Tampilkan postingan dengan label The first. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label The first. Tampilkan semua postingan

Sebuah Pengingat, dari Blogspot ke Domain TLD

Sabtu, 13 Juni 2020
sumber: dokpri

Assalamu’alaikum wr wb, Khansa’ers

Alhamdulillah. Akhirnya punya blog domain TLD juga. Sudah sejak beberapa tahun lalu kepengennya. Tapi, belum paham bener (sampai sekarang juga masih belajar, sih) buat apa blog domain TLD itu. 

Menang Lomba Puisi Langsung Juara Pertama

Minggu, 05 Januari 2020
Assalamu'alaikum wr wb, Sahabat Khansa :)

Rasa syukur tiada henti terus saya ucap. Setelah sekian purnama mengikuti berbagai lomba puisi, alhamdulillah salah satu tulisan tersebut memenuhi harapan sejak melihat pengumuman lomba. 

Lomba puisi tersebut mengangkat tema "Ibu" 


Proses kreatifnya didapat dari perenungan panjang :) bagaimana membuat sebuah puisi bertema ibu yang anti mainstream. Dimulailah dengan membaca hasil karya para juara puisi. Bermodalkan searching sana sini. Yeay! gambaran tentang puisi yang baik seperti apa langsung ketemu.

Pengumuman Pemenang Lomba Menulis Dongeng Anak bersama Nusantara Bertutur & Konferensi Sanitasi dan Air Minum Nasional (KSAN) 2015

Rabu, 04 November 2015
Assalamu'alaykum, Sahabat Khansa. 

Apa kabar?
Semoga selalu bersemangat menjalani aktivitas, ya.

Alhamdulillah. Kemarin saya mendapatkan kesempatan indah untuk memenangkan lomba yang paling dinanti-nanti oleh penulis bacaan anak seantero nusantara. \:D/


Resensi Buku 77 Cahaya Cinta di Madinah terbitan al-Qudwah Publishing dimuat di Harian Rakyat Sumbar edisi Sabtu, 31 Oktober 2015

Minggu, 01 November 2015
Assalamu'alaikum, Sahabat Khansa

Behind the story ... 

Naskah resensi ini adalah tulisan yang punya jarak kirim dan muat yang amat sangat ekspres. Alhamdulillah, ya. ;)

Saya kirim pada tanggal 29 Oktober 2015 dan dimuat pada tanggal 31 Oktober 2015.

Sebenarnya saya sudah pernah mengirim naskah resensi ke harian ini pada tanggal 28 Februari 2015. Namun karena belum ada kabar gembira hingga beberapa pekan, saya berinisiatif mengirimkan naskah yang sama ke harian yang sama pada tanggal 26 Mei 2015. Saya khawatir naskah sebelumnya masuk ke kotak spam/tidak terkirim.

Karena masih belum juga belum tampak tanda-tanda yang baik, saya pun mengirimkan naskah ini ke media lain. Mungkin terkesan buru-buru, ya. Sejujurnya, iya. Karena buku ini adalah hadiah giveaway yang penerbit buku ini adakan. Ada dorongan kuat untuk mengemban amanah ini dengan sebaik-baiknya. :) 


Pada tanggal 29 Oktober 2015, Pengasuh Rubrik Budaya Harian Rakyat Sumbar mengirim e-mail yang isinya seperti tertera di bawah ini :

Salam,
Apakah naskah ini sudah pernah terbit di media lain sebelumnya? Jika belum, direncanakan terbit di Harian “Rakyat Sumbar”. Jadwal penerbitan diatur kemudian.
Redaksi tidak menerbitkan naskah yang sudah pernah terbit di media lain.

Salam budaya,
PENGASUH 

Walaupun ada perasaan sedikit kecewa, dengan jujur saya katakan bahwa naskah tersebut telah saya kirimkan ke media lain. Tentunya dengan mengutarakan permohonan maaf dan rencana untuk mengirim naskah resensi selanjutnya ke Harian Rakyat Sumbar.

