Pacarmu Belum Tentu Jodohmu dimuat di duajurai.com

Jumat, 17 April 2015
Resensi Buku Pacarmu Belum Tentu Jodohmu dimuat di duajurai.com Rabu, 01 April 2015


Memaknai Cinta dengan Cara Tepat
Oleh: Karunia Sylviany Sambas


DATA BUKU
Judul : Pacarmu Belum Tentu Jodohmu
Penulis : Muhammad Syafi’ie el-Bantanie (@Tazkiya_Nafs)
Penerbit : Wahyu Qolbu
Cetakan : I, 2014
Tebal : x + 206 halaman
ISBN : 979-795-877-9

Masa remaja rentan diiringi pelampiasan ekspresi yang berlebihan hingga terkadang langkah tak terarah. Remaja ingin menjadi pusat perhatian dan mendapatkan tempat dalam kelompok teman sebaya (peer group). Tameng ilmu agama menjadi salah satu hal yang harus diperkuat.

Buku Pacarmu Belum Tentu Jodohmu mengajak pembaca, khususnya remaja, untuk berbicara tentang fenomena pacaran. Penulis menyusun buku ini berdasarkan pengalamannya dalam membimbing dan menerima konsultasi dari para remaja seputar pacaran.

Fenomena pacaran telah banyak melahirkan tragedi pilu, kisah sedih yang menyayat hati. Bagaimana masa depan seorang remaja putri yang masih duduk di bangku kelas dua SMA yang harus menerima kenyataan bahwa dia hamil. Ia mengaborsi janinnya dan didera penyesalan setelahnya. Sekolahnya pun terhenti (hal. 2).

Lain lagi yang terjadi pada seorang gadis baik-baik. Ia terjebak dunia pergaulan salah hingga akhirnya menjalin hubungan terlarang dengan seorang pria. Tragisnya, ia tertular HIV dari pasangannya tersebut (hal. 6). Apakah benar, cinta suci melegalkan hubungan seks di luar nikah? Tentu tidak!

Keberaniannya untuk melamarmu pada orangtuamu adalah keseriusannya untuk menikahimu (hal. 18). Pria yang ingin menghalalkan cintanya tentu tak akan sembarang dalam mengumbar kata ‘aku cinta padamu’ pada wanita yang disayanginya. Ia tahu cara suci untuk menyucikan cintanya. Pacaran hanya menunjukkan ketidakseriusannya, lebih-lebih kalau itu merupakan perangkap semata agar wanita terlena.

Selagi muda, sibukkan diri dengan berprestasi dan bergaul dengan teman-teman yang memberi energi positif. Demi masa, sesungguhnya waktu berlalu begitu cepat. Ia ibarat pedang tajam yang menikam, yang terbuai akan kalah dan binasa. Berlomba-lombalah dalam berbuat kebaikan. Bila telah siap dan menemukan pendamping hidup yang tepat, kuatkan tekad untuk melamar. Proses ini tentunya menurut etika Islam agar mendapat keberkahan Allah SWT.

Di bab selanjutnya, penulis juga merinci tentang pentingnya menjaga komitmen bagi kedua belah pihak setelah proses lamaran berlangsung serta berapa dan bagaimana mahar yang baik itu. Mahar yang paling baik adalah mahar yang paling sederhana (hal. 148).

Di bagian akhir, penulis menguraikan inspirasi nikah tanpa pacaran. Di sini diuraikan kisah Ustadz Yusuf Mansur, Ustadz Felix Siauw, Rendy Saputra dan Hendy Setiono. Keempatnya memilih menikah muda tanpa pacaran. Merintis usaha yang penuh ujian hingga akhirnya meraih kehidupan mapan. Salah satu golongan yang akan memperoleh pertolongan Allah adalah orang muda yang menikah karena ingin menjaga kehormatan dan kesucian dirinya (hal. 191).

Sebagai bonus, penulis juga memberikan doa-doa yang bisa diamalkan agar dikaruniai jodoh yang baik (hal. 194).

