Rambut Indah Meni dimuat Analisa Medan

Rabu, 23 April 2014
Assalamu'alaikum, Sahabat Khansa.

Cerpen Anak Rambut Indah Meni dimuat di Harian Analisa Medan edisi Minggu, 27 Oktober 2013

dimuat di Harian Analisa Medan edisi Minggu, 27 Oktober 2013

Rambut Indah Meni
Oleh: Karunia Sylviany Sambas

Meni memiliki rambut panjang yang indah. Mamanya memang sangat telaten merawat rambut putrinya. Meni sangat senang. Mama sering membelikan pita-pita lucu untuk menghias rambutnya.

Hari ini ada jadwal piket di kelas. Meni berangkat agak pagi karena harus membersihkan kelas.

“Selamat Pagi, Mona.” Ia menyapa Mona yang sudah terlebih dahulu tiba di kelas.

“Rambutmu makin cantik aja, ya Meni.” Celetuk Mona yang mengagumi rambut Meni. “Sayang, rambut pendekku belum panjang sampai hari ini.” Gadis kecil itu memandang rambutnya dengan sedih.

“Jangan sedih Mon, sebentar lagi juga panjang, kok.” Meni mencoba menghibur. Mona menggangguk. Kemudian ia membantu Meni membersihkan kelas.

Meni dan Mona berteman akrab. Mona adalah teman yang baik dan pintar. Tak jarang mereka belajar bersama. Meni lemah di matematika. Mona sering membantu Meni memahami pelajaran yang kurang dimengertinya. Meni mengajak Mona ke rumahnya. Mama Meni membuatkan kue-kue yang enak.

Suatu hari kelas 4B kedatangan seorang murid baru. Meyriska namanya. Siswi pindahan dari luar kota. Ia juga memiliki rambut panjang. Namun, tak seindah rambut Meni. Ia sangat iri melihat rambut Meni. Pernah suatu kali ia sengaja meletakkan kumbang di rambut Meni. Meni menjerit-jerit ketakutan. Rambut panjangnya diacak-acak hingga berantakan. Mona membantu melepaskan cengkeraman kaki kumbang yang melekat di rambut Meni.

“Rambutnya pasti rusak,” pikirnya.

Esoknya, Meni kembali ke sekolah dengan riang. Berkat mama, rambut indahnya kembali. Meyriska cemberut melihatnya. Kemudian muncul ide buruk dipikirannya. Ditempelkannya sisa permen karet di sandaran kursi Meni saat jam istirahat. Meni tak menyadarinya. Saat jam pulang sekolah tiba, rambut Meni tak dapat dilepas dari bangku. Ujungnya melekat pada permen karet. Mona membantu Meni melepaskannya. Sesampainya di rumah, mama sangat terkejut. Kali ini mau tidak mau rambut Meni harus dipotong. Meni sangat sedih.

Kini rambut Meni tinggal sebahu. Meyriska tersenyum puas. Tak ada lagi yang menjadi saingannya. Meni memandang rambut pendeknya. Ia terlihat sedih.

Sepulang sekolah, Meyriska mengayuh sepedanya dengan gembira. Saking senangnya ia tidak melihat ada batu kecil di persimpangan jalan. Sepeda oleng menimpa tubuhnya.

“Aduh!” Ia mengerang kesakitan.

Meni dan Mona yang kebetulan pulang belakangan hari itu melihatnya. Mereka menolong Meyriska.

“Ayo, ke rumahku Mey. Nggak jauh dari sini kok. Biar luka kamu diobati mama.”
“Tapi ....” Meyriska agak ragu.

“Nggak apa-apa kok. Yuk!” Meni merangkul Meyriska. Mona membawakan sepeda.

Mama Meni mengobati luka di lututnya. Meyriska merasa tidak enak hati. Timbul keinginan untuk mengakui kesalahannya, tapi ia belum berani.

