Berburu Kepah di Nusantara Bertutur

Minggu, 29 Maret 2015

Cerpen Anak Berburu Kepah dimuat di Kompas Klasika Nusantara Bertutur edisi Minggu, 22 Maret 2015

Assalamu'alaikum, Sahabat Khansa.

Ada yang lagi menantikan postingan keren ini? 

Alhamdulillah. Sekian lama penantian, akhirnya naskah cerpen anak ini berhasil dinyatakan layak tayang. Horeee ... #euforia

Ohya, awalnya, naskah ini akan diikutsertakan lomba menulis dongeng anak NB. Namun, dikarenakan terlewat beberapa detik setelah DL, saya pun mengirimkan naskah ini untuk edisi reguler.
 
Mau kirim naskah ke Kompas Klasika Nusantara Bertutur juga? Boleh bingits :D

Silakan klik postingan info keren  Cara Kirim Naskah Dongeng Nusantara Bertutur Kompas Klasika yaaa ....

Selamat membaca.

Kritik dan saran sangat diharapkan, lo!

dimuat di Kompas Klasika Nusantara Bertutur edisi Minggu, 22 Maret 2015

Berburu Kepah
Oleh: Karunia Sylviany Sambas

Hari libur telah tiba. Sejak seminggu sebelum pengumuman hasil ujian, ayah sudah berjanji akan mengajakku pergi ke Beting, salah satu tempat wisata di Kota Tanjung Balai. Asyik! Aku sudah lama menantikan saat-saat ini.

“Di, kalau sudah sampai di sana, kita akan berburu kepah!” Ayah menepuk pundakku.

“Sebagai anak laki-laki, kamu nggak boleh menolak ajakan tanding ini!” Ayah melirik ibu yang sedang menyiapkan perbekalan kami.

“Ayahmu ini dulunya jawara berburu kepah, Di. Nyari kepah itu susah-susah gampang. Butuh kesabaran dan kerja keras,” ujar ibu.

Aku terdiam. Mendengar ajakan ayah, sebenarnya aku tertantang untuk bisa menang. Siap takut? Tapi, mendengar kata-kata ibu barusan, nyaliku agak ciut. Bisa nggak ya aku melawan sang jawara?

Hm ...

Sesampainya di Beting, benar seperti kata ibu. Ayah begitu lincah mencari kepah yang bersembunyi di lumpur pantai. Sebentar saja plastik kecil yang ayah bawa sudah penuh!

“Yes, ayah menang!” sorak ayah.

Siang menjelang. Panas terik membuatku mood-ku agak kurang enak.

“Nggak adil, masak lawan anak kecil!” Aku berlari ke arah ibu.

Aku menangis. Malu.

“Eh, anak lelaki harus kuat dan sportif dong!” Ibu mengelus rambutku.

Ayah menghampiri kami.

“Mana anak ayah yang kuat itu ya?” Ayah berjongkok sambil menyodorkan seplastik kepah. “Ini buat Adi.”

Ayah tersenyum.

“Sebenarnya Adi bisa menang. Ayah tadi nggak serius kok. Tau tidak kenapa Adi kalah?” Aku menggeleng.

“Karena Adi sudah merasa kalah sebelum bertanding. Benar tidak, Yah?” jawab ibu.

Ayah mengacak rambutku.

“Ya, Bu. Mulai sekarang Adi harus punya mental pemenang! Kalo di awal sudah nggak semangat, mau gimana lagi coba? Pasti hasilnya nggak maksimal. Ya, kan?”

Ayah menepuk lembut pundakku. Aku tersenyum. Dalam hati aku berjanji nggak akan seperti ini lagi.

“Yah, Adi siap berburu kepah!”

“Ayo! Siapa takut?” Aku berlari mengejar ayah dengan hati riang.

NB: Naskah dikirim pada 1 Juli 2014

Hilangnya Angpau Ling di Analisa Medan

Rabu, 25 Maret 2015
Assalamu'alaikum.

