Tampilkan postingan dengan label Harian Analisa Medan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Harian Analisa Medan. Tampilkan semua postingan

Cara Mengirim Cerpen Anak ke Harian Analisa Medan

Sabtu, 19 September 2015
Assalamu'alaikum, Sahabat Khansa.

Weekend begini sungguh asyik sekali bila menjelajahi dunia imajinasi, kan?

Nah, buat Sahabat Khansa yang hobi/ingin menulis cerita anak plus ingin men-transfer pengetahuan ke dunia indah mereka, rubrik Taman Riang Harian Analisa Medan edisi Minggu bisa menjadi salah satu tujuan pengiriman.


Ketentuan pengiriman :
1. Tulis naskah cerita anak, boleh fabel, sepanjang 2-3 halaman A4 spasi double. Boleh juga sekitar 500-an kata
2. Sertakan nama, alamat dan nomor handphone
3. Kirim ke alamat e-mail : online@analisadaily.com
4. Sependek yang saya ketahui, honor pemuatan cernak (cerita anak) harus diambil ke kantor redaksi Harian Analisa Medan. Boleh juga meminta bantuan teman yang berdomisili di Medan untuk mengambilkan honor. Dengan syarat menyertakan surat kuasa.
5. Besarnya honor, saya kurang tahu sekarang. Terakhir pengambilan, alhamdulillah honornya cukup buat nambah koleksi 1-2 buku baru :)

Kalau ada yang ingin ditanyakan, boleh inboks saya melalui akun facebook atau kirim pesan melalui formulir kontak di blog ini.

Selamat mengirim dan semoga sukses, ya!

Humor dimuat di Harian Analisa Medan edisi Minggu, 09 Agustus 2015

Rabu, 12 Agustus 2015
Assalamu'alaykum wr wb, Sahabat Khansa.
Kali ini judulnya agak fenomenal, ya :D
Apa itu? Let's cek it!

NGE-HUMOR DAPAT HONOR??? 

Mau dong, ya? Siapa yang nolak? Hehehe.
Nah, buat Sahabat Khansa yang jago nge-humor, ayo ayo jangan simpan cerita lucunya sendiri dong. Berbagi itu indah. Lihat si ijo lebih indah, kan? #lebay :D

Rubrik Taman Remaja Pelajar yang setia menyapa di setiap Hari Minggu adalah salah satu wadah buat nge-humor dapat honor ^_^

Caranya, tuliskan humor Sahabat Khansa. Singkat aja tapi efek humornya diramu selucu-lucunya kamu, ya! :D Lalu, kirim humor kamu itu via e-mail ke alamat : online@analisadaily.com

Alhamdulillah. Ini humor saya yang berhasil dimuat di Harian Analisa Medan edisi Minggu, 09 Agustus 2015. Dikirim tanggal 13 November 2014 dimuat 09 Agustus 2015 : D Masa antrinya persis 9 bulan Ibunda mengandung, ya.

Kalo menurut kamu "Kurang lucu nih. Kok dimuat sih?"
Kan humornya selucu-lucunya saya. Nggak apa-apa dong, ya. Hehehe. #pembelaandiri

FUN TO GET FUND??? LET'S GO!

Humor dimuat di Harian Analisa Medan edisi Minggu, 09 Agustus 2015

Cerpen Anak Buku Diary Ramadan Dilla dimuat di Harian Analisa Medan edisi Minggu, 05 Juli 2015

Senin, 06 Juli 2015
Assalamu'alaikum wr wb, Sahabat Khansa. 

Jumpa lagi di edisi sekian-sekian. Hari ini bertepatan dengan tanggal 19 Ramadan 1436 H. Alhamdulillah, kita masih diberi kesehatan hingga detik ini. Selamat menunaikan ibadah puasa, ya. 

Melati & Kalung Putri di Analisa Medan

Kamis, 02 Oktober 2014

Cerpen Anak Melati dan Kalung untuk Sang Putri dimuat di Harian Analisa Medan  

Assalamu'alaikum, Sahabat Khansa. 