Setelah membalas e-mail tersebut, saya langsung mengirim naskah resensi lagi. Alhamdulillah, langsung dimuat pada tanggal 31 Oktober 2015. \:D/ 

Happy ending in October ;) 

dokumen pribadi


77 Kisah Cinta dari Kota Nabi 
Oleh Karunia Sylviany Sambas

Data Buku
Judul               : 77 Cahaya Cinta di Madinah
Penulis           : Ummu Rumaisha (Ririn Rahayu Astuti Ningrum)
Penerbit           : al-Qudwah Publishing
Cetakan           : I, 2015
Tebal               : 256 halaman
ISBN               : 978-602-317-023-4
           
            Kerasnya kehidupan telah berhasil menempa kekuatan cinta umat generasi terdahulu. Tanpa jeda dan syarat. Sangat disayangkan, pada kenyataannya sekarang generasi muda kurang mengidolakan tokoh-tokoh hebat ini, generasi Rasulullah SAW dan para sahabat.
            Buku setebal 256 halaman ini menghadirkan kisah-kisah menggugah. Kisah para sahabat dan sahabiyah sebagai pengingat langkah betapa Islam pernah berjaya. Umat terdahulu menunjukkan cintanya yang begitu besar pada Allah, Rasul, agama dan orang terkasih. Rasa cinta yang menggelora, penuh semangat dan keikhlasan luar biasa mengantarkan mereka pada gerbang cinta sejati. Sungguh pantas sikap heroik mereka dijadikan suri teladan bagi generasi kekinian.
            Adalah Julaibib, seorang pemuda buruk rupa yang menjadi rebutan para bidadari. Dikisahkan, Julaibib dinikahkan Rasulullah SAW dengan seorang gadis cantik. Baru saja menikah, tiba-tiba Julaibib mendapat panggilan jihad.  
“Wahai istriku, berilah keridhaanmu atas keberangkatanku ke medan perang. Sungguh, aku bahagia bersamamu. Hatiku penuh dengan cinta. Namun cintaku kepadamu, bukankah tak sepantasnya melebihi cintaku pada panggilan-Nya?”
Julaibib berangkat ke medan pertempuran dengan hati haru. Namun semangat besar berkecamuk. Ia mati syahid. Saat Julaibib selesai dimakamkan, terjadilah peristiwa yang menakjubkan. Rasulullah berucap :
“Bidadari yang menjemput Julaibib begitu banyak. Mereka saling berebut. Ada yang meraih tangannya dan ada pula yang meraih kakinya, hingga salah satu dari bidadari-bidadari itu tersingkap kainnya dan terlihat betisnya.”
Para sahabat terkesima. Mereka kagum dengan Julaibib yang buruk rupa, namun mulia di mata Rabb-nya (halaman 39).
Ada lagi kisah tentang suri teladan seorang pemimpin. Ia adalah Khalifah Umar bin Khathtab. Pada masa kepemimpinannya, beliau sangat memperhatikan rakyat beserta wilayah yang dipimpin.
Adalah seorang Nenek yang tidak menyadari kehadiran Amirul Mukminin di rumahnya.
“Semoga Allah tidak memberikan ganjaran kebaikan kepada Umar.”
Setelah Umar bertanya, ternyata si Nenek berkata bahwa sang Amirul Mukminin tidak pernah datang ke rumah dan memberinya uang (halaman 127).
Maka, Umar membeli dosanya tersebut. Ia memberi uang senilai 25 dinar pada si Nenek.
“Kasihan Khalifah Umar jika kelak menanggung siksa di akhirat karena kelalaiannya terhadapmu.”
Pada masa kekhalifahannya, Khalifah Umar juga melakukan renovasi Masjidil Haram dan Masjidil Nabawi.
Kehidupan Umar sungguh jauh dari kehidupan berfoya dan bermegahan. Sangat berbeda dengan gaya hidup penguasa lain sezamannya.
Buku terbitan al-Qudwah Publishing ini memuat 77 kisah. Seperti judulnya, 77 Cahaya Cinta di Madinah. Kisah cinta disajikan cukup singkat. Sekitar dua sampai tiga halaman. Kisah yang disuguhkan tepat mengena. Beberapa referensi foto di akhir cerita menjadikan buku ini kian menarik.
Dengan sebuah label bertuliskan kisah nyata, buku ini menyerukan misi indah, yakni mengembalikan kemilau kisah heroik dan motivatif di hati kaum muda, membuat kisah-kisah uswatun hasanah terus diingat, dan menjadikan para sahabat dan sahabiyah sebagai idola. (***)