Alhamdulillah. Cerita anak karya saya kembali tayang di media, nih, Sahabat Khansa.

Cerpen Anak Rahasia Hilangnya Angpau Ling dimuat di Harian Analisa Medan edisi Minggu, 22 Februari 2015


dimuat di Harian Analisa Medan edisi Minggu, 22 Februari 2015

Rahasia Hilangnya Angpau Ling
Oleh: Karunia Sylviany Sambas

Ling sangat senang. Bibirnya terus menerus menyunggingkan senyuman. Sejak bangun pagi ia sudah tak ingat lagi pada kantuknya. Biasanya, Mama sampai pusing membangunkan anak bungsunya itu. Alarm jam kukuk pun mungkin lelah berkukuk setiap pagi.

Mama mengepang dua rambut hitam Ling. Rambut panjang itu sudah hampir menyentuh bokong. Gadis kecil itu tak pernah mau memotong rambutnya sejak kelas satu hingga kelas empat ini.

“Ling, masih lama?” Kak Vian sudah berdiri di ambang pintu kamar.

Ling nyengir. Memperlihatkan deretan gigi putihnya yang rapi. Setelah memastikan tak ada barang yang tertinggal, Ling melesat menuju teras rumah. Papa dan Mama sudah berada di dalam mobil.

Ling sekeluarga akan mengunjungi rumah adik Mama. Paman Bian. Sudah dua kali Tahun Baru Imlek keluarga mereka tak saling bertemu. Paman Bian punya bisnis di Beijing. Karena tahun ini mereka ada di Indonesia, Ling jadi punya kesempatan bertemu Vivi, saudara sepupunya.

Ling bersenandung kecil di dalam mobil.

“Ling, jangan merepotkan orang di sana!” Kak Vian yang duduk di samping Ling menatap adiknya dengan khawatir. Ia takut Ling membuat ulah lagi. Terakhir kali bertemu Paman Bian, Ling menangis lama sekali karena angpaunya tertinggal di kamar mandi sebuah Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU). Waktu itu Ling yang baru saja selesai dari kamar mandi umum, lupa mengambil angpau yang diletakkannya di pinggir bak kamar mandi. Ling menyadari angpaunya hilang ketika sudah berada di rumah mereka, Tanjung Balai.

“Mungkin Ling kurang sering berbagi,” kata Mama.

“Ling, jangan memaksa untuk mendapatkan banyak uang. Angpau itu adalah doa dari Paman Bian buat Ling. Jangan lihat besar kecil isinya,” tambah Papa.

Ling cemberut. Saat perayaan tahun baru begini, harusnya mengumpulkan uang angpau sebanyak-banyaknya, pikir Ling.

Masih beberapa jam lagi sebelum keluarga Ling sampai di rumah Paman Bian. Karena lelah, mereka beristirahat sejenak di sebuah SPBU di daerah Serdang Bedagai.

Ling ingat. Ini adalah tempat di mana ia kehilangan angpaunya dulu. Mama, Papa dan Kak Vian sedang ke minimarket membeli beberapa minuman dan cemilan. Ling bosan menunggu. Ia keluar mobil dan berjalan ke arah toilet umum.

Ia ingat betul kalau ia meletakkan angpau itu terakhir di pinggir bak kamar mandi. Ling sedih menyadari kecerobohannya. Apalagi jumlah uang di dalam angpau itu sangat banyak. Ling sudah membayangkan bisa membeli bermacam-macam barang.

“Ling ....” Suara Kak Vian tepat di belakangnya.

“Masih ingat angpau itu, ya? Sudah. Ikhlaskan saja!”

Mata Ling makin berkaca-kaca.

“Sudah, yuk. Kita ke mobil. Satu jam lagi kita sampai di Medan. Siapa tau kamu banyak dapat angpau tahun ini,” hibur Kak Vian.

Ling menurut. Ia mengikuti langkah Kak Vian menuju parkir mobil.

Saat melanjutkan perjalanan, di lampu merah, Ling melihat seorang anak kecil yang sedang mengamen di depan kaca mobil mereka. Ling iba. Selama ini ia belum pernah melihat pemandangan seperti ini.

“Mereka mencari uang dengan bekerja. Lihat itu, Ling! Di sana bahkan ada yang nyemir sepatu dan jualan koran,” tunjuk Kak Vian ke seberang jalan.

Ling terdiam. Ia tak bisa membayangkan jika dirinya yang harus bekerja di tengah cuaca terik seperti ini. Apa-apa yang dia mau pasti ada. Sedangkan mereka ....

“Ling?”

Mama heran melihat Ling yang tiba-tiba melamun.

“Pa, Ma. Ling mau kasih ini buat anak itu.” Ling menyodorkan sebuah angpau. Ia memang sering bertukar angpau dengan Vivi. Jadi, ia punya beberapa angpau di tas kecilnya.

Papa, Mama dan Kak Vian berpandangan. Ling membuka kaca mobil dan menyerahkan angpau itu pada si pengamen cilik.

Si pengamen tersenyum semringah saat menerima angpau dari Ling.

“Terima kasih banyak, Kak.”

Hati Ling terasa bahagia.

Angpau yang hilang itu menyadarkan Ling akan kehilangan. Kini ia belajar berbagi. Sekarang Ling sudah tak terlalu peduli berapa pun isi angpau yang akan dia terima dari Paman Bian.

Bukankan seperti kata Papa, angpau itu berisi doa dan harapan dari sang pemberi kepada yang menerimanya. Doa dan harapan itu buat Ling. Itu lebih dari cukup.

Mobil sudah memasuki kawasan Tanjung Morawa. Sebentar lagi mereka akan tiba di rumah Paman Bian.

Ling bersyukur. Ia belajar hal penting hari ini. Ya, berbagi itu memang indah! (*)

Temukan Warna Hijau di Tribun Kaltim

Assalamu'alaikum, Sahabat Khansa.

Rubrik senggang Harian Tribun Kaltim memuat naskah resensi saya. 

Resensi Buku Temukan Warna Hijau dimuat di Harian Tribun Kaltim edisi Minggu, 18 Januari 2015 

dimuat di Harian Tribun Kaltim

Ungkapan Cinta Lingkungan Para Remaja
Oleh Karunia Sylviany Sambas

Judul : Temukan Warna Hijau
Pemrakarsa : Reni Erina
Penerbit : PT Elex Media Komputindo, Jakarta
Cetakan : I, 2014
Tebal : x + 154 halaman
ISBN : 978-602-02-4207-1

Alam adalah lingkungan di mana kita tinggal dan tumbuh. Menjaganya dengan sepenuh cinta adalah kewajiban. Betapa alam sangat mencintai kita dengan cinta yang tak habis-habisnya.

Temukan Warna Hijau merupakan salah satu seri Cekers Go Green Antologi Cinta Lingkungan. Kehadiran antologi ini diprakarsai oleh Reni Erina, seorang penulis yang sangat concern terhadap dunia literasi dan remaja. Beliau juga pernah mengasuh sebuah majalah remaja nasional.

Melalui buku setebal 154 halaman ini, pembaca diajak membuka sisi lain dari remaja yang acap kali berbicara cinta. Buku ini berhasil menguak fakta, bahwa dunia remaja yang penuh cinta itu tak melulu berbicara asmara, tetapi juga cinta alam.

Buku ini berisi 14 cerpen karya terbaik peserta ajang Antologi Teenlit Asyik Cinta Lingkungan, yang diselenggarakan oleh sebuah ajang penulisan di grup jejaring sosial facebook, Erin n Friends. Seperti tema yang diusungnya, melalui keempatbelas cerpen ini, para penulis menunjukkan kepedulian dan kecintaan terhadap sekitar. Namun tetap tak meninggalkan ciri khas dunia remaja.

Buku ini diawali dengan cerpen Natronilove karya Hilal Ahmad. Dalam cerpen ini diceritakan sebuah tempat bernama Natron, yang diperuntukkan bagi makhluk yang tak mencintai alamnya.

Konflik dalam cerpen ini dimulai saat sepasang remaja—Lorde dan Rasta--yang berlainan pandangan; satu pencinta alam dan satunya tak pedulian, disatukan dalam misi merebut piala Adiwiyata. Tentu bukan hal mudah melaksanakan sebuah tugas dalam tim yang tak dapat bekerjasama. Melalui sebuah mimpi, Lorde akhirnya mengetahui maksud dari Natron, kata yang sering diucapkan Rasta.

Lorde memekik. Tak jauh dari tempatnya berdiri seekor elang menatapnya tak berkedip. Di sisi lain, angsa yang mengangkat satu kakinya melakukan hal serupa. Tatapan mereka hampa. Bangau itu, elang itu, seperti meminta tolong (halaman 7).
“Selamat datang di Natron!” Lorde mencari sumber suara. “Inilah tempat bagi makhluk yang tak mencintai alamnya” (halaman 7).

Walaupun dimulai dengan pembukaan yang agak klise, cerpen ini berhasil ditutup dengan ending yang cukup mengejutkan.

Cerpen lainnya adalah karya Ilalang_ps yang bercerita tentang alang-alang yang jatuh cinta pada manusia. Saking cintanya, ia bahkan rela memutuskan untuk terluka demi terus bersama lelaki pujaannya.

“Jika mencintainya akan menjadi sebuah luka, aku akan berbahagia hidup dengan luka itu” (halaman 21).

Penulis cukup apik menuliskan ceritanya. Pembaca mungkin tidak menyangka bahwa tokoh aku dalam cerpen tersebut bukan manusia melainkan setangkai alang-alang.

Meski demikian, rasa cinta lingkungan—seperti tema yang diangkat—kurang tereksekusi dengan baik dalam cerpen ini.

Lain lagi cerpen yang ditulis oleh Aya Maulia. Cerpennya yang berjudul Temukan Warna Hijau sekaligus judul buku ini, menyuguhkan kisah tentang Yo Nevil, seorang siswa SMA, yang jatuh cinta pada sosok gadis yang mencintai bunga-bunga. Suatu ketika, ia memberanikan diri mengutarakan perasaannya. Sayangnya, gadis itu menolak! Kesal dengan penolakan itu, Yo tega merusak taman milik sang gadis. Tepat pada saat itu sosok asing muncul dengan bazooka-nya!

Aduh! Ada moncong bazooka tepat di depan hidungku. Melebarkan pandanganku, kudapati bocah sekitar usia tiga belas tahun pirang bermata biru tengah menodongku dengan senjata api. Tunggu. Senjata api? Dari mana dia datang? Siapa dia? Sejak kapan ia ada di sana? Dedemit? (halaman 27).

Cerpen bergenre futuristik ini ditulis dengan perpaduan cinta remaja dan alam yang cukup baik. Pesan moral yang disampaikan sederhana dan tepat mengena.

“Ya, cuma merusak kebun. Cuma membuang sampah, cuma membuang sedikit limbah, cuma menebang sedikit pohon, dan masih banyak ‘cuma’ lainnya. Semua orang sepertimu tak memiliki kesadaran hingga harus dipukul dengan undang-undang. Menyebabkan anak-cucunya sengsara (halaman 32).

Cerpen lain dalam buku ini akan membuat kita menyadari bahwa banyak cara mengekspresikan cinta pada lingkungan. Menjaga alam adalah kewajiban dan tanggung jawab bersama.

Terlepas dari beberapa cerpen yang masih terasa kurang dalam penggarapan tema, buku ini mampu menginspirasi para pembaca untuk semakin peduli pada nasib bumi di masa mendatang.