Keesokan paginya, Meyriska mengakui kesalahannya. Ia meminta maaf pada Meni. Meni agak terkejut, tapi tak lama kemudian ia tersenyum.

“Kamu mau maafin aku, Meni?” tanya Meyriska takut-takut.

“Tentu saja!” Meni menyambut uluran tangan Meyriska.

“Cieee ... ada apa nih? tanya Mona yang muncul dari kejauhan.

“Sini .. sini Mona. Kita punya teman baru nih.” Meni merangkul Mona dan Meyriska. Kini mereka bertiga berteman akrab.

Jurus Jitu Neyla di Radar Bojonegoro

Selasa, 22 April 2014

Jurus Jitu Neyla
Oleh : Karunia Sylviany Sambas

Hari ini hari minggu. Ayah duduk di teras. Beliau sedang membaca koran minggu pagi. Walaupun hari minggu, biasanya ayah jarang ada di rumah.

Aku hanya memperhatikan ayah dari balik pintu kamar. Takut kalau ayah mengajakku ikut membaca juga. Walaupun sudah kelas 3 SD aku masih kurang lancar membaca. Sudah berkali-kali aku mencobanya, tapi tetap tidak bisa. Aku jadi malas belajar lagi. Kalau Bu Ningrum menyuruh membaca, aku pasti meminta bantuan Neyla, teman sebangkuku, untuk membacakannya dengan pelan. Jadi aku tinggal mengikutinya saja.

“Gita … sini, Sayang,” panggil ayah dari ruang tamu. “Ada cerita anak yang bagus, kamu pasti suka.”

“Aduh, bagaimana ini? Ayah tidak boleh tahu kalau aku belum lancar membaca.” Aku ketakutan.

“Sayang …,” panggil ayah sekali lagi.

Perlahan aku mendekati ayah. Aduh, aku pasti ketahuan. Badanku gemetaran. Tiba-tiba handphone ayah berdering.

“Hallo, Pak Hermanto. Baik, Pak. Saya akan segera ke sana.”

Syukurlah, ternyata ada tugas kantor yang harus ayah serahkan hari ini. Aku selamat!

“Gita teruskan membacanya ya. Ayah pergi dulu. Kalau ada apa-apa hubungi saja ya, Sayang,” ujar ayah sambil tersenyum.

Aku mengangguk. Hari minggu di rumah sendirian bukan hal baru. Ibu meninggal waktu aku masih kelas 1 SD.

Kubuka koran yang diletakkan ayah di atas meja. “Pu … t … ri ya … ng hi … hi … lang. Ah, susah sekali membaca,” keluhku. Baru sampai di judul saja aku sudah menyerah. Bagaimana ini?


Setelah meminta izin pada ayah lewat telpon, aku pergi ke rumah Neyla. Sudah lama ia mau mengajariku membaca, tapi aku selalu menolak. Aku memang tidak sabaran mengeja kalimat yang panjang-panjang itu.

Kali ini aku harus belajar membaca. Aku tak mau terus-terusan sembunyi dari ayah. Beliau pasti sedih kalau tahu aku belum lancar membaca.

“Permisi, selamat siang ….”

“Ayo, masuk, Ta. Wah, tumben kamu main ke rumahku,” ujar Neyla.

“Silakan duduk, Ta.” Neyla tersenyum. “Ada apa nih, Ta?”

“Ka … mu mau mengajariku membaca, La?” tanyaku pelan.

Neyla menatap mataku.

“Beneran, Ta? Kemarin-kemarin kamu selalu nolak kalau kuajak belajar membaca.”

Aku menunduk.

“Ehm, jangan sedih, Ta. Aku mau kok. Yuk!” Neyla merangkul tanganku menuju kamarnya.

Neyla dengan sabar mengajariku membaca. Aku hampir putus asa. Neyla tetap memberiku semangat.

“Kamu pasti bisa, Ta. Ayo dicoba lