga selalu bersemangat menjalani aktivitas, ya.

Alhamdulillah. Kemarin saya mendapatkan kesempatan indah untuk memenangkan lomba yang paling dinanti-nanti oleh penulis bacaan anak seantero nusantara. \:D/


Khalisa Lip Balm : Akhirnya, Kumenemukanmu!

Kamis, 08 Oktober 2015
Sumber gambar : Instagram Khalisa Indonesia (editing)

Dari Abu Dzar Radhiyallahu Anhu. Rasulullah SAW Bersabda :

“Senyummu di hadapan saudaramu (sesama muslim) adalah (bernilai) sedekah bagimu.” (HR. At Tirmidzi dan Ibnu Hibban).



Rahasia dibalik senyum

Penelitian di Inggris menunjukkan bahwa sebuah senyuman bisa menimbulkan efek stimulasi di otak setara dengan efek yang didapatkan dari makan 2.000 batang cokelat. Wow! 

Senyum merupakan cara paling ringan yang bisa dilakukan seseorang untuk mendapatkan banyak manfaat positif. Pasalnya, kata seorang psikolog, seseorang hanya butuh 17 otot di wajah untuk tersenyum. Bandingkan saja dengan mengernyitkan dahi. Seseorang butuh lebih dari 40 otot di wajah saat mengernyitkan dahi. Lebih baik senyum daripada manyun, kan? ;)

Ternyata, senyum juga bukan asal senyum, lho!

Kenalan dengan Senyum Duchenne

Dari beragam tipe senyum, hanya Senyum Duchenne yang memberikan manfaat paling maksimal.

Duchenne smile hanya terjadi saat seseorang memberikan senyum tulus, yakni ketika otot mata ikut tersenyum. Dengan kata lain, saat tersenyum, mata akan ikut berkerut dan menampakkan gigi. Tipe senyuman ini juga bisa membedakan antara senyum palsu atau sungguhan.

Ternyata, senyum tulus atau nggak tulus itu bisa ketahuan, ya.  Karena senyum sangat bermanfaat buat kesehatan. Jadi, kalau bibir tersenyum, tapi malah jadi sakit-sakitan, senyumnya patut dipertanyakan :D Tulus nggak, tuh? Hehehe.  

So, walaupun nampak sepele, ternyata senyum punya kekuatan super!

Senyum itu Ibadah


Sering dengar kalimat ini kan, Sahabat? Pasti, dong, ya! Tapi, kalau kita nggak bisa senyum gegara kulit bibir pecah-pecah, gimana dong? Ini masalah serius, Sahabat. Selain pahala bakalan berkurang karena nggak bisa senyum, kita bisa dicap sombong karena buang muka mulu pas disapa orang. Humph! Saya pernah ngalamin hal ini, lho! Kalau ingat kejadian itu, sungguh bikin malu. Jangan sampai keulang lagi, deh!

Ceritanya, saat itu saya masih kuliah. Jam sepuluh pagi kelas sudah berakhir. Kata komting kelas, kuliah akan dilanjutkan pada pukul dua siang. Menunggu adalah hal yang membosankan, ya.

Karena teman-teman pada sibuk dengan tugas masing-masing, saya memutuskan pergi ke perpustakaan. Pilih sana pilih sini akhirnya saya menemukan satu buku. Duduk di pojokan, nyantai sendiri. Kalau sedang asyik baca, saya suka menjilati bibir. Apalagi ruangan itu ber-AC. Makin seringlah saya menjilati bibir. Niatnya sih supaya bibir nggak kering.  

Tanpa terasa, azan zuhur berkumandang. Saya pun pergi ke kelas untuk mengambil mukena kecil yang selalu setia menemani. Saat itu, Sarah, teman sebangku saya, juga sedang siap-siap menuju musala. Ia mengambil mukena dari tasnya.

“Bareng, yuk!” ajak saya. Sarah menoleh. 

“Bibir kamu kenapa, Vi?” tanyanya dengan tatapan heran.

Cepat-cepat saya mengeluarkan cermin kecil. Dan ... olala. Bibir saya berjamur! Seperti bayi habis minum susu. Kulit putih berlepotan. Terutama di sudut bibir. Pantesan tadi rada perih. 

Tanpa menjawab pertanyaan Sarah, saya langsung menuju kamar mandi. Pas melewati pintu, ada teman yang menyapa. Uh! Saya yang panik nggak sempat lagi menoleh dan menjawab. Duh, si Teman pasti kesal karena merasa dicuekin.

Sesampainya di kamar mandi, saya perhatiin bibir. Ketika dibasuh dengan air, kulit putih-putih itu mengelupas. Perih, euy! Setelah bersih saya pun kembali ke kelas. Sarah masih menunggu. Untunglah dia nggak bertanya lagi dan kami langsung berangkat menuju musala.

Sepanjang perjalanan, saya ingat-ingat lagi. Perjalanan dari perpustakaan menuju kelas itu harus melewati sebuah koridor. Tadi banyak orang di sana dan saya juga menyapa seseorang. Duh, malu sekali kalau mengingat kejadian itu. Bisa-bisa saya dicap si jorok dengan senyum mengerikan. Padahal, senyum saya itu tulus, lho.  

Nah, gegara bibir yang kurang terawat, kita bisa dicap sombong plus jorok. Nggak banget, kan!

Selesai shalat zuhur, saya masih merasa malu nih. Iseng, saya membuka akun facebook dari hape. Tralala ... seorang teman mem-post status tentang masalah bibirnya. Katanya, masalah dia akhirnya teratasi setelah memakai pelembab bibir.

Pelembab bibir? Saya mulai berpikir. Selama ini saya belum pernah memakaikan produk apapun pada bibir. Selain rutin mengoleskan madu sebelum tidur, makan banyak buah dan memperbanyak minum air putih. 

Sebelum pulang ke rumah, saya putuskan untuk membeli pelembab. Saya ke apotik yang letaknya berdekatan dengan kost. Duh, sedari sore sampai mau magrib, belum ketemu-ketemu. Lelah. Selama seminggu setelah hari itu, saya selalu mengacai bibir dan membawa sapu tangan. Setiap “si Putih” datang, saya langsung menghapusnya. Ribet dan bikin selalu harus waspada. Plus sambil meringis menahankan perih. Huhuhu.

Akhir pekan tiba, saya pulang ke rumah. Sorenya, saya main ke hypermart. Mungkin sudah takdir, ya. Padahal bedak, pelembab, dan pembersih muka saya masih lengkap, tapi kaki seolah tertarik menuju rak-rak penyedia produk kecantikan.

Saya pun menemukan sebuah benda imut seukuran lipstik. Warna kemasannya kuning. Karena terbaca ada kata lip care, saya pun tertarik untuk membaca kemasan itu lebih detail. 

Sumber gambar : Koleksi Pribadi (editing)
Khalisa Lip Balm : Akhirnya, kumenemukanmu! ^_^

Kata-kata selanjutnya, memersuasi saya dengan sukses!


Kelembutan dan kehalalan formula Khalisa kini hadir untukmu! Khalisa dengan kandungan utama Beeswax, Sea Butter dan Olive Oil yang bekerja sinergis menjaga kelembaban bibir agar senantiasa halus, lembut dan cantik. Diperkaya dengan vitamin E yang dikenal sebagai antioksidan alami serta SPF 25 untuk melindungi warna alami bibir dari pengaruh buruk sinar UV. Tidak berwarna sehingga dapat digunakan kapan saja, dan dengan aroma Vanilla Honey yang akan membuatmu tersenyum.

Sumber gambar dan keterangan : google.com (editing)
Beeswax

Sumber gambar dan keterangan : google.com (editing)
Sea Butter
Sumber gambar dan keterangan : google.com (editing)
Olive Oil
Sumber gambar dan keterangan : google.com (editing)
Vitamin E
Sumber keterangan : google.com (editing)
SPF


Halal, melembabkan, SPF 25, Vitamin E, tidak berwarna dan bisa membuat tersenyum? Wah! Ini sesuai kriteria pelembab yang saya idamkan! Langsung, deh, comot satu dan bawa ke Mbak Kasir yang ramah. 

Lalu, ada juga label HALAL dari MUI. Makin yakin sama produk yang satu ini. Nggak was-was kalau mengandung komposisi yang nggak sesuai syariat agama Islam. 
Sumber gambar : Koleksi Pribadi (editing)
Kehalalan Khalisa buat kita nggak was-was


Setelah pakai Khalisa Lip Balm, perubahan pada bibir saya berangsur-angsur tampak. Hanya sekitar dua minggu, alhamdulillah, bibir saya sudah mengalami perubahan signifikan. Si putih lenyap plus makin merah dan lembab. 

Perawatan dari dalam, seperti mengoleskan madu, makan banyak buah dan memperbanyak minum air putih itu perlu. Ditambah perawatan dari luar dengan menggunakan Khalisa Lip Balm, usaha perawatan bibir jadi makin maksimal. 

Sumber gambar : Koleksi Pribadi (editing)
Nggak bisa jauh-jauh dari Khalisa. Selalu siap sedia di dalam tas bareng buku, pena, tissue dan cermin.

Kemudian, saya pun semakin tertarik pada Khalisa. Tak kenal maka tak sayang. Saya sambangi website, akun facebook, twitter dan instagram Khalisa. Ternyata, Khalisa juga rajin mem-post tips cantik dan motivasi di timeline-nya. Klik like dan follow, yes!

Melalui akun media sosial Khalisa, saya jadi tahu kalau si Kecil Serba Manfaat ini punya empat varian, yaitu :
1.  Khalisa Lip Care Red Cherry Peppermint
Pelembab bibir dengan warna merah lembut yang natural serta aroma Cherry Peppermint segar yang akan membuatmu tersenyum. 
Saran : Varian Khalisa ini cocok buat kamu yang punya bibir dengan warna agak gelap.   
 
2.  Khalisa Lip Care Peach Caramel
Pelembab bibir dengan warna salem yang natural dan aroma Caramel manis yang membuatmu tersenyum.
Saran : Buat yang pengen tampil natural pakai varian ini, deh.
 
3.  Khalisa Lip Care Pink Bubble Gum
Pelembab bibir dengan warna pink lembut yang natural. Dengan aroma Bubble Gum yang akan membuatmu tersenyum.
Saran : Mau bibir nge-pink alami? Varian ini istimewa buat kamu. 

4.  Khalisa Lip Care Pure Vanilla Honey
Pelembab bibir tanpa warna sehingga dapat digunakan kapan saja. Dengan aroma Vanilla Honey yang akan membuatmu tersenyum.
Saran : Varian ini cocok Sahabat pakai ke mana saja. Tanpa warna. Dipakai buat main, oke-oke aja.
 
Takdir membawa saya berkenalan terlebih dahulu dengan Khalisa Lip Care Pure Vanilla Honey. Perkenalan ini, membawa saya untuk mengenali keluarganya, deh.  

Khalisa Lip Care bisa Sahabat dapatkan di Hypermart, Giant, Guardian, dan Watsons dengan harga Rp 20.000 saja.

Mengingat distribusi Khalisa masih di toko-toko besar, semoga dalam waktu mendatang sudah tersedia di apotik dan toko kecil, ya. Kan lebih dekat lebih baik. ;) 

Khalisa banyak manfaatnya, kan? Sebagai masukan buat Khalisa, putaran lip balm-nya diketatin lagi, ya. Soalnya, putaran lip balm Vanilla saya udah loss. Hiks. Jadi, setiap habis pakai dan mau masukin lip balm lagi, kudu dibantu pakai jari. Khawatir ada kuman yang nempel di Khalisa-nya. 

Nah, setelah ketemu keluarga Khalisa dari PT. Rohto Laboratories Indonesia ini, masalah bibir yang saya alami jadi raib. Kamu juga perlu pakai produk yang satu ini, Sahabat. Selain mengobati, Khalisa juga bisa mencegah. Bibir kita jadi makin sehat terawat. Jadi, jangan tunda sebelum terlambat ;) 

Kini saya bisa menebar senyuman tulus tanpa khawatir dengan si Putih yang bikin perih. Senyuman tulus datang dari hati yang tulus pula. Yuk, tebar senyum tulus bersama Khalisa Lip Balm! ^_^

Sumber gambar : Instagram Khalisa Indonesia

Love,

Cahya Jarak Cinta : Giveaway Berhadiah Empat Buku Manis

Sabtu, 05 September 2015
Cahya Jarak Cinta
Oleh Karunia Sylviany Sambas

Gubuk ini kembali riuh. Setiap sore, selepas waktu Asar. Dan aku senantiasa tak bosan ikut mengatur rehal bersama Nenek.
“Nenek ...” desisku tertahan.
Nenek menoleh sambil tersenyum. Aku tertegun. Wajah nenek bersih dan berbinar.
Aku menggeleng lemah lalu melanjutkan pekerjaanku. Murid-murid kecil nenek akan datang.
Sebentar saja, bocah-bocah kecil mulai memadati ruangan berukuran dua kali dua meter itu. Saat-saat seperti ini aku selalu menyebut gubuk ini dengan nama gubuk kumpul bocah cahya.
Meski agak berisik, aku senang. Gubuk ini seperti bercahaya. Sinar-sinar memancar melalui celah-celahnya. Ah, nenek. Aku sungguh terpukau pada lakumu.
Rehal-rehal yang kutata tadi sudah ada pemiliknya masing-masing. Malah ada beberapa yang harus antri. Untuk sementara, mereka memangku kitab. Kebanyakan masih tahap iqra’. 
Sumber gambar : http://statis.dakwatuna.com/wp-content/uploads/al-quran-dan-iptek.jpg

Aku ikut membantu nenek. Sesekali kurik beliau. Nenek sedang membimbing seorang bocah. Dengan sabar ia membimbingnya. Kuperkirakan bocah itu berusia empat tahun.
“Wahyu.” Kusebut nama anak itu. Ia menoleh dan menatapku. Nenek sudah selesai mengajarnya. Saat ini, ia sedang mengulang bacaan.
“Sini Kakak ajarin,” tawarku.
Wahyu menyodorkan iqra’nya. Pelan namun pasti ia mulai mengeja huruf.
“Wahyu rajin, ya, ngajinya,” ucapku ketika Wahyu pamit.
Langit jingga mulai merona di arah barat.
Wahyu mengangguk mantap. “Wahyu mau kasih mahkota cahaya buat Bunda,” katanya polos.
“Insya Allah,” kata Nenek sambil mengelus kepala Wahyu.
Sumber gambar : http://amiruddinthamrin.com/wp-content/uploads/2014/03/al-quran-kalam-allah.jpg

Aku tersentak. Ada yang menghangat di pelupuk mata. Usiaku tentu sudah lebih dewasa dari Wahyu, tapi ... pernahkah aku berpikir seperti bocah empat tahun itu. Aku sungguh malu karena tertampar ucapan polosnya.
 “Bunda Wahyu sudah tiada. Wahyu piatu sejak lahir,” ucap Nenek.
Meski Wahyu dan bundanya terpisah ruang dan waktu, tapi jarak cinta itu tetap terhubung. Terangkai manis dari bumi menuju langit. Harusnya aku juga begitu, kan.
“Bunda ... Ayah ... aku merindukan kalian,” bisikku dalam lantunan doa. (***)



Tulisan ini diikutkan dalam GA yang diadakan kaylamubara.blogspot.com bekerja sama dengan LovRinz Publishing

#Giveaway Blessful August Giveaways by indahnuria.com

Senin, 31 Agustus 2015
Berkah : Bersyukur, Maka Bertambah
Assalamu’alaykum wr wb
Yuk, kenalan dulu dengan si Berkah. Menurut KBBI, berkah adalah karunia Tuhan yang mendatangkan kebaikan bagi kehidupan manusia; berkat. Lalu, berkah terindah seperti apa  yang pernah saya dapat?  
Jreng ... jreng ...  
Dimulai sejak awal tahun ini saya, ya. Lulus dengan sukses dari PTN adalah berkah terindah di awal tahun 2015. Gelar Sarjana Sains Terapan berhasil disandang. Kuliah dalam jangka waktu sesingkat mungkin kudu berpacu dengan setumpuk (baca : segunung) tugas, kan? Humph! Kalo nggak kuat-kuat banget bisa ambruk nih badan. Ke sana ke mari membawa alamat jreng ... jreng mencari dosen buat konsul, ngelarin tugas harian, KTI, dan bertumpuk-tumpuk tugas yang lain. Akhirnya, toga berhasil dipakai di hari istimewa. Bareng sama teman seangkatan. Duh, semua lelah langsung lenyap rasanya. 
Berkah lanjutan ... 
Cerita berkahnya flasback, ya ^_^ 
Tanggal 10 Agustus 2015 adalah hari pertama saya ikutan kelas menulis cerita anak online, Merah Jambu Anak 5. Kelas ini diasuh oleh Bunda Nurhayati Pujiastuti. Keinginan ikutan kelas sudah lama sekali. Sudah sejak woro-woro kelas online disuarakan. Dari mulai gratis hingga berbayar. Sewaktu masih gratis, saya belum beruntung. Sudah memenuhi persyaratan, tapi nggak lolos seleksi. Hiks! Gagal ikutan. T_T Kemudian kelas berbayar diadakan. Sayangnya, saya belum punya penghasilan. Minta orang tua buat ngebiayain? Ih! Kayaknya kurang etis, ya. Mama dan Papa pasti punya pos-pos pengeluaran lain daripada sekadar membiayai kelas online saya, kan?  

Kelas Menulis Online Cerpen Anak
Lama, sibuk cari cara supaya bisa ikut kelas. Dapat penghasilan tujuan utama. Kirim tulisan ke media lokal dan nasional. Ke lokal, alhamdulillah berbuah manis. Ada beberapa yang berhasil tayang. Berubah dari sekadar tulisan di hitam putih microsoft word menjadi cantik dan diberi ilustrasi kece. ^^ Kan lokal, ya, honornya agak-agak gimana gitu. Maklumin aja. Harus diambil sendiri ke kantor redaksi. Jarak ke kantor redaksi lumayan, bo. Lima jam perjalanan belum naik angkotnya. Jalan satu-satunya, ya, minta tolong teman. Namanya minta tolong, ya, bo tau diri lah, ya. Kasi uang capek bin uang jalan gitu :D Yah, honornya berkurang, dong! Tenang, rezeki mah udah diatur Allah SWT! 
Lanjut, dapatlah segitu-gitunya. Ah, belum nyampe buat ikutan kelas. Usahanya lanjut, dong. Dalam berusaha kudu berdoa juga. Ora et labora! Akhirnya, Allah SWT menunjukkan kuasa. Jelang magrib suatu ketika, saya sempetin lihat smartphone, eh ada bbm dari salah seorang teman SMA. Katanya, dia mau ke luar kota. Dan mau nggak mau harus ninggalin anak didiknya.  
“Mau ngajar les private anak SMP, Ukh?” tanyanya via bbm. 
Sempat berpikir agak lama sebelum menjawab ya/tidak. Karena kan sudah sekitar tujuh tahun yang lalu saya pegang buku sekolahan :D Setelah diskusi dengan diri sendiri, tanya Mama, dan saudara sebangsa setanah air, keputusan Iyes didapat. Mulailah saya yang lulusan akademi kebidanan menjelma pengajar gadungan. Fiuh! Alhamdulillah semuanya berjalan lancar. Si adek yang belajar cepat nangkep cuap-cuap saya. Semoga bermanfaat, ya, Dek. 
Gaji pertama? Oh! Alhamdulillah. Awalnya sempat H2C. Minimal setengah juta! #ngarep. Dapetnya mendekati setengah juta! Kalo mimpi harus tinggi. Kalaupun harus jatuh (baca : nggak tercapai) kan dekat juga dengan yang diimpiin :D Tiga bulan berlalu. Alhamdulillah nggak buat malu! Bulan Agustus 2015 ini, horeee ... saya bisa ikut kelas!     
Ini sudah memasuki minggu keempat. Alhamdulillah, lima cerpen anak sudah berhasil saya selesaikan di kelas. Ada kepuasan, tentu saja. Dulu-dulunya seringkali tulisan saya hanya selesai sebagai draft. Kini, sudah maksimal bin optimal. Beberapa rahasia kirim tulisan sudah saya dapat. Mau tahu? Sini tah saya bisikin! :D Tinggal kirim dan berdoa yang kenceng!
Lanjut ...  
Berkah tulisan humor yang bermunculan di media! Jujur, saya rasa saya kurang humoris. Terutama dalam nulis. Kalo ngomong, ya, kadang seleboran juga. Kalo udah akrab sih. Klo belum kenal? Ya, bakal dicap pendiam kelas kakap! :D
Pertama, dimuat di Harian Analisa Medan. Setelah sembilan bulan ibu mengandung. Eh. kok malah nyanyi? Ya, sembilan bulan di e-mail redaksi maksudnya. ^^ Humor saya akhirnya tayang. Bisa dibaca di sini  
Kedua, hari ini, tepat tanggal 31 Agustus 2015, saat hape yang tadinya mati dihidupin, ada bunyi triiing. Sebuah e-mail masuk dari Mbak Ratri. Sempat deg-degan buka e-mail ini sampai akhirnya ... Taraa .....


Dear Ibu Karunia Sylviany Sambas,
Selamat! bahwa tulisan humor Ibu yang berjudul Teman Les Private telah masuk Reader's Digest Indonesia edisi September 2015


Ketahuan banget ya jarang dikirimin e-mail. Hahaha. Akhirnya saya bisa nyusul jejak manteman yang keren! Trims banyak-banyak buat contekan tips en trik kepenulisan di blog. Karena itu, saya senang ngeblog dan tayangin karya yang berhasil dimuat di media. Terselip harapan agar yang baca juga memperoleh manfaat. Dari kita kembali ke kita gitu loh! ^^
Agustus ini juga sukses memecah rekor terbanyak versi saya kirim ke media. Semoga bisa panen melimpah ruah di bulan-bulan mendatang. Aamiin. 
Ohya, syukur selanjutnya adalah email masuk hari ini bertepatan dengan hari ulang tahun adik saya, Muhammad Azizi Mursali Sambas, yang ke 19 tahun. Dan ia baru masuk kuliah di UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Di antara kita, kau yang pertama jejakkan kaki di sana. Ah, kok mendadak mellow? :D
Lagi ... lagi dan tak akan pernah henti. Bukankan di QS. Ar Rahman wujud kesyukuran itu berkali-kali ditanyakan. Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan? 
Senantiasa berusaha dan berdoa. Karena mimpi itu buat si pemimpi. Dan nyata itu buat si pemimpi yang berani beraksi! ^^ 
Insya Allah berkah di Agustus 2015 ini akan terus berlanjut. Untuk kamu juga. Kamu? Iya, kamu yang baca :D Bersyukur, maka bertambah! Insya Allah.  

Wassalamu’alaykum wr wb