Tampilkan postingan dengan label Kelas Merah Jambu Anak 5. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kelas Merah Jambu Anak 5. Tampilkan semua postingan

Tema Nusantara Bertutur Agustus 2017

Rabu, 02 Agustus 2017
Assalamu'alaikum, Sahabat Khansa ^_^

Alhamdulillah. Efek ikutan kelas ngeblog gratis bersama Mbak Naqiyyah Syam dan bergabung sebagai anggota tim Content Writers bersama Mbak Hairun Nisa berhasil mengembalikan mood positif untuk kembali merangkai kata. 

Insya Allah di bulan kemerdekaan RI ini saya akan kembali menyemarakkan dunia yang telah lama saya abaikan. Duh, maafkan, ya. Berbagai kata-kata yang keluar dari bibir hanyalah alasan untuk sebuah kata "malas" :'(


Baiklah, saya akan kembali padamu. Eh! Kembali pada dunia literasi. Saya awali dengan NuBi, ya. Kenapa dengan NuBi? Karena NuBi lah yang pertama kali membesarkan nama saya. Saya bahkan sempat diberi gelar Ratu NuBi. Hihihi. Karena karya saya sempat beberapa kali tayang di salah satu media nasional terkemuka di negeri ini. Kalau sekarang sih, Raja dan Ratu NuBi udah banyak, ya. 

Oke, deh, ini dia tema NuBi untuk bulan Agustus 2017. Jangan sampai ketinggalan. Bagi yang mau sharing seputar dunia literasi, monggo, ya. Saya akan senang hati menerima! 

Nilai karakter yang akan NuBi ambil untuk tema dongeng bulan Agustus ini yaitu sikap "Kenegarawanan" Karya diterima paling lambat tanggal 20 Agustus 2017. 

Bagi yang belum mengetahui ketentuan pengiriman naskah, silahkan simak di bawah ini ya.
1. Naskah ditulis dalam Bahasa Indonesia
2. Naskah harus asli merupakan karya sendiri dan belum pernah diterbitkan di media cetak apapun sebelumnya
3. Naskah dongeng maksimal 2500 karakter (no space)
font Times New Roman, 12 pt, spasi 1,5
4. Boleh mengirimkan lebih dari satu naskah
5. Melampirkan data diri lengkap penulis (Nama, Alamat, No. Telp/HP, No. Rekening)
Dikirim ke email: nusantarabertutur@gmail.com dengan hashtag #GerakanSumbangDongeng dan tema dongengnya

Sudah cukup jelas? Atau masih ada yang ingin didiskusikan? ^_^ Yuk, ambil pena dan langsung aksi!

Wassalamu'alaikum,

Karunia Sylviany Sambas 



  Wassalamu'alaikum wr, wb




Karunia Sylviany Sambas

Cara Mengirim Cerpen Anak ke Rubrik Permata (Majalah Ummi)

Sabtu, 30 Juli 2016
Assalamu'alaykum, Sahabat Khansa ^_^

Alhamdulillah, cerpen anak saya berhasil dimuat di Majalah Ummi edisi Februari lalu. Oleh karena itu, dalam kesempatan kali ini saya akan membagikan pengalaman, termasuk ketentuan dan syarat pengiriman, untuk teman-teman yang juga ingin mengirim naskah cerpen anak ke majalah wanita islami nan keren ini ;)

1. Tulis cerpen anak sepanjang maksimal 5500 karakter, Times New Roman (TNR) 12 pt dan 1,5 spasi
3. Tema sederhana, bahasa mudah dipahami dan berhikmah, boleh cerita biasa, imajinasi (misalnya tokohnya debu/awan/angin/pohon) atau fabel
4. Kirim naskah ke alamat email : kru_ummi@yahoo.com atau ke Redaksi Ummi, Jl. Mede No. 42A Utan Kayu, Jakarta Timur

Sumber info : Facebook Majalah Ummi 

Pengalaman saya :

Naskah cerpen anak "Aksi Tiki si Pemberani'' (bisa dibaca di sini) saya kirim pada tanggal 18 September 2015. Kemudian naskah mendapatkan konfirmasi akan dimuat pada tanggal 23 Oktober 2015. Alhamdulillah ^_^


Assalamu'alaikum wr wb

Terimakasih atas kiriman cerpen anak berjudul "Aksi Tiki Si Pemberani". Kami akan memuatnya untuk Permata (Majalah Ummi) edisi Februari 2016. Mohon konfirmasi atas kesediaannya.