Cerpen Anak Kisah Cepi Capung dimuat di Harian Lampung Post edisi Minggu, 25 Oktober 2015

Kamis, 29 Oktober 2015




Kisah Cepi Capung
Oleh Karunia Sylviany Sambas

Cepi Capung terbang dengan riang.
Syuutt ... syuutt ...
Ia mengitari pepohonan kecil. Sesekali berhenti di atas ranting.
"Hei, Cepi! Tolong ajarkan aku terbang yang baik. Aku selalu menabrak sesuatu," keluh Pungi, si Capung Kecil.
Cepi menoleh lalu mendengus.
"Mengajarimu? Tak usah, ya! Aku tak akan mengajari sainganku. Akulah sang pemenang kontes!"
Cepi tersenyum sinis lalu kembali beratraksi di angkasa.
Senyumnya mengembang lebih lebar.
Pungi hanya terdiam melihat sambutan Cepi. Pantas saja tak ada teman yang mau dekat dengannya.
Awalnya, teman-teman sudah melarang Pungi mendekati Cepi. Tapi, Pungi tak ingin mendengar ucapan itu. Ia tetap meminta bantuan Cepi. Cepi itu terkenal sebagai penerbang ulung di negeri mereka.
Kontes terbang negeri capung tinggal dua hari lagi.
Pungi makin rajin berlatih. Dia mencoba berkali-kali. Tapi tetap saja sering menabrak sesuatu.
"Mungkin aku terbang terlalu kencang." Pungi memperlambat laju terbangnya.
Tapi angin tiba-tiba bertiup agak keras.
Syuutt ... dan ... brukk!
Karena terbang terlalu pelan, angin jadi mudah mengayun tubuhnya. Pungi pun jatuh di atas daun talas. Untunglah, sayapnya tidak cedera.
"Pungi, sudahlah! Kamu bisa ikut lain kali." Cepi terbang rendah.
Pungi menggeleng. Ia tetap ingin ikut kontes terbang kali ini.
"Aku tidak boleh menyerah.”
Bangsa capung hanya hidup selama beberapa minggu. Pungi tidak mau menyia-nyiakan kesempatan.
“Masih ada waktu."
Tekad Pungi sangat kuat. Ia kembali mencoba.
“Aku harus bisa! Aku harus bisa!” ucapnya berkali-kali.
Ringi melihat usaha Pungi. Ringi adalah sahabat Pungi.
"Kamu hanya kurang fokus, Pungi," ucap Ringi.
"Coba tarik napas dalam. Kemudian pikirkan satu tujuan di depan."
Pungi terdiam sejenak. Mungkin Ringi benar. Karena bola matanya mampu melihat ke segala arah, ia sering terfokus pada beberapa nyamuk yang beterbangan. Itu sebabnya konsentrasi jadi buyar.
“Kamu hanya perlu melakukan yang terbaik. Hasil akhir itu adalah bonus dari usahamu,” kata Ringi lagi.
Ah, benar. Pungi mencoba terbang.
Tapi, hujan mulai turun rintik-rintik. Lama-lama jadi deras dan disertai angin kencang.
Pungi dan Ringi berlindung di bawah sebatang pohon.
“Tolooonggg ....”
Itu suara Cepi!
“Kita harus menolongnya! Mungkin telah terjadi sesuatu.”
“Nanti saja, Pungi! Hujan masih deras. Angin juga kencang. Sayapmu terlalu lemah,” cegah Ringi.
“Kamu bisa jatuh!” Ringi masih mencoba mencegah Pungi.
Tapi tekad Pungi sudah bulat. Dia terbang pelan di bawah daun, berusaha menghindari tetes air hujan.
Itu Cepi!
Ia tergeletak lemah di atas tanah. Sayapnya basah dan lengket ke tanah. Pungi mempercepat laju terbangnya. Olala, ia menabrak sebuah batang kecil dan ikut jatuh di dekat Cepi.
Sementara itu di dekat mereka seekor katak sedang mengintai.
Gawat! Bisa-bisa mereka jadi santapan si Katak.
Dengan segenap tenaga Pungi berusaha menarik tubuh Cepi. Tapi ... oh ternyata sayap Pungi juga basah.
Tes!
Air dari daun keladi jatuh dan menyentuh sayap Pungi. Sayapnya jadi lekat ke tanah. Pungi berusaha mengangkat sayap, tapi terasa berat sekali.
Katak terlihat semakin mendekat. Bila dia menjulurkan lidah, maka ...
Di saat genting itu, terlihat sekumpulan capung. Mereka dipimpin oleh Ringi. Beramai-ramai mereka menarik tubuh Cepi dan Pungi dari tanah basah. Syukurlah, hujan sudah reda. Bangsa capung masih sanggup terbang di bawah hujan rintik-rintik.
Cepi gagal ikut kontes. Sayapnya terluka. Sementara Pungi masih bisa ikut karena sayapnya selamat. Ia hanya perlu mengeringkannya.
Ada berita bahagia. Cepi tetap bisa ikut kontes. Ia terpilih sebagai juri.
"Karena sudah dua kali menang kontes, kamu pasti bisa menilai yang terbaik,” ujar panitia lomba.
Cepi tersenyun senang. Ia mengucapkan terima kasih pada teman-temannya. Tak lupa juga meminta maaf karena sikapnya kemarin. Bila tidak ada teman-temannya, Cepi tak bisa membayangkan saat ini ia sudah berada di dalam perut si Katak. (***) 

