Tulisan Ketiga dimuat di Terjadi Sungguh Sungguh Harian Merapi

Kamis, 19 Maret 2020
Assalamu'alaikum, Sahabat Khansa.

Tertarik menulis lelucon singkat yang bisa menghasilkan cuan? Yuk, jajal kemampuan nulis di rubrik yang satu ini. Ya, rubrik Terjadi Sungguh Sungguh Harian Merapi.  





Keterangan :
Dikirim pada 08 Februari 2020 dan dimuat pada 19 Maret 2020 ^_^

Aroma Tubuh Pasien yang Sudah Meninggal dimuat di Harian Merapi

Sabtu, 14 Maret 2020

Misteri Aroma Tubuh*
Oleh : Karunia Sylviany Sambas

Uni dapat jadwal dinas malam. Kebetulan sedang tidak ada pasien. Tempat tidur pasien semuanya kosong. Hanya ada dua orang petugas jaga malam di ruangan itu. Pukul satu dini hari, setelah menyelesaikan tugas, teman dinas Uni izin keluar.

“Jam dua balik ke sini, ya, Bang,” pesan Uni.


Teman dinas Uni, sebut saja Bang Anda, mengiyakan dan berjanji kembali ke ruangan sesuai jam yang disepakati.
 
Mendekati pukul dua, Uni mulai mengantuk namun urung rebahan. Ia masih berjaga. Khawatir bila ada pasien yang hendak dikirim ke ruangan. Namun hingga pukul setengah tiga, Bang Anda belum juga kembali. Akhirnya, Uni memutuskan untuk merebahkan kepala saja di atas meja. Ia membawa sebuah bantal leher setiap dinas malam. Bantal berbentuk lingkaran itu Uni gunakan untuk menyangga kepala.
 
Uni menempatkan kepala ke sisi kiri, menghadap lemari obat yang terbuat dari kaca. Entah berapa lama ia berada dalam posisi itu ketika tiba-tiba terasa angin dingin bertiup di kuduk. Uni juga merasa seperti ada seseorang yang duduk di belakangnya. Mungkin Bang Anda. Ia berusaha berpikir positif.
 
Lama ditunggu, tak kunjung ada suara dari arah belakang. Perasaan Uni mulai tak enak. Apalagi ketika angin berembus, tercium aroma tubuh yang sepertinya ia kenal. Uni memberanikan diri menoleh. Syukurlah tak ada apa-apa.
 
Uni meraih buku rawatan untuk memastikan dugaan. Angin kembali berembus dan membawa aroma tubuh yang kian kuat menusuk hidung. Uni ingat. Aroma tubuh ini milik Ny. X, salah seorang pasien wanita yang pernah dirawat di ruangan itu. Uni mengecek data Ny. X. Pasien tersebut meninggal pada hari, tanggal dan jam sekian!
 
Bulu kuduk Uni meremang. Apalagi saat tiba-tiba kakinya menyenggol sesuatu yang menggelinding. Sebuah pot obat atas nama Ny. X! Uni langsung berlari menuju pintu. – Semua nama disamarkan

*Naskah dikirim pada 07 Februari 2020
Seperti biasa, judul mengalami pengeditan oleh redaktur :D

Bagian Belakang Rok Aini Ada Noda Darah dimuat di Harian Merapi


Kedatangan Arwah Teman*
Oleh : Karunia Sylviany Sambas

Hari ini seharusnya Nora sudah pulang kampung seperti teman-teman. Namun ia terpaksa menunda keinginan tersebut karena harus menyelesaikan mata kuliah tambahan. Azan isya baru saja selesai berkumandang ketika langkahnya tiba di asrama putri. Suasana sangat sepi. Berhubung hampir seluruh mahasiswa yang tinggal di sana sudah pulang ke kampung halaman masing-masing. Suasana sepi jadi mencekam ketika gerimis mulai turun. Tak lama angin kencang datang dan menimbulkan suara bising dari seng yang sebagian besar pakunya telah hilang.


Nora baru saja merebahkan badan ketika tiba-tiba pintu diketuk. Ia membuka sedikit tirai jendela dan melihat sosok Aini, teman satu kamarnya, berdiri di balik pintu.
 
“Kupikir kau sudah pulang kampung, Ai,” tegur Nora. “Kau ada mata kuliah tambahan juga?”
 
Namun sosok yang disapa tidak mengeluarkan sepatah kata pun. Ia malah menuju kamar mandi dengan sorot mata kosong. Nora bisa melihat baju yang dikenakan Aini basah kuyup dan di bagian belakang roknya ada … noda darah! Ah, mungkin Aini sedang datang bulan, karena itu ia terburu-buru, pikir Nora.
 
Nora lantas mengunci pintu dan kembali rebahan.
 
Lama Nora menunggu, tidak ada suara air dari dalam kamar mandi. Ia pikir Aini sedang buang hajat. Nora menunggu Aini untuk makan malam bersama. Namun akhirnya ia malah ketiduran.
 
Nora terbangun ketika mendengar nada pesan WhatsApp. Paket data lupa dinonaktifkan. Padahal, biasanya Nora selalu memutuskan sambungan data ketika hendak tidur.
 
Pesan yang masuk bertubi-tubi membuat handphone Nora panas dan padam. Dua menit kemudian handphone kembali aktif.
 
Aini ada di asrama?
 
Isi pesan WhatsApp dari nomor tak dikenal.
 
Mata Nora masih sangat berat sehingga ia hanya memberikan tanda read pada isi pesan itu. Namun kedua bola matanya jadi membelalak ketika muncul pesan lain yang membuat bulu kuduk Nora meremang.
 
Turut berdukacita atas meninggalnya teman kita, Aini, dalam kecelakaan bus sekitar pukul tujuh malam ini. Semoga …
 
Nora tidak lagi membaca kelanjutan pesan itu.
 
Bagaimana mungkin Aini meninggal? Sedangkan pukul delapan tadi malam ia masih bertemu Aini. Untunglah tak lama azan subuh berkumandang. Nora bergegas keluar kamar dan menuju kamar ibu asrama.
 
Setelah menceritakan semua kejadian itu, paginya, Nora dan ibu asrama memberanikan diri mendorong pintu kamar mandi dan menemukan kamar mandi itu dalam keadaan kosong. Lantas siapakah sosok yang menyerupai Aini tadi malam? Nora dan ibu asrama menggigil. – Nama samaran


*Naskah dikirim pada 12 Februari 2020
Judul mengalami pengeditan oleh redaktur :D