File naskah ini sempat menghilang beberapa waktu yang lalu. Hiks! Sedih sekali rasanya, sahabat. Cernak ini adalah pembuka langkah saya di media massa. Aih, senangnya saat adinda Zakiyah Rizki Sihombing mengabari pemuatan cernak ini. Big hug, adik :)

Alhamdulillah, naskah ini saya temukan dalam keadaan sehat dalam leppy yang "sudah lama tertidur" FYI, naskah ini menghilang karena terhapus dari file keluar email saat kegiatan "bersih-bersih email" berlangsung.

Selamat membaca, sahabat bloger ^_^

dimuat di Harian Analisa Medan

Melati dan Kalung untuk Sang Putri
Oleh: Karunia Sylviany Sambas

Minggu depan sekolah Melati akan mengadakan pentas seni untuk memeriahkan acara perpisahan murid-murid kelas VI. Kelas Melati ingin mempersembahkan sebuah drama pertunjukan. Drama ini berjudul “Putri Kerajaan Bunga”. Melati sangat senang. Ini pertama kalinya ia ikut dalam sebuah pertunjukan drama. Tapi dia juga sedih. Ia tak mempunyai cukup uang untuk membantu acara itu. Untungnya, ia memiliki teman yang baik.

“Nggak apa-apa kok Melati.” Teman-temannya mencoba menghibur.

Namun Melati tetap merasa tak enak hati. Tanpa disadari ia sering termenung di kamarnya. Perubahan sikap Melati ini diketahui oleh Bunda.

“Melati sayang, kok cemberut sih?” Bunda mengelus kepala putrinya. “Anak manis nggak boleh begitu. Kalau ada masalah, cerita sama Bunda ya.” Kata-kata Bunda berhasil membuat Melati tersenyum.

Sambil memilin ujung bajunya, Melati menyandarkan kepala di bahu Bunda.

“Bunda, besok kelas Melati mau ngadain pertunjukan drama. Judulnya “Putri Kerajaan Bunga”. Teman-teman Melati ikut nyumbang buat biaya perlengkapannya. Hmm ….” Melati tak melanjutkan kata-katanya. Ia memandang wajah Bunda dengan tatapan khawatir. Ia takut menyinggung perasaan Bunda.

Bunda mengerti perasaan Melati. Kios kue milik mereka sedang sepi pembeli. Hasil penjualan kue hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Ayah Melati sudah meninggal ketika ia masih berusia lima tahun.

Tak lama Bunda tersenyum.

“Yuk, ikut Bunda!”

“Mau kemana, Bun?” Melati kebingungan. Bunda meraih tangannya dan langsung membawanya menuju taman di samping rumah.

“Bunda?” panggil Melati sekali lagi. Namun Bunda tidak menjawab. Ketika sampai di bangku taman, barulah Bunda menghentikan langkahnya.

“Melati duduk di sini dulu ya.” Bunda mengambil seutas tali yang ada di sudut taman. Kemudian Bunda berjongkok di bawah pohon melati dan sibuk memunguti bunga-bunga cantik itu.

Melati masih tampak kebingungan.

“Yuk, bantu Bunda.”

Walau belum mengerti, Melati ikut membantu Bunda. Setelah terkumpul kira-kira dua puluh kembang, Bunda mengajak Melati duduk kembali.

Jari-jari Bunda terlihat lincah merangkai bunga melati pada seutas tali itu. Tak lama ….

“Taraaa ….” Bunda tertawa riang. “Bagaimana? Cantik kan?”

Bola mata Melati tak mampu berkedip. Bunda merangkai bunga melati itu dan membuatnya tampak seperti gelang.

“Tapi kok ukurannya besar ya, Bun?”

Bunda menjawab dengan senyuman.

“Ini bukan gelang sayang, tapi ….” Bunda meletakkan lingkaran bunga itu di atas kepala putrinya.

“Ini adalah mahkota Putri Kerajaan Bunga. Kamu bisa memberikan sebagai penghias kepala sang putri.”

Wah! Melati benar-benar tak percaya. Akhirnya ia dapat mempersembahkan sesuatu untuk drama pertunjukan sekolahnya.

“Ternyata yang cantik-cantik nggak mesti mahal ya, Bun,” ucapnya riang. “Terima kasih Bunda.” Melati memeluk Bunda erat.

Sore Indah Musala Hikmah Analisa Medan

Senin, 21 Juli 2014

Cerpen Anak Sore yang Indah di Musholla Hikmah dimuat di Harian Analisa Medan edisi Minggu, 20 Juli 2014

Assalamu'alaikum, Sahabat Khansa. 

Alhamdulillah, cerpen anak karya saya kembali menghiasi rubrik Taman Riang Harian Analisa Minggu. Kali ini bertajuk #Ramadan.

Cerpen anak ini sudah mengalami proses editing dari sang editor ^_^ Kata tak baku yang saya gunakan pada kata shalat dan musholla diedit menjadi salat dan musala. Jadi makin semangat nih kirim-kirim lagi.

Yang saya posting di bawah ini adalah versi aslinya.

dimuat di Harian Analisa Medan edisi Minggu, 20 Juli 2014

Sore yang Indah di Musholla Hikmah
Oleh: Karunia Sylviany Sambas

Yaya, gadis manis yang masih duduk di bangku kelas dua itu tampak lesu. Kerudung merah mudanya terlihat sedikit miring. Garis tengahnya telah berpindah ke kanan.

“Ya, kenapa cemberut gitu?” Mayra, teman baru di kelasnya, menyapanya dengan raut wajah ceria.

“Hm, kamu tau, Ra. Kemarin Yaya gagal puasa penuh. Yaya kalah. Padahal Yaya udah janji sama abi dan umi mau puasa penuh ramadan tahun ini. Yaya malu, Ra.”
Yaya melipat kedua tangannya di bawah dagu.

Mayra mencoba menenangkan perasaan Yaya. Gadis kecil itu duduk di samping Yaya.

“Mengapa kamu sampai bisa membatalkan puasanya, Ya?” tanya Mayra santun.

“Begini Ra, sambil menunggu buka, Yaya main ayunan bersama Fara di taman. Sepulang dari sana, Yaya nggak kuat lagi. Haus sekali.” Yaya mengakui kesalahannya.

“Sebenarnya salah Yaya juga sih. Sepulang shalat tarawih, Yaya baca komik sampai larut malam. Waktu itu kan abi dan umi lagi nggak di rumah. Yaya dan Kak Arman bangun waktu udah selesai azan subuh. Mas Arman kuat puasa sampai magrib. Yaya nggak.” Air mata tampak mulai menggenang di pelupuk matanya.

Mayra mendengarkan cerita Yaya dengan sabar.

“Jangan sedih, dong, Ya. Yuk, ikut. Mayra mau nunjukin sesuatu sama Yaya.”

Tanpa sempat bertanya lebih banyak, Mayra sudah menarik lengan Yaya dan membawanya menuju suatu tempat.

“Loh, kok ke arah Musholla Hikmah? Bukannya waktu buka masih lama, Ra? Kamu mau ikutan buka di sana ya?” Yaya tampak bingung. Biasanya, banyak anak seusia mereka datang ke musholla untuk menikmati hidangan berbuka puasa yang diantar oleh para warga.

Mayra menghentikan langkahnya sejenak tetapi ia diam saja. Kemudian ia menoleh dan tersenyum sambil memperbaiki letak kerudung Yaya.

Sesampainya di Musholla Hikmah, kedua gadis kecil itu duduk di teras. Di dalam musholla, beberapa anak seusia mereka tampak duduk membentuk lingkaran. Ada seorang lelaki dewasa yang duduk di antaranya.

“Yaya tau nggak, teman-teman kita yang sedang berpuasa mengisi kesibukan menjelang berbuka dengan tadarusan, seperti yang kita lihat di dalam musholla ini. Selain waktu berbuka menjadi tidak terasa, kita juga dapat pahala lho.”

Yaya terdiam. Gadis kecil itu menunduk. Jemarinya memainkan ujung kerudung merah mudanya.

“Yaya salah. Terima kasih ya, Mayra udah mau ajak Yaya ke sini. Tapi ... apa abang itu masih mau menerima murid ngaji?” tanya Yaya polos.

“Tentu saja. Bang Andi itu kakak Mayra. Ia sangat senang bila ada yang mau mengaji bersama. Yuk, kita masuk.”

Yaya bergerak lincah mengikuti langkah Mayra di depannya. Sebuah senyum manis kembali menghiasi wajah gadis kecil itu. Ia merasa beruntung memiliki teman baru yang baik seperti Mayra. (***)

Rambut Indah Meni dimuat Analisa Medan

Rabu, 23 April 2014
Assalamu'alaikum, Sahabat Khansa.

Cerpen Anak Rambut Indah Meni dimuat di Harian Analisa Medan edisi Minggu, 27 Oktober 2013

dimuat di Harian Analisa Medan edisi Minggu, 27 Oktober 2013

Rambut Indah Meni
Oleh: Karunia Sylviany Sambas

Meni memiliki rambut panjang yang indah. Mamanya memang sangat telaten merawat rambut putrinya. Meni sangat senang. Mama sering membelikan pita-pita lucu untuk menghias rambutnya.

Hari ini ada jadwal piket di kelas. Meni berangkat agak pagi karena harus membersihkan kelas.

“Selamat Pagi, Mona.” Ia menyapa Mona yang sudah terlebih dahulu tiba di kelas.

“Rambutmu makin cantik aja, ya Meni.” Celetuk Mona yang mengagumi rambut Meni. “Sayang, rambut pendekku belum panjang sampai hari ini.” Gadis kecil itu memandang rambutnya dengan sedih.

“Jangan sedih Mon, sebentar lagi juga panjang, kok.” Meni mencoba menghibur. Mona menggangguk. Kemudian ia membantu Meni membersihkan kelas.

Meni dan Mona berteman akrab. Mona adalah teman yang baik dan pintar. Tak jarang mereka belajar bersama. Meni lemah di matematika. Mona sering membantu Meni memahami pelajaran yang kurang dimengertinya. Meni mengajak Mona ke rumahnya. Mama Meni membuatkan kue-kue yang enak.

Suatu hari kelas 4B kedatangan seorang murid baru. Meyriska namanya. Siswi pindahan dari luar kota. Ia juga memiliki rambut panjang. Namun, tak seindah rambut Meni. Ia sangat iri melihat rambut Meni. Pernah suatu kali ia sengaja meletakkan kumbang di rambut Meni. Meni menjerit-jerit ketakutan. Rambut panjangnya diacak-acak hingga berantakan. Mona membantu melepaskan cengkeraman kaki kumbang yang melekat di rambut Meni.

“Rambutnya pasti rusak,” pikirnya.

Esoknya, Meni kembali ke sekolah dengan riang. Berkat mama, rambut indahnya kembali. Meyriska cemberut melihatnya. Kemudian muncul ide buruk dipikirannya. Ditempelkannya sisa permen karet di sandaran kursi Meni saat jam istirahat. Meni tak menyadarinya. Saat jam pulang sekolah tiba, rambut Meni tak dapat dilepas dari bangku. Ujungnya melekat pada permen karet. Mona membantu Meni melepaskannya. Sesampainya di rumah, mama sangat terkejut. Kali ini mau tidak mau rambut Meni harus dipotong. Meni sangat sedih.

Kini rambut Meni tinggal sebahu. Meyriska tersenyum puas. Tak ada lagi yang menjadi saingannya. Meni memandang rambut pendeknya. Ia terlihat sedih.

Sepulang sekolah, Meyriska mengayuh sepedanya dengan gembira. Saking senangnya ia tidak melihat ada batu kecil di persimpangan jalan. Sepeda oleng menimpa tubuhnya.

“Aduh!” Ia mengerang kesakitan.

Meni dan Mona yang kebetulan pulang belakangan hari itu melihatnya. Mereka menolong Meyriska.

“Ayo, ke rumahku Mey. Nggak jauh dari sini kok. Biar luka kamu diobati mama.”
“Tapi ....” Meyriska agak ragu.

“Nggak apa-apa kok. Yuk!” Meni merangkul Meyriska. Mona membawakan sepeda.

Mama Meni mengobati luka di lututnya. Meyriska merasa tidak enak hati. Timbul keinginan untuk mengakui kesalahannya, tapi ia belum berani.

Keesokan paginya, Meyriska mengakui kesalahannya. Ia meminta maaf pada Meni. Meni agak terkejut, tapi tak lama kemudian ia tersenyum.

“Kamu mau maafin aku, Meni?” tanya Meyriska takut-takut.

“Tentu saja!” Meni menyambut uluran tangan Meyriska.

“Cieee ... ada apa nih? tanya Mona yang muncul dari kejauhan.

“Sini .. sini Mona. Kita punya teman baru nih.” Meni merangkul Mona dan Meyriska. Kini mereka bertiga berteman akrab.