Wassalamu'alaikum wr wb

--
Redaksi Ummi
Jl. Mede no. 42 Utan Kayu Jakarta Timur 13120
Telp. (021) 8193242 ext 242
Fax. (021) 8580569


Walaupun harus menunggu selama empat bulan, nggak masalah lha, ya. Kan udah ada konfirmasi kepastian. Hati sudah plong! Sstt, selain transferan honor penulis juga dapat bukter (bukti terbit), lho! ;)



Tunggu, apa lagi, Sahabat!
Yuks, tulis, kirim naskah ke Majalah Ummi!
Sekarang!


Wassalamu'alaykum 



Karunia Sylviany Sambas

[CERPEN ANAK] Aksi Tiki si Pemberani dimuat di Rubrik Permata (Majalah Ummi) edisi Februari 2016

Rabu, 27 Juli 2016


Aksi Tiki si Pemberani
Oleh Karunia Sylviany Sambas

Tiki Itik dan dua ekor saudaranya tinggal di sebuah kandang. Kandang itu cukup nyaman untuk mereka bertiga. Tiap pagi dan sore si pemilik kandang selalu menuangkan makanan untuk mereka ke dalam sebuah baki. Tiki dan kedua saudaranya hanya perlu mengirimkan sebuah ‘alarm’ bila sang Tuan terlambat mengirim makanan. Caranya, dengan mematuk-matuk pintu kandang yang terbuat dari seng. Begitu mendengar suara ‘alarm’ itu, si pemilik kandang akan segera teringat pada tugasnya.

#GerakanSumbangDongeng [Cerpen Anak] Menghargai Jasa Pahlawan dimuat di Kompas Klasika Nusantara Bertutur edisi Minggu, 08 November 2015

Jumat, 13 November 2015
Assalamu'alaykum, Sahabat Khansa

Alhamdulillah. Tulisan saya kembali diberi kesempatan oleh Allah SWT untuk tayang di Nusantara Bertutur Harian Umum Kompas. 

Semoga ikhtiar Sahabat Khansa untuk tayang di rubrik ini akan segera menjadi nyata, ya. Aamiin. \:D/

Cerpen Anak Kisah Cepi Capung dimuat di Harian Lampung Post edisi Minggu, 25 Oktober 2015

Kamis, 29 Oktober 2015




Kisah Cepi Capung
Oleh Karunia Sylviany Sambas

Cepi Capung terbang dengan riang.
Syuutt ... syuutt ...
Ia mengitari pepohonan kecil. Sesekali berhenti di atas ranting.
"Hei, Cepi! Tolong ajarkan aku terbang yang baik. Aku selalu menabrak sesuatu," keluh Pungi, si Capung Kecil.
Cepi menoleh lalu mendengus.
"Mengajarimu? Tak usah, ya! Aku tak akan mengajari sainganku. Akulah sang pemenang kontes!"
Cepi tersenyum sinis lalu kembali beratraksi di angkasa.
Senyumnya mengembang lebih lebar.
Pungi hanya terdiam melihat sambutan Cepi. Pantas saja tak ada teman yang mau dekat dengannya.
Awalnya, teman-teman sudah melarang Pungi mendekati Cepi. Tapi, Pungi tak ingin mendengar ucapan itu. Ia tetap meminta bantuan Cepi. Cepi itu terkenal sebagai penerbang ulung di negeri mereka.
Kontes terbang negeri capung tinggal dua hari lagi.
Pungi makin rajin berlatih. Dia mencoba berkali-kali. Tapi tetap saja sering menabrak sesuatu.
"Mungkin aku terbang terlalu kencang." Pungi memperlambat laju terbangnya.
Tapi angin tiba-tiba bertiup agak keras.
Syuutt ... dan ... brukk!
Karena terbang terlalu pelan, angin jadi mudah mengayun tubuhnya. Pungi pun jatuh di atas daun talas. Untunglah, sayapnya tidak cedera.
"Pungi, sudahlah! Kamu bisa ikut lain kali." Cepi terbang rendah.
Pungi menggeleng. Ia tetap ingin ikut kontes terbang kali ini.
"Aku tidak boleh menyerah.”
Bangsa capung hanya hidup selama beberapa minggu. Pungi tidak mau menyia-nyiakan kesempatan.
“Masih ada waktu."
Tekad Pungi sangat kuat. Ia kembali mencoba.
“Aku harus bisa! Aku harus bisa!” ucapnya berkali-kali.
Ringi melihat usaha Pungi. Ringi adalah sahabat Pungi.
"Kamu hanya kurang fokus, Pungi," ucap Ringi.
"Coba tarik napas dalam. Kemudian pikirkan satu tujuan di depan."
Pungi terdiam sejenak. Mungkin Ringi benar. Karena bola matanya mampu melihat ke segala arah, ia sering terfokus pada beberapa nyamuk yang beterbangan. Itu sebabnya konsentrasi jadi buyar.
“Kamu hanya perlu melakukan yang terbaik. Hasil akhir itu adalah bonus dari usahamu,” kata Ringi lagi.
Ah, benar. Pungi mencoba terbang.
Tapi, hujan mulai turun rintik-rintik. Lama-lama jadi deras dan disertai angin kencang.
Pungi dan Ringi berlindung di bawah sebatang pohon.
“Tolooonggg ....”
Itu suara Cepi!
“Kita harus menolongnya! Mungkin telah terjadi sesuatu.”
“Nanti saja, Pungi! Hujan masih deras. Angin juga kencang. Sayapmu terlalu lemah,” cegah Ringi.
“Kamu bisa jatuh!” Ringi masih mencoba mencegah Pungi.
Tapi tekad Pungi sudah bulat. Dia terbang pelan di bawah daun, berusaha menghindari tetes air hujan.
Itu Cepi!
Ia tergeletak lemah di atas tanah. Sayapnya basah dan lengket ke tanah. Pungi mempercepat laju terbangnya. Olala, ia menabrak sebuah batang kecil dan ikut jatuh di dekat Cepi.
Sementara itu di dekat mereka seekor katak sedang mengintai.
Gawat! Bisa-bisa mereka jadi santapan si Katak.
Dengan segenap tenaga Pungi berusaha menarik tubuh Cepi. Tapi ... oh ternyata sayap Pungi juga basah.
Tes!
Air dari daun keladi jatuh dan menyentuh sayap Pungi. Sayapnya jadi lekat ke tanah. Pungi berusaha mengangkat sayap, tapi terasa berat sekali.
Katak terlihat semakin mendekat. Bila dia menjulurkan lidah, maka ...
Di saat genting itu, terlihat sekumpulan capung. Mereka dipimpin oleh Ringi. Beramai-ramai mereka menarik tubuh Cepi dan Pungi dari tanah basah. Syukurlah, hujan sudah reda. Bangsa capung masih sanggup terbang di bawah hujan rintik-rintik.
Cepi gagal ikut kontes. Sayapnya terluka. Sementara Pungi masih bisa ikut karena sayapnya selamat. Ia hanya perlu mengeringkannya.
Ada berita bahagia. Cepi tetap bisa ikut kontes. Ia terpilih sebagai juri.
"Karena sudah dua kali menang kontes, kamu pasti bisa menilai yang terbaik,” ujar panitia lomba.
Cepi tersenyun senang. Ia mengucapkan terima kasih pada teman-temannya. Tak lupa juga meminta maaf karena sikapnya kemarin. Bila tidak ada teman-temannya, Cepi tak bisa membayangkan saat ini ia sudah berada di dalam perut si Katak. (***) 

Silakan klik Cara Mengirim Cerpen Anak ke Harian Lampung Post Minggu untuk Sahabat Khansa yang ingin mengirim karya.

Cara Mengirim Cerpen Anak ke Harian Lampung Post Minggu

Harian Lampung Post Minggu



Assalamu’alaykum, Sahabat Khansa
Hai ... Hai ...
Kita jumpa lagi dalam edisi spesial. Cieee ... ;) 

Menurut selentingan kabar banyak yang lagi nungguin blogpost ini, ya. Hehehe.

Wait wait. Maafkan saya. Ada beberapa hal di luar kendali saya untuk cuap-cuap di sini beberapa saat yang lalu. Namun Insya Allah, apa yang saya jalani kini adalah yang terbaik. Mohon doa dari Sahabat Khansa semua, ya \:D/ 

Semoga ke(sok)sibukan ini tak mampu mengurangi produktivitas saya dalam berkarya dan berbagi dengan teman-teman di sini.

Oke, deh. Naskah Kisah Cepi Capung mulanya saya kirim pada tanggal 20 September 2015. Karena beberapa pekan belum membawa hasil yang menggembirakan :D naskah ini saya kirimkan kembali ke harian yang sama pada tanggal 16 Oktober 2015. Kesannya ngebet banget, ya. Hihihi :D Bukan begitu sebenarnya, sih. #PembelaanDiri Saya kurang strategi waktu ngirim pertama kali. Strategi apa? *tring* kedipinmata.

Intinya, kalau kita rajin pantengin karya dari Minggu ke Minggu, Insya Allah nanti strateginya akan muncul tanpa diundang. ;) Good luck, ya. 

Ini dia syarat dan ketentuan pengiriman naskah cerpen anak ke Harian Lampung Post Minggu
  1. Jumlah kata fleksibel saja. Sekitar 500-700 kata atau 3-4 halaman A4 spasi 1,5
  2. Tema cerpen anak boleh realis, fabel, dongeng atau legenda
  3. Font yang digunakan boleh Times New Roman. Boleh juga Arial
  4. Kirim naskah ke alamat e-mail : lampostminggu@yahoo.com, redaksilampost@yahoo.com, redaksi@lampungpost.co.id 
  5. Ada honor untuk karya yang dimuat 
  6. Tidak ada info bila karya dimuat. Namun jangan khawatir, ada e-paper Harian Lampung Post yang bisa di-check sekitar pukul 11.00 WIB setiap Minggu-nya. Ada juga mention-mention menggembirakan dari grup Sastra Minggu untuk setiap karya yang dimuat di media, termasuk di Harian Lampung Post
 
Ohya, sebagai tambahan referensi, silakan kunjungi blog penulis Putri Biru a.k.a Uni Naqiyyah Syam :) Ada banyak tips menulis dan hal menarik lainnya, lho! ;)

Kalau masih ada yang ingin ditanyakan, silakan kontak saya melalui akun medsos atau formulir kontak blogger yang terletak di bagian bawah blog ini. ;)

Wassalamu’alaykum,


Karunia Sylviany Sambas

Cara Mengirim Cerpen Anak ke Harian Umum Solopos

Kamis, 15 Oktober 2015
Harian Umum Solopos edisi Minggu
Assalamu’alaykum, Sahabat Khansa.

Alhamdulillah. Tulisan saya tayang perdana di media yang baru saya jajaki. Hmm, ini adalah ‘tendangan’ keempat  ke gawang redaksi Harian Umum Solopos. \:D/ Harus terus berjuang menembus gawang redaksi selanjutnya. Dan tak lupa untuk terus-menerus menebar manfaat dan selalu semangat! Semoga begitu pun dengan Sahabat Khansa! ;) @};- 

Karena itu, bila ada tulisan Sahabat Khansa yang belum kunjung dimuat di media impian, jangan berhenti untuk terus mengirim ‘tendangan’ ya. #ReminderForMeToo 

Naskah ini dikirim pada tanggal 30 September 2015 dan dimuat pada tanggal 11 Oktober 2015. ({}) Juga merupakan salah satu tugas menulis dari Kelas Merah Jambu Anak 5. Kelas ini dimentori oleh Bu Guru Nurhayati Pujiastuti dengan beranggotakan 11 orang murid. Insya Allah tulisan murid-murid Bu Nur akan terus mewarnai dunia media. Aamiin. :)

Ohya, sesuai visi dan misi #CeilehBahasanya blog Rekam Jejak Sang Pemimpi, pada blogpost edisi kali ini saya akan membagikan pengalaman ketika mengirim naskah cerpen anak ke harian keren yang satu ini.

Let’s check & recheck ;)
  1. Jumlah kata fleksibel, ya. Sekitar 500-700 kata atau 2-3 halaman A4 spasi 1,5
  2. Pakai font standar aja. Times New Roman atau Arial dengan font size 12
  3. Di akhir naskah, cantumkan nama, alamat, nomor handphone aktif, dan nomor rekening
  4. Sertakan juga scan/foto Kartu Tanda Penduduk (KTP) 
  5. Kirim naskah ke alamat e-mail : redaksi.minggu@solopos.co.id Cc ke redaksi@solopos.co.id dan redaksi@solopos.com

Kalau mau baca tulisan saya yang tayang di Harian Umum Solopos, silakan klik Cerpen Anak Gaco Engklek Rara dimuat di Harian Umum Solopos edisi Minggu, 11 Oktober 2015 

Dalam blogpost kali ini saya juga mau ngucapin terima kasih banyak kepada Mbak Artie Ahmad buat mention kabar gembira di hari Minggu pagi nan ceria juga buat foto penampakan tulisan saya. Kepada Mas Roni yang udah berkenan kirim scan. Sstt, karena kiriman Mas Roni pula tampilan tulisan ini jadi makin kece. Ohya, juga kepada Pak Sulistiyo dan Dek Semilir Asih buat info alamat e-mail Solopos. Semoga kebaikan keempatnya dibalas dengan kebaikan berlipat oleh Allah SWT. Aamiin. 
  
Selamat menulis dan mengirim tulisan, ya, Sahabat Khansa. Semoga makin banyak karya kita yang menghiasi media. Menebar manfaat sebagai bekal akhirat.

Wassalamu’alaykum.


Karunia Sylviany Sambas