Deadline Menumpuk, Mataku pun “Mengamuk”

Seperti biasa, malam itu aku menyelesaikan kurang lebih dua puluh artikel terjemahan yang harus segera disetor besok tepat di jam cinderella. Meski masih besok tapi aku tak mau pekerjaan itu jadi menumpuk sehingga lebih baik kucicil saja. Jadi aku ngga perlu lembur atau mengerjakannya secara terburu-buru.

Sayangnya, baru mengerjakan beberapa, mataku mulai terasa tak nyaman. Seperti ada yang mengganjal, agak perih dan kadang buram. Padahal aku sudah memakai kacamata baca. Jam dinding waktu itu masih menunjukkan pukul 20.30. Masih belum terlalu malam menurutku sehingga kuteruskan saja mengerjakan artikel yang masih ada beberapa judul dan harus tuntas malam ini sesuai plan. Sisanya akan kukerjakan besok.

Layar laptop dipenuhi tab referensi. Jemariku berpindah cepat dari keyboard ke mouse, lalu kembali lagi. Sesekali aku menghapus satu paragraf karena rasanya kurang pas, lalu menulis ulang dari awal. Aku begitu tenggelam dalam pekerjaan sampai tidak sadar sudah hampir dua jam menatap layar tanpa benar-benar beristirahat.

Ketika Mata Mulai Mengirim Sinyal

Mataku mulai terasa berat. Perih yang muncul tadi semakin terasa. Bahkan setiap berkedip seperti ada butir pasir yang tersangkut di mata. Aku mulai merasa terganggu. Akhirnya kuhentikan sejenak pekerjaanku karena sepertinya mataku tak baik-baik saja. Apa begini rasanya Mata SEpet ya, pikirku.

Kubuka kembali tabulasi di halaman internet lalu iseng mencari tahu tahu informasi mengenai mata sepet, perih atau berpasir. Ada banyak artikel yang menjelaskan hal tersebut dan ternyata aku baru tahu kalau terlalu lama menatap layar monitor tanpa sadar membuat kita berkedip lebih sedikit dari biasanya.

Padahal berkedip sangat bagus untuk kesehatan mata sebab setiap kedipan membantu menyebarkan air mata agar permukaan mata tetap lembap. Ketika mata jarang berkedip, air mata lebih cepat menguap sehingga mata bisa terasa kering, perih, lelah, seperti yang kurasakan.

Belum lagi AC di ruangan menyala full sejak sore. Memang ruangan jadi sejuk namun nyatanya membawa efek buruk juga yakni membuat mata semakin cepat kehilangan kelembapannya.

Rasa tak enak di mata ini sempat kuabaikan dan tadinya kupikir akan hilang dengan sendirinya, ternyata tidak. Justru semakin mengganggu pekerjaanku.

“Ah, beneran ini, #MataSePeLeJanganSepelein,” kataku sendiri sambil beranjak meninggalkan meja kerja dan melangkahkan kaki menuju meja rias.

Botol Kecil Bertutup Biru yang Kubeli Tanpa Rencana


Di atas meja rias, selain berbagai brand skincare, ada juga beberapa vitamin yang rutin kukonsumsi. Diantara berbagai vitamin tersebut kutemukan satu kotak berwarna biru yang beberapa hari lalu tak sengaja kubeli. Waktu itu aku sedang berbelanja di supermarket langganan dan ketika melewati rak kesehatan, mataku tertuju pada #InstoDryEyes. Tidak ada alasan khusus untuk membelinya. Hanya iseng memasukkannya ke keranjang belanja sambil berpikir, "Siapa tahu nanti butuh."

Kuambil kotak biru tersebut lalu membukanya. Karena mataku makin terasa tak nyaman, segera kubuka botol bertutup biru tersebut dan meneteskan Insto langsung ke mata. Sensasi dingin seketika menyebar di mata. Perlahan mengaburkan rasa perih dan mengganjal tadi.

Aku kembali ke meja kerja kemudian membuka halaman terjemahan yang kukerjakan tadi dan menyimpannya. Setelah itu kuputuskan untuk meregangkan badan sejenak, meminum air putih dari tumbler dan membuka gorden kamarku. Langit sedang tak berbintang, tapi tetap membuatku merasa lebih santai, tenang dan kusadari mataku sudah terasa nyaman.

Aku kembali ke meja kerja dengan gorden jendela yang tetap kubiarkan terbuka. Kembali duduk di depan laptop dan melanjutkan artikel yang sempat tertunda.

Pelajaran dari Sebuah Deadline

Dari pengalaman tadi akhirnya aku punya kebiasaan baru saat bekerja. Aku jadi lebih peduli pada mata. Setiap kali harus menulis dalam waktu lama kuusahakan untuk mengalihkan pandangan ke sesuatu yang letaknya lebih jauh. Karena ternyata

Aku mulai membiasakan diri mengalihkan pandangan dari layar setiap beberapa saat. Melihat benda yang letaknya jauh membantu mata beristirahat setelah terus fokus pada jarak dekat. Aku juga berusaha lebih sering berkedip. Kedengarannya sederhanakan? Tetapi ketika sedang serius bekerja, ternyata kita sering lupa melakukannya.

Air putih di meja kerja juga tak pernah ketinggalan agar tubuh tetap terhidrasi dengan baik. Kuusahakan juga untuk sesekali berdiri, meregangkan badan, atau berjalan sebentar sebelum kembali duduk di depan laptop.

Kebiasaan-kebiasaan kecil ini ternyata membuat perbedaan yang besar. Sekarang, tak hanya terasa lebih nyaman dan #BebasMataKering, pikiranku juga menjadi lebih fokus sehingga pekerjaan bisa selesai dengan lebih baik.

Mata Waras, Ide Pun Mengalir Deras

Sebagai penulis, deadline, lembur memang tak bisa kuhindari dan itu sudah menjadi bagian dari proses menyelesaikan pekerjaan. Namun kejadian malam itu membuatkan balajar kalau produktivitas tak melulu tentang berkerja lebih lama. Menjaga kesehatan dan merawat diri juga harus diutamakan supaya bisa tetap bekerja dengan nyaman.

Kini setiap kali mulai merasakan mata lelah, perih, atau Mata SEpet, aku tidak lagi mengabaikannya. Cara sederhana seperti memberi jeda sejenak, mengistirahatkan pandangan, menjaga tubuh tetap terhidrasi, dan menggunakan Insto saat dibutuhkan nyatanya dapat membantuku kembali fokus. Mata waras, ide pun mengalir deras.
Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url