Silakan klik Cara Mengirim Cerpen Anak ke Harian Lampung Post Minggu untuk Sahabat Khansa yang ingin mengirim karya.

Cara Mengirim Cerpen Anak ke Harian Lampung Post Minggu

Harian Lampung Post Minggu



Assalamu’alaykum, Sahabat Khansa
Hai ... Hai ...
Kita jumpa lagi dalam edisi spesial. Cieee ... ;) 

Menurut selentingan kabar banyak yang lagi nungguin blogpost ini, ya. Hehehe.

Wait wait. Maafkan saya. Ada beberapa hal di luar kendali saya untuk cuap-cuap di sini beberapa saat yang lalu. Namun Insya Allah, apa yang saya jalani kini adalah yang terbaik. Mohon doa dari Sahabat Khansa semua, ya \:D/ 

Semoga ke(sok)sibukan ini tak mampu mengurangi produktivitas saya dalam berkarya dan berbagi dengan teman-teman di sini.

Oke, deh. Naskah Kisah Cepi Capung mulanya saya kirim pada tanggal 20 September 2015. Karena beberapa pekan belum membawa hasil yang menggembirakan :D naskah ini saya kirimkan kembali ke harian yang sama pada tanggal 16 Oktober 2015. Kesannya ngebet banget, ya. Hihihi :D Bukan begitu sebenarnya, sih. #PembelaanDiri Saya kurang strategi waktu ngirim pertama kali. Strategi apa? *tring* kedipinmata.

Intinya, kalau kita rajin pantengin karya dari Minggu ke Minggu, Insya Allah nanti strateginya akan muncul tanpa diundang. ;) Good luck, ya. 

Ini dia syarat dan ketentuan pengiriman naskah cerpen anak ke Harian Lampung Post Minggu
  1. Jumlah kata fleksibel saja. Sekitar 500-700 kata atau 3-4 halaman A4 spasi 1,5
  2. Tema cerpen anak boleh realis, fabel, dongeng atau legenda
  3. Font yang digunakan boleh Times New Roman. Boleh juga Arial
  4. Kirim naskah ke alamat e-mail : lampostminggu@yahoo.com, redaksilampost@yahoo.com, redaksi@lampungpost.co.id 
  5. Ada honor untuk karya yang dimuat 
  6. Tidak ada info bila karya dimuat. Namun jangan khawatir, ada e-paper Harian Lampung Post yang bisa di-check sekitar pukul 11.00 WIB setiap Minggu-nya. Ada juga mention-mention menggembirakan dari grup Sastra Minggu untuk setiap karya yang dimuat di media, termasuk di Harian Lampung Post
 
Ohya, sebagai tambahan referensi, silakan kunjungi blog penulis Putri Biru a.k.a Uni Naqiyyah Syam :) Ada banyak tips menulis dan hal menarik lainnya, lho! ;)

Kalau masih ada yang ingin ditanyakan, silakan kontak saya melalui akun medsos atau formulir kontak blogger yang terletak di bagian bawah blog ini. ;)

Wassalamu’alaykum,


Karunia Sylviany Sambas