Kehadiran buku ini menjadi semacam oase di tengah pergaulan remaja yang rentan bersinggungan dengan fenomena pacaran. Pembaca dapat belajar cara memaknai cinta suci dengan cara yang tepat.

DATA PERESENSI
Karunia Sylviany Sambas. Penulis adalah alumnus Program Studi D-IV Bidan Pendidik Fakultas Keperawatan Universitas Sumatera Utara.

Raya Sayang Mama dimuat di Harian Analisa Medan

Cerpen Anak Raya Sayang Mama dimuat di Harian Analisa Medan edisi Minggu, 21 Desember 2014

dimuat di analisa medan

Raya Sayang Mama
Oleh: Karunia Sylviany Sambas

“Huaaa ... aku telat!” Raya langsung turun dari atas tempat tidurnya. Jam di dinding sudah menunjukkan pukul 06.45 WIB. Setelah mengambil handuk, ia langsung bergegas menuju kamar mandi. Sekolah akan dimulai pukul 07.30 WIB. Hari ini tidak ada yang mengantar. Bang Rama sedang ada tugas kuliah ke luar kota.

Setelah mandi dan berpakaian rapi, gadis kecil itu segera menuju ruang makan. Ia langsung menyambar sepotong roti dan segelas teh manis yang telah dingin.
“Mama! Raya telat. Gimana ini?” Raya berteriak hingga mengejutkan mama yang sedang mencuci piring. “Mama kok nggak bangunin Raya, sih?”

“Mama tadi ngantar kue ke warung Bi Munah. Sebelumnya, mama udah ketuk kamar Raya tapi nggak ada jawaban. Raya kunci pintunya, kan?” Mama menoleh ke arah Raya yang masih cemberut.

“Raya, nggak boleh cemberut begitu. Ayo, mana senyumnya? Mama mau lihat.” Mama mendekati Raya dan mengelus rambut putri kesayangannya.

Raya diam saja. Ia masih kesal.

Setelah menghabiskan roti dan teh, ia menyambar tas dan langsung pergi tanpa menyalami tangan mama. Mama yang melihat tingkah putri semata wayangnya hanya geleng-geleng kepala.

Pukul 07.20 WIB Raya tiba di kelas.

“Syukurlah, aku belum terlambat,” ucapnya lirih.

Raya masih cemberut. Linda, teman akrabnya, menyapa sambil memperlihatkan kuciran barunya.

“Lihat, mama aku yang buat nih. Cantik, kan?” Raya melirik ke arah Linda.

“Ya, cantik. Mama kamu baik ya. Masih sempat mengucir rambut pagi-pagi. Kalau mamaku sibuk terus. Mana sempat mengucir rambutku.”

Linda mendekati Raya. Seingatnya, selama berteman dengan Raya dari kelas 1 hingga kelas 2 ini, belum pernah temannya itu mengeluh tentang mamanya.

“Mamamu pasti nggak bermaksud seperti itu, Raya. Semua mama pasti berbuat yang terbaik untuk anaknya.” Linda duduk di samping Raya.

“Bicaramu kayak orangtua aja!” ucap Raya ketus.

“Kak Amila yang bilang gitu. Waktu aku sakit kemarin dan nggak ada mama yang nemenin aku di rumah sakit, aku juga marah. Aku kira mama nggak peduli sama aku. Terus Kak Amila bilang, mama lagi buat kue untuk ngerayain ultahku. Hmm, aku salah udah nilai mama kayak gitu.”

Raya terdiam.

“Apa iya yang dibilang Kak Amila?” Raya agak ragu.

Sejenak kemudian ia mulai mengingat-ingat kejadian tadi pagi. Mama memang selalu sibuk. Sejak papa meninggal satu tahun lalu, Mama membuka usaha menjual kue-kue. Dagangan mama laris manis. Setiap hari mama bangun lebih awal dan tidur pun larut malam. Mama pasti lelah.

Tak terasa air mata Raya menitik.

“Loh, Raya kok nangis?” Linda bingung.

“Aku ... aku ngerasa bersalah sama mama. Padahal tadi pagi mama udah bangunin aku kok. Aku aja yang kelewat ngantuk jadi nggak dengar. Salahku juga, baca komik sampai lupa waktu. Habis salat subuh, aku tidur lagi.” Raya terlihat menyesal.

“Mamamu pasti paham kok.” Linda tersenyum.

“Tadi pagi aku juga sengaja nggak salaman sama mama,” tambah Raya. “Apa mama masih mau maafin aku?”

“Pasti itu Raya! Mama itu bidadari surga yang tinggal di dunia. Kasih sayangnya nggak akan pernah habis untuk kita, anak-anaknya.”

“Kak Amila yang bilang?” celetuk Raya.

‘‘Kalo itu, aku dengar dari Bu Ustazah yang ceramah di televisi!”

Raya tersenyum.

“Kamu pintar, Lin. Terima kasih, ya.”

Raya menghapus air matanya. Gadis kecil itu tak sabar menanti bel pulang sekolah berbunyi.

Review 77 Cahaya Cinta di Madinah

Minggu, 05 April 2015

Cahaya Cinta dari Kota Nabi
Oleh: Karunia Sylviany Sambas

DATA BUKU

Judul : 77 Cahaya Cinta di Madinah
Penulis : Ummu Rumaisha
Penerbit : al-Qudwah Publishing
Cetakan : I, 2015
Tebal : 256 halaman
ISBN : 978-602-317-023-4

Blurb:

“Aku tidak kuasa menanggung hidup tanpa Zainab, wahai Rasulullah,” ucap Abu al-Ash bin Rabi.

***

“Wahai Istriku, berilah ridhamu atas keberangkatanku ke medan perang. Sungguh, aku bahagia bersamamu. Hatiku penuh dengan cinta. Namun cintaku kepadamu, bukankah tak sepantasnya melebihi cintaku pada panggilan-Nya?” kata Julaibib.

“Berangkatlah! Doa dan ridhaku menyertaimu, wahai suamiku. Aku pun bahagia bersamamu. Bunga-bunga cinta baru saja mekar dalam hatiku. Namun cintaku padamu, tak sepantasnya menghalangiku untuk melepasmu memenuhi panggilan-Nya.”

***

Itulah sepenggal kisah para sahabat dalam lika-liku cinta mereka kepada Allah, rasul-Nya, agama, dan kepada orang-orang terkasih. Rasa cinta yang menggelora, penuh semangat, dan keikhlasan luar biasa mengantarkan mereka kepada gerbang cinta sejati.


Review :

Alhamdulillah, buku ini saya dapatkan langsung dari penulisnya, lho. Mbak Ririn Rahayu Astuti Ningrum ;) Saya terpilih bersama keempat pemenang lainnya dalam sebuah ajang Giveaway yang beliau adakan di akun facebook-nya beberapa waktu yang lalu. Oke, langsung aja ke review saya, ya .... :D

Buku setebal 256 halaman ini memuat 77 kisah. Seperti judulnya, 77 Cahaya Cinta di Madinah. Kisah cinta disajikan cukup singkat. Sekitar dua sampai tiga halaman saja. Menurut saya, penyajian seperti itu sudah tepat. Kisah yang disuguhkan tepat mengena, tidak melebar kemana-mana. Dan lagi, beberapa referensi foto di akhir cerita membuat buku ini kian menarik.

Kata pengantar sang penulis begitu menohok kita. Sang generasi muda.

“Umat terdahulu semestinya menjadi suri teladan bagi generasi selanjutnya, agar ajaran Islam tetap terjaga. Namun kenyataannya saai ini tidaklah demikian. Umat Islam terutama generasi muda, lebih mengidolakan tokoh-tokoh yang bukan dari generasi Rasulullah dan para sahabat.”

Suguhan kisah dalam buku ini akan menambah pengetahuan tentang ragam cinta yang terjadi di tanah yang dikenal dengan Madinatun Nabi (Kota Nabi) tersebut.

Penasaran, bukan? ;)

Resensi 77 Cahaya Cinta di Madinah Inshaa Allah segera menyusul di postingan selanjutnya, ya, Sahabat.