Tampilkan postingan dengan label Nusantara Bertutur. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Nusantara Bertutur. Tampilkan semua postingan

Cerpen Anak Cepat Sembuh, Pahlawanku! dimuat di Nusantara Bertutur Kompas Klasika edisi Minggu, 15 November 2020

Senin, 14 Desember 2020
Assalamu'alaikum, Sahabat Khansa.

Alhamdulillah, tulisan saya bisa kembali tayang di media yang satu ini. Tema dongeng yang ditentukan adalah Pahlawan Masa Kini. Untuk ketentuan pengiriman naskah, Sahabat bisa ke mampir ke Cara Kirim Naskah Dongeng Nusantara Bertutur Kompas Klasika

dimuat di Nusantara Bertutur Kompas Klasika

Cepat Sembuh, Pahlawanku!

Oleh: Karunia Sylviany Sambas 

Pagi ini ibu sudah tampak bersiap rapi. Ibu mengajar di sebuah sekolah dasar negeri di Condongcatur, Yogyakarta. Ada yang tampak berbeda dari penampilan ibu kali ini. Ibu mengenakan masker kain dan penutup wajah terbuat dari plastik mika. 

Azi, seorang anak laki-laki yang masih duduk di bangku kelas tiga, memerhatikan gerak-gerik ibunya.

“Kata Bu Guru, kami belajarnya dari rumah saja. Mengapa Ibu tidak mengajar dari rumah juga?” tanya Azi.

Ibu sedang memasukkan sebotol kecil cairan pembersih tangan ke dalam sakunya. Ia menoleh sambil tersenyum. 

“Ibu juga mengajar dari rumah, kok. Tetapi ada yang perlu Ibu selesaikan sekarang,” sahut ibu lembut. “Azi mandi dan sarapan, ya. Sudah Ibu sediakan di dapur.”

Azi mengangguk. 

Sebenarnya Azi kasihan melihat ibu. Sejak pandemi corona terjadi dan kegiatan belajar mengajar dilakukan di rumah, Azi melihat kesibukan ibu semakin bertambah. Pagi-pagi, ibu harus berbelanja dan menyiapkan sarapan. Sepulang kerja, ibu memasak lauk-pauk siang. Ibu masih ada kelas daring di sore hari. Oleh sebab itu, ibu jadi sering terkantuk-kantuk saat menemani Azi belajar.

Kata ibu, selain mengajar daring, ia juga harus melakukan kunjungan rumah. Ibu harus mendatangi rumah murid-murid bergiliran. 

Apalagi sejak ayah bertugas di luar kota. Ibu tidak mahir mengendarai sepeda motor. Itu sebabnya ia harus naik bus atau becak menuju sekolah dan rumah murid. 

Hari ini udara cukup dingin. Hujan baru saja berhenti. Azi menunggui ibu dengan sabar. Jam sudah menunjukkan pukul setengah tiga sore ketika ibu mengucap salam.

“Ibu terjebak hujan,” jelas ibu sambil berjalan menuju kamar mandi.

Malam harinya, badan ibu mendadak meriang dan lidah ibu terasa pahit. Setelah makan malam, ibu istirahat lebih awal dibanding biasanya. 

Azi mengerjakan tugas di ruang tengah. Tugas tentang mengenal aneka tanaman obat itu mengingatkan Azi pada sesuatu. 

Esoknya, setelah mengenakan masker, Azi mendatangi rumah Bulik Nay, adik bungsu ibu. Setelah menceritakan tentang kondisi ibu, Bulik Nay dan Azi tampak sibuk mengerjakan sesuatu. 

Tak lama, semangkuk minuman hangat telah tersaji di atas meja. 

“Hati-hati membawanya, ya, Zi. Titip salam dari Bulik. Semoga Ibu lekas pulih.”

Azi mengucapkan terima kasih lalu membawa minuman itu dengan sukacita.

“Ibu, ini wedang ronde buatan Azi dan Bulik Nay.”

Azi membantu ibu meminum semangkuk wedang ronde. Ibu kelihatan sangat terharu. 

“Ibu adalah pahlawan buat Azi dan murid-murid. Cepat sembuh, ya, Bu.” Azi memeluk ibu penuh kehangatan. (*) 

Cara Kirim Nusantara Bertutur Kompas

Minggu, 19 April 2020



Assalamu'alaikum, Sahabat Khansa.

Udah lama banget ya blogpost Cara Kirim Naskah Cerpen Anak Kompas Klasika Nusantara Bertutur saya post, tepatnya pada 15 Juni 2015. Seiring berjalannya waktu, tentu ada pembenahan di sana-sini demi menghasilkan bacaan yang berkualitas di rubrik keren ini.

Nah, pada 2021 ini ketentuan kirim naskah sudah diperbaharui. Jadi, bagi Sahabat Khansa yang ingin mengirim naskah, selalu pantau akun Instagram dan Facebook Nusantara Bertutur, ya. Supaya naskah yang dikirim tepat sasaran dan tembus gawang redaksi :)

Yuk, saya bagikan di sini cara kirim naskah dongeng Nusantara Bertutur Kompas Klasika update per 17 April 2021
 

Ketentuan Pengiriman Naskah Nusantara Bertutur Kompas Klasika

  1. Naskah ditulis dalam Bahasa Indonesia
  2. Naskah harus asli merupakan karya sendiri dan belum pernah diterbitkan di media cetak apapun sebelumnya
  3. Naskah dongeng dikirim dalam bentuk file document word maksimal 2500 karakter (no space) font Times New Roman, 12 pt
  4. Boleh mengirimkan lebih dari satu naskah
  5. Melampirkan data diri lengkap penulis : Nama, Alamat, No. Telp/HP, Sosial Media (Instagram dan Facebook), No. Rekening dan Nama Bank Yuk, buat cerita dongeng yang menginspirasi. Jangan lupa sertakan unsur keIndonesiaan dalam naskah.
  6. Naskah dongeng dikirim melalui email: nusantarabertutur@gmail.com

Tema dongeng :
  • Aktivitasku di Rumah DL: 15 Mei 2020 (CLOSE)
  • Berbagi Kebaikan dari Rumah DL: 21 Juli 2020 (CLOSE)
  • Keunikan Fauna Nusantara DL: 23 September 2020 (CLOSE)
  • Pahlawan Masa Kini DL: 26 Desember 2020 (CLOSE)
  • Kreativitasku di Rumah DL: 30 Mei 2021 (OPEN)

Bagi sahabat yang ingin membaca naskah-naskah yang dimuat di Nusantara Bertutur bisa mampir ke web resminya, ya, di sini

Atau, bagi yang ingin membaca naskah saya yang dimuat di Nusantara Bertutur, bisa mampir ke sini ^_^ belum banyak, semoga terus menjejak. Doa yang sama untuk teman-teman.

Sampai di sini dulu, ya. Bagi yang ingin tanya-tanya lebih jelas, bisa ketik di kolom komentar. Insya Allah, saya jawab semampunya. Tentunya, dengan hati riang sehangat cokelat. :D


See you next time, Guys!


Wassalamu'alaikum
Karunia Sylviany Sambas

Rekam Kaleidoskop Khansa untuk 2019

Selasa, 31 Desember 2019
Assalamu'alaikum wr wb, Sahabat Khansa. 
Ini adalah postingan terakhir di 2019. Ah, cukup banyak cerita suka dan duka yang terjadi di 2019. Melalui post ini saya ingin membagikan cerita itu untuk para pengunjung ^_^

TENTANG DUNIA LITERASI

Sejak 2013, saya mulai memberanikan diri menulis untuk media, baik media cetak maupun media online. Beberapa karya saya alhamdulillah berhasil mejeng di sana. Sahabat bisa cek di label blog ini. :) Kegilaan saya pada dunia menulis, membaca dan mengirim tulisan berlanjut hingga pertengahan 2015. Sepertinya masa-masa itu sangat indah. Karena saya menyadari, menulis itu ibarat terapi. Segala gundah jadi plong setelah kita tuangkan dalam bentuk tulisan. Benar, bukan?

Cerpen Anak Liburan ke Ranu Pani dimuat di Nusantara Bertutur Kompas Klasika edisi Minggu, 08 Desember 2019

Kamis, 12 Desember 2019
Assalamu'alaikum wr.wb, Sahabat Khansa.

Akhir tahun ini alhamdulillah ada kabar baik dari dunia literasi. Dunia yang lama saya tinggalkan dengan dalih kesibukan di dunia nyata. Maafkan saya :( ya. Sebagian teman yang pernah mengenal saya di dunia literasi mungkin sudah hampir melupakan nama saya. Hiks!

Jujur, mood menulis mulai memudar sejak kesibukan pelamaran test CPNS 2018 silam. Fokus berubah untuk mengejar target. Alhamdulillah, proses tidak pernah mengkhianati hasil. Selengkapnya akan saya ceritakan di rumah maya kedua saya, ya.^_^

Tema Nusantara Bertutur Agustus 2017

Rabu, 02 Agustus 2017
Assalamu'alaikum, Sahabat Khansa ^_^

Alhamdulillah. Efek ikutan kelas ngeblog gratis bersama Mbak Naqiyyah Syam dan bergabung sebagai anggota tim Content Writers bersama Mbak Hairun Nisa berhasil mengembalikan mood positif untuk kembali merangkai kata. 

Insya Allah di bulan kemerdekaan RI ini saya akan kembali menyemarakkan dunia yang telah lama saya abaikan. Duh, maafkan, ya. Berbagai kata-kata yang keluar dari bibir hanyalah alasan untuk sebuah kata "malas" :'(


Baiklah, saya akan kembali padamu. Eh! Kembali pada dunia literasi. Saya awali dengan NuBi, ya. Kenapa dengan NuBi? Karena NuBi lah yang pertama kali membesarkan nama saya. Saya bahkan sempat diberi gelar Ratu NuBi. Hihihi. Karena karya saya sempat beberapa kali tayang di salah satu media nasional terkemuka di negeri ini. Kalau sekarang sih, Raja dan Ratu NuBi udah banyak, ya. 

Oke, deh, ini dia tema NuBi untuk bulan Agustus 2017. Jangan sampai ketinggalan. Bagi yang mau sharing seputar dunia literasi, monggo, ya. Saya akan senang hati menerima! 

Nilai karakter yang akan NuBi ambil untuk tema dongeng bulan Agustus ini yaitu sikap "Kenegarawanan" Karya diterima paling lambat tanggal 20 Agustus 2017. 

Bagi yang belum mengetahui ketentuan pengiriman naskah, silahkan simak di bawah ini ya.
1. Naskah ditulis dalam Bahasa Indonesia
2. Naskah harus asli merupakan karya sendiri dan belum pernah diterbitkan di media cetak apapun sebelumnya
3. Naskah dongeng maksimal 2500 karakter (no space)
font Times New Roman, 12 pt, spasi 1,5
4. Boleh mengirimkan lebih dari satu naskah
5. Melampirkan data diri lengkap penulis (Nama, Alamat, No. Telp/HP, No. Rekening)
Dikirim ke email: nusantarabertutur@gmail.com dengan hashtag #GerakanSumbangDongeng dan tema dongengnya

Sudah cukup jelas? Atau masih ada yang ingin didiskusikan? ^_^ Yuk, ambil pena dan langsung aksi!

Wassalamu'alaikum,

Karunia Sylviany Sambas 



  Wassalamu'alaikum wr, wb




Karunia Sylviany Sambas

[Selamat Datang, Air Bersih!] Dongeng Anak Terpilih Kategori Air Minum Lomba Menulis Dongeng Anak KSAN 2015

Rabu, 17 Februari 2016



Assalamu'alaikum, Sahabat Khansa

Lama tak mengisi rumah ceria ini membuat rindu menggunung, lho! ;)

Ah, rumah ceria yang selalu memanggil 'pulang'. Tapi, huhuhu :'( maafkan saya. Ada amanah lain yang sedang saya emban sekarang. Karenanya fokus saya agak terbagi kini.

Walaupun demikian, di tengah mimpi dan kenyataan yang tengah saya hadapi, hari ini saya memberanikan diri mengetuk kembali 'pintu kebahagiaan saya'.

Bagi saya, bahagia itu ada di sini. Di blog Rekam Jejak Sang Pemimpi yang saya bangun dengan segenap cinta dan asa. Bertumbuhlah, Nak! ^_^

Al-Khansa, karena dia wanita nan perkasa. Ibunda para pejuang agama. ;)

Blogpost kali ini tentang naskah saya yang alhamdulillah terpilih dalam Lomba Dongeng Anak Terpilih Kategori Air Minum Lomba Menulis Dongeng Anak KSAN 2015.

Selamat membaca, ya, Sahabat Khansa. Kritik dan saran sangat diharapkan. :)

Ini naskah versi asli. Mungkin ada sedikit perubahan pada versi cetak. Sayangnya, saya tidak mendapatkan bukti cetak tersebut. Huhuhu :'( Mungkin Sahabat Khansa ada yang punya. :D



Selamat Datang, Air Bersih!
Oleh Karunia Sylviany Sambas

Tika dan keluarganya tinggal di desa Simpang Kawat, Asahan. Mereka baru saja pindah ke sini untuk mengikuti Bunda yang dipindahtugaskan. Nanti Bunda akan mengajar di sekolah dasar yang terletak di depan rumah dinas.

Awalnya tinggal di sini menyenangkan. Banyak anak seusia Tika yang menemaninya bermain. Banyak pepohonan yang membuat suasana panas terik menjadi teduh.

Lama kelamaan Tika merasa kecewa. Ternyata, air bersih masih sulit didapat. Air di sini berwarna agak kuning. Setelah hujan turun, airnya agak bening. Tapi begitu dibiarkan semalaman, akan ada benda kuning yang melayang di dalam air. Kata Bunda itu namanya parak.

Kata Bunda lagi, walaupun berwarna kuning, para warga menggunakan air itu untuk kepentingan sehari-hari, seperti memasak, mencuci, dan mandi.

“Bun, tinggal di sini tidak enak, ya. Enakan tinggal di kota,” ujar Tika.

Bunda sedang mengupas pisang barangan. Beliau hendak membuat kolak pisang.

Bunda tersenyum mendengar keluhan putrinya.

“Siapa bilang di sini tidak enak? Nanti Tika akan dapat kejutan-kejutan di tempat ini.”

Mendengar kata-kata Bunda, Tika hanya terdiam.

Sudah dua malam ini ia tidur tak nyenyak. Tika kelelahan. Setiap sore, ia harus membantu Ayah mengambil air bersih dari sungai. Jarak rumah dan sungai memang tak terlalu jauh. Tapi jalannya mendaki. Tika harus mengeluarkan keringat banyak ketika membantu mendorong sepeda.

“Mengeluarkan keringat itu akan sangat membantu Tika, Sayang.” Ayah tersenyum sambil melirik Bunda.

Tika tambah cemberut. Ayah pasti meledek tubuhnya yang agak tambun.

Kolak pisang sudah matang. Harumnya tercium oleh Tika. Tak lama kemudian, Bunda menghidangkan kolak pisang. Mereka bertiga menikmati masakan Bunda yang lezat.

“Hidup di desa itu enak, lho, Nak. Contohnya pisang ini. Bunda beli langsung dari pemilik pohon. Dijamin sehat!” Bunda mengacungkan jempol.

Tika belum menyetujui pendapat Bunda.

***

Hari Minggu ini Ayah tampak sibuk di halaman belakang. Ada seorang lelaki muda bersamanya.

“Bun, Ayah sedang apa?” tanya Tika dengan raut wajah heran.

“Nah, ini salah satu kejutan yang Bunda maksud.” Bunda membimbing Tika mendekati pintu belakang.

Tika mendekati Ayah.

Ayah lalu memperkenalkan Tika pada lelaki muda itu.

“Panggil saja Bang Mursali,” ujarnya sambil tersenyum ramah.

Bang Mursali adalah anak tetangga Tika. Kata Bang Mursali, air di desa ini memang berwarna agak kuning. Tapi, para warga punya cara agar air kuning itu menjadi bening.

“Desa ini kan dekat dengan area persawahan, jadi warna airnya kurang baik,” jelas Bang Mursali. Ternyata, ia bekerja sebagai tenaga penyuluh.

“Kita akan membuat alat penyaring sederhana untuk membuat air bening,” ucap Ayah.

Tika jadi penasaran. Ia mendekati bahan-bahan yang sudah dipersiapkan untuk membuat saringan air.

Ada potongan batu bata, ijuk, arang, pasir dan kerikil. Ada juga drum plastik, keran air, lem pipa, pisau, dan beberapa timba air.

Tika memperhatikan kerja Bang Mursali.

Mula-mula, ia membuat lubang dengan jarak 10 cm dari dasar drum. Ukuran diameter lubang disesuaikan dengan diameter keran. Setelah lubang selesai, keran dipasang dengan menggunakan lem pipa.

“Tika mau menyusun benda-benda ini ke dalam drum?” tunjuk Ayah pada batu bata, ijuk, arang, pasir dan kerikil.

Tika mengangguk cepat. Ia sudah tak sabar ingin ikut membantu.

Ayah membimbing Tika mengisi drum. Kerikil diletakkan di bagian dasar, lalu berturut-turut ijuk, pasir, arang, ijuk lagi dan terakhir potongan batu bata.

“Selesai!” Bang Mursali mengacungkan jempolnya pada Tika.

Ayah mengambil air kuning beberapa timba. Lalu air itu dimasukkan ke dalam drum. Beberapa menit kemudian air keluar melalui keran. Walaupun belum terlalu bening, warna kuning air itu sudah mulai memudar.

“Horeee ....” Tika berteriak gembira.

“Berhasil ... berhasil!”

“Nanti lama kelamaan airnya akan lebih bening lagi, Pak,” jelas Bang Mursali.

Bunda datang membawa goreng pisang dan teh hangat.

“Sudah dapat kejutannya, kan, Nak?” tanya Bunda.

Tika mengangguk. Ternyata, ini kejutan yang Bunda maksud. Kalau di sekolah hanya belajar teori, hari ini Tika belajar IPA secara langsung.

“Kemarin kolak pisang, sekarang goreng pisang. Besok pisangnya dibuat apa lagi, Bun?” tanya Ayah tiba-tiba.

Bunda tersipu malu.

Hari ini adalah hari istimewa buat Tika. Ia belajar banyak hal. Selalu ada solusi dibalik masalah. Ia tidak perlu khawatir lagi dengan air kuning yang ada di desa ini.

“Selamat datang, Air Bersih!”

Semua tertawa melihat tingkahnya. (***)

#GerakanSumbangDongeng Cerpen Anak Terima Kasih, Bu Guru dimuat di Nusantara Bertutur Kompas Klasika edisi Minggu, 22 November 2015

Rabu, 25 November 2015
Assalamu'alaykum, Sahabat Khansa

Alhamdulillah, tulisan saya kembali dipercaya untuk tayang di rubrik Nusantara Bertutur Kompas Klasika. Sstt, naskah ini berhasil menyabet juara pertama dari 30-an naskah bertema sama. Hari Guru Nasional. ;)

Bagi Sahabat Khansa yang ingin mengirim naskah ke rubrik ini, silakan klik Cara Kirim Naskah Cerpen Anak Kompas Klasika Nusantara Bertutur

Untuk tema terbaru belum di-publish. Insya Allah, setelah tim NuBi menge-post info tema terbaru di akun facebook maupun twitter, maka saya akan menampilkannya di sini :D #RajinMampirYa

#GerakanSumbangDongeng [Cerpen Anak] Menghargai Jasa Pahlawan dimuat di Kompas Klasika Nusantara Bertutur edisi Minggu, 08 November 2015

Jumat, 13 November 2015
Assalamu'alaikum, Sahabat Khansa

Alhamdulillah. Tulisan saya kembali diberi kesempatan oleh Allah SWT untuk tayang di Nusantara Bertutur Harian Umum Kompas. 

Semoga ikhtiar Sahabat Khansa untuk tayang di rubrik ini akan segera menjadi nyata, ya. Aamiin.

Pengumuman Pemenang Lomba Menulis Dongeng Anak bersama Nusantara Bertutur & Konferensi Sanitasi dan Air Minum Nasional (KSAN) 2015

Rabu, 04 November 2015
Assalamu'alaykum, Sahabat Khansa. 

Apa kabar?
Semoga selalu bersemangat menjalani aktivitas, ya.

Alhamdulillah. Kemarin saya mendapatkan kesempatan indah untuk memenangkan lomba yang paling dinanti-nanti oleh penulis bacaan anak seantero nusantara. \:D/


Tema Dongeng Nusantara Bertutur Kompas Klasika edisi Desember 2015

Selasa, 03 November 2015
Tema Dongeng Nusantara Bertutur Kompas Klasika edisi Desember 2015

Assalamu'alaykum, Sahabat Khansa

Seraya menanti pengumuman Lomba Menulis Dongeng Anak bersama Nusantara Bertutur & Konferensi Sanitasi dan Air Minum Nasional (KSAN) 2015, yuk, kita simak Tema Dongeng Nusantara Bertutur Kompas Klasika edisi Desember 2015.

Hari Anti Korupsi dimuat 06 Desember 2015
Hari Ibu Nasional dimuat 20 Desember 2015
Hari Nusantara (Deklarasi Djuanda) dimuat 13 Desember 2015
Hari Raya Natal dimuat 27 Desember 2015

Semua tema punya deadline yang sama, lho! ;) yaitu Minggu, 15 November 2015. Jangan sampai kelewatan!

Buat Sahabat Khansa yang pertama kali ingin berpartisipasi, silakan klik Cara Kirim Naskah Cerpen Anak Kompas Klasika Nusantara Bertutur.  


Wassalamu'alaykum,


Karunia Sylviany Sambas

Lomba Menulis Dongeng Anak bersama Nusantara Bertutur & Konferensi Sanitasi dan Air Minum Nasional (KSAN) 2015

Rabu, 14 Oktober 2015
Assalamu'alaykum.
Hai .. hai ... NuBi bareng KSAN 2015 lagi ngadain Lomba Menulis Dongeng Anak, lho! ;)

Sahabat Khansa yang tersebar di seantero nusantara, yuk, kita ramein ajang keren ini. Selamat menulis dan mengirim. Semoga sukses, ya! 
Klik untuk melihat tampilan gambar lebih jelas
Sumber info dari akun facebook Nusantara Bertutur

Hai, Sahabat Nusantaraaa~

Ikutan Lomba Menulis Dongeng yang diadakan oleh Nusantara Bertutur dan KSAN 2015 yuk!

Jadi, Konferensi Sanitasi dan Air Minum Nasional (KSAN) adalah acara dua tahunan (sejak 2007) yang dilaksanakan sebagai bagian dari upaya pencapaian Universal Access 2019.

Lalu, dalam KSAN tahun ini ini diadakan Lomba Menulis Dongeng Anak – KSAN 2015.

Mengapa diadakan lomba menulis dongeng? Karena kami ingin mengedukasi anak-anak dan lingkungan pendidikan dengan bahasa yang mudah dimengerti dan disukai oleh anak-anak, mengenai kondisi saat ini serta harapan yang ingin dicapai dalam permasalahan air minum dan sanitasi Indonesia. Selain itu kami juga ingin menyebarkan isu air minum dan sanitasi di komunitas dongeng anak, dengan harapan dongeng-dongeng anak tentang air minum dan sanitasi akan semakin banyak jumlahnya.

Sahabat Nusantara bebas loh mau mengirimkan berapa pun jumlah naskah karya. Ayoo kirim yang banyak yaa!

Syarat Lomba:
1. Lomba ini bersifat terbuka tanpa batasan usia bagi seluruh Warga Negara Indonesia
2. Naskah ditulis dalam Bahasa Indonesia yang baik dan benar, serta diketik dalam format cerita pendek. Panjang naskah maksimal 5000 karakter (no spaces), font Times New Roman, 12 pt, dan spasi 1,5.
3. Tema dongeng adalah kondisi air minum dan sanitasi (air limbah domestik, drainase, dan persampahan) saat ini, serta harapan yang ingin dicapai oleh Indonesia dalam peningkatan akses air minum dan sanitasi tersebut.
4. Naskah harus asli, bukan terjemahan atau saduran, atau mengambil ide dari orang lain yang sudah ada. Selain itu naskah tersebut belum pernah diterbitkan di media massa (cetak maupun elektronik), dan tidak sedang diikutsertakan dalam lomba lain.
5. Cerita diharapkan dapat memasukkan unsur-unsur Nusantara (misal: lokasi, flora, fauna, budaya, dsb.).
6. Lampirkan: biografi penulis, scan KTP/kartu identitas lain, alamat dan nomor telepon rumah/hp, nomor rekening bank, dan foto terbaru penulis.
7. Softcopy naskah dilampirkan dalam email yang ditujukan ke Panitia Lomba Menulis Dongeng dengan alamat email nusantarabertutur@gmail.com dan mencantumkan judul subjek
'Naskah Lomba Menulis Dongeng Anak - KSAN 2015'

Kriteria Penilaian:
Naskah dongeng tersebut akan dinilai berdasarkan kriteria yang dimiliki oleh Nusantara Bertutur dan Panitia KSAN 2015. Kriteria tersebut terdiri atas:

1. Nusantara bertutur:
a. Rendah hati
b. Dapat dipercaya
c. Menghargai
d. Tanggung jawab
e. Adil
f. Peduli
g. Kenegarawanan

2. Panitia KSAN 2015:
a. Kesesuaian dengan tema
b. Ketepatan informasi yang diberikan

Selamat berkarya! Nubi tunggu karya kamu yaa.
Wassalamu'alaykum.


Karunia Sylviany Sambas

Tema Dongeng Nusantara Bertutur Kompas Klasika edisi November 2015

Selasa, 13 Oktober 2015

Yeay! Alhamdulillah. Tema NuBi November 2015 sudah di-publish hari ini! ;)

Sstt ... DL semua tema NuBi kali ini hanya sampai 24 Oktober 2015 pukul 24.00 WIB! Jangan sampai kelewat, ya! #ReminderForMeToo

Sebagai referensi, teman-teman boleh mampir ke Cara Kirim Naskah Cerpen Anak Kompas Klasika Nusantara Bertutur 
Yuk, selamat kirim-kirim, ya.  

Cerpen Anak Belajar Membatik dimuat di Kompas Klasika Nusantara Bertutur edisi Minggu, 04 Oktober 2015

Jumat, 09 Oktober 2015
Assalamu'alaykum wr wb, Sahabat Khansa ^_^

Alhamdulillah. Hari ini saya kembali membawa berita bahagia. Kabar ini datang dari NuBi. Salah satu rubrik di Harian Kompas yang sedang giat-giatnya melestarikan budaya mendongeng lewat #GerakanSumbangDongeng.

Naskah ini saya kirim di hari jelang deadline. Kan lebih dekat lebih baik ;) 
Sensasi diburu deadline itu amazing sekali, lho! 

Saya copy paste versi asli naskah Belajar Membatik, ya. Setelah membaca ini, semoga banyak pelajaran yang bisa diambil. Jadi, kita makin paham keinginan NuBi untuk #GerakanSumbangDongeng-nya itu seperti apa. Kan nggak kenal maka nggak sayang. Supaya sayang dan disayang NuBi, so kudu kenalan dulu! 

Cerpen Anak Belajar Membatik dimuat di Kompas Klasika Nusantara Bertutur edisi Minggu, 04 Oktober 2015
Klik untuk melihat gambar lebih jelas
Naskah ini sesuai kriteria NuBi

Atik Belajar Membatik
Oleh Karunia Sylviany Sambas

Sabtu sore ini, Atik berkunjung ke rumah Nenek di Sekoja, Jambi. Saat ini Nenek sedang bercengkerama dengannya. Atik menceritakan tentang kegiatan di sekolah.
            “Ohya, Nek. Waktu tas sekolah teman Atik koyak, teman-teman menertawai dia. Kasihan sekali, Nek.”
            “Atik tidak ikut-ikutan menertawai, kan?” tanya Nenek.
            Atik menggeleng kuat-kuat.
“Mengejek orang lain itu kan perbuatan tidak baik, ya, Nek.”
Nenek mengangguk sambil tersenyum.
Atik melihat sebuah tas yang tergantung di dekat mesin jahit Nenek.
            “Nek, tas itu bagus, ya. Coraknya batik. Teman-teman Atik belum ada yang punya begitu.”
            Nenek menoleh.
“Tas batik itu buatan Nenek. Kainnya Nenek beli langsung dari sanggar batik,” jelas Nenek.
            “Nek, Atik juga mau tas seperti itu. Nanti Atik akan berikan pada teman Atik yang tasnya koyak.”
            Nenek tersenyum lagi.
“Hati cucu Nenek sungguh baik.”
            Esoknya, Atik dan Nenek pergi ke sanggar batik. Pemilik sanggar batik ini bernama Bu Hanum. Beliau adalah teman sekolah Nenek.
            Di sana banyak anak seusia Atik yang sedang membatik.
“Batik tulis Jambi memiliki ciri khas yang unik dan menarik. Baik dari segi warna maupun motif. Sebagian besar pewarna batik Jambi diambil dari bahan-bahan alami, yaitu campuran dari aneka kayu dan tumbuh-tumbuhan yang ada di Jambi, seperti getah kayu lambato dan buah kayu bulian, daun pandan, kayu tinggi dan kayu sepang,” jelas Bu Hanum.
“Kamu ingin belajar membatik?” tawar seorang anak seusia Atik.
            Nenek tersenyum dan mengizinkan. Nama anak itu Dilla. Dia adalah cucu Bu Hanum. Sambil menunggu Atik, Nenek bercengkerama dengan Bu Hanum.
            Dilla mengajari Atik membatik.
Mula-mula, ia meletakkan kain putih seukuran sapu tangan pada sebuah benda yang disebut gawangan. Sudah ada pola berbentuk bunga di kain itu. Dengan gawangan, kain jadi tidak bergerak dan mudah untuk dibatik.
Lalu, Dilla mengambil lilin dengan menggunakan canting. Canting adalah alat yang digunakan untuk membuat motif batik. Lilin tadi sudah dicairkan di dalam sebuah wajan kecil. Secara perlahan, Dilla menggoreskan canting mengikuti pola. Dari urutan atas ke bawah. Sesekali, Dilla meniup-niup ujung canting.
“Ini cara agar lubang canting tidak tersumbat lilin, Tik,” jelas Dilla.
Sambil membatik, Dilla mengajak Atik bicara.
“Batik adalah salah satu warisan budaya bangsa kita. Buktinya, UNESCO sudah mengukuhkan batik Indonesia sebagai warisan budaya dunia,” ucap Dilla dengan nada bangga.
UNESCO itu United Nations Educational Scientific and Cultural Organization, sebuah badan organisasi dunia yang menangani masalah pendidikan, ilmu pengetahuan, dan kebudayaan. Atik pernah belajar ini di sekolah.
Setelah membatik, selanjutnya proses pewarnaan sesuai warna yang diinginkan. Selesai diwarnai, lilin tadi dilorotkan. Kain dibilas lalu dijemur.
Karena hari sudah agak siang, Atik pamit pulang. Nenek juga sudah membeli kain batik untuk membuat tas.  
Atik berterima kasih pada Dilla. Kini ia jadi tahu banyak tentang batik. (***)

Hikmah Cerita
Bangga menjadi anak Indonesia sekaligus mencintai batik sebagai salah satu warisan budaya.


Sebagai bahan belajar, silakan Sahabat Khansa bandingkan antara naskah asli dengan naskah yang dimuat, ya. 


Bagi Sahabat Khansa yang ingin mengirim naskah cerpen anak #GerakanSumbangDongeng ke Kompas Klasika Nusantara Bertutur, silakan klik di sini  Selamat mengirim. Semoga sukses! ^_^

Semoga bermanfaat.

Wassalamu'alaykum wr wb,

Karunia Sylviany Sambas