Tampilkan postingan dengan label Story Teenlit Magazine. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Story Teenlit Magazine. Tampilkan semua postingan

Cerdak Story Teenlit Magazine Mei 2013

Selasa, 22 April 2014


Cerdak Story Teenlit Magazine Mei 2013 

Kala Penyihir Disapa Cinta
Oleh : Karunia Sylviany Sambas

Hari ini seisi sekolah Vollenwitch heboh. Khususnya makhuk cantik dan centil itu. Ah, apa sih yang sedang mereka bicarakan?
“Rest, pokoknya aku mesti bisa naklukin makhluk tampan itu?” Ale si penyihir bertopi ungu buka suara.
“Aku juga naksir berat sama Jang Ers. Aku yang bakalan naklukin hati dia!” Arest tak kalah aksi.
***
Mereka berdua murid tingkat akhir sekolah penyihir yang terkenal. Kemana-mana selalu berdua. Dandanan mereka juga mirip. Bedanya, Ale bertopi ungu, sedangkan Arest bertopi pink.
Hari ini, penyihir cantik dan centil memulai aksinya, mencoba menarik perhatian makhluk tampan. Sapu terbang melayang di ruangan kelas. Eh, kenapa Jang Ers betah membaca kitab mantra di kursinya? Si cool ini masih malu-malu rupanya.
Hmm … sebenarnya ia tak benar-benar membaca. Ada sesuatu yang tengah dipikirkannya. Apa itu? Dia belum mau buka kartu. Kita simak kisah ini selanjutnya.
“Hai Jang Ers, kamu rajin banget deh baca kitab mantra. Mau dong ditularin rajinnya.” Arest tersenyum centil.
Jang Ers menoleh sejenak.
“E … eh ….” Ia buru-buru menutup kitab.
“Aku kan baru di kelas ini, jadi masih harus belajar banyak.” Jang Ers tersenyum.
***
“Rest, gimana kalo kita buat kompetisi yang sehat. Kita adain lomba, yang menang boleh lanjut pedekate sama Jang Ers. Oke nggak tuh?”
“Hmm … usul kamu boleh juga, tapi … bukannya kamu juga naksir sama Jang Ers?” ledek Arest.
“Nggak apa-apa deh. Kita kan sobatan kayak apa tuh …. Oh ya, kepompong! Hihihi.” Ale cekikikan.
 “Oke! Kalo gitu kita bertarung secara betina ya.” Mereka tos ala penyihir. Saling menautkan topi kerucut.
***
            Hari yang ditentukan tiba. Olala … pertandingan khusus untuk Ale dan Arest! Penyihir yang bersahabat sejak tingkat pertama itu memulai aksi mereka. Setengah memaksa mereka meminta Ayre, penyihir yang dijuluki ratu masak sebagai juri.
            “Satu … dua ….” Aba-aba diberikan. Ale dan Arest telah siap di posisinya masing-masing.
“Tiga!!!” Mereka segera meluncur.
Sapu terbang menusuk tajam.
            Swing … swing …
            Mereka berputar di antara pohon kelapa yang menjulang tinggi.
            Hap! Ale dan Arest hinggap di salah satu pohon. Mereka memerhatikan sebuah restoran terlengkap dan terlezat di kota mereka dengan seksama. Sang koki terlihat sedang sibuk mengolah suatu masakan.
            Tak lama, Arest tersenyum. “Aku udah tau rahasianya. Dah … Ale sayang.” Arest beranjak meninggalkan Ale. Ale sebal. Pikirannya kacau. Konsentrasi pun buyar.
            “Gawat!” batin Ale.
Arest mulai terlihat sibuk di dapur. Berpindah dari satu meja ke meja lain. Ia bekerja dengan cekatan.
Penyihir bertopi pink itu sudah menyelesaikan separuh pekerjaannya ketika Ale tiba.
“Kamu lama banget sih, Sayang,” ujar Arest tanpa melihat wajah Ale.
Waktu semakin sempit. Merasa peluangnya kian menipis, Ale gusar, tapi cepat ia mengerjakan tugasnya.
 “Yap! Waktu habis!”
“Tadaa ….. Fiuhh, akhirnya selesai juga,” Arest menyeka peluhnya.
“Hampir saja!” Ale telah siap dengan hidangannya.
Sang juri telah mencicipi hidangan itu.
Somay kamu enak, Ale,” ujar Ayre. Ale tersenyum kemenangan. “Tapi, hidangan Arest lebih enak. Sepertinya kamu lupa menambahkan kecap.” Ucapan terakhir itu membuat Ale lemas seketika. Topi kerucutnya miring ke kiri. Ia tak peduli.
            Arest bersorak gembira.
***
Esoknya di kelas, Ale terlihat murung.
Tak jauh di seberang Jang Ers tengah memerhatikan penyihir cantik bertopi ungu itu.
“Hai Ale, mau membantuku memahami kitab mantra ini?”
Wow, pucuk dicinta ulam pun tiba. “Kesempatan bagus nih.” Ale tersenyum penuh arti.
Ale dan Jang Ers segera akrab.
“Memahami kitab mantra yang tebal ini terasa ringan kalau berdua sama kamu,” ujar Jang Ers hari itu. Kata-kata itu berhasil menghadirkan rona kemerahan di pipi Ale.
Kedekatan dua penyihir ini membuat Arest cemburu bukan kepalang.
“Kan aku yang menang, tapi …. Ah, sudahlah.” Perlahan Arest menjauh. Sayangnya, Ale tidak menyadari perubahan sikap Arest.
***
Hari ini Arest terlihat gelisah. Bagaimana tidak? Dua hari lagi ujian kenaikan tingkat akan dilaksanakan. Ia kasihan pada Ale. Semenjak dekat dengan Jang Ers, nilai-nilai Ale menurun drastis. Padahal, ia adalah pelajar terbaik selama dua tahun berturut-turut. 
Arest menyadari sesuatu. Sepertinya ada yang tidak beres. Nilai Jang Ers menanjak naik. Dan Ale, sebaliknya.
“Oh, tidak! Ale dijebak!”
Arest menemui Ale hari itu juga.
“Apa? Kamu jangan jelek-jelekin Jang Ers, ya.” Ale ketus.
Arest sedih.
***
“Aku udah berhasil naklukin hati Ale. Sebentar lagi aku akan jadi bintang kelas Vollenwitch. Gak sia-sia aku pindah sekolah untuk memperbaiki citra penyihir pecundang. Hahaha.” Tawa itu memecah kesunyian di salah satu ruang. Jang Ers sedang berbicara dengan seseorang.
Deg! Ale seperti baru saja terbangun dari tidur panjangnya. Hatinya sakit. Ia telah mengabaikan Arest, sang sahabat sejati yang sudah mengingatkannya tempo hari.
Segera ia menuju kelas, mencari sosok yang begitu ia rindukan. Penyihir bertopi pink itu hampir terjengkang dari kursi ketika Ale menubruknya dengan haru biru. Penyihir cantik dan centil harus bersatu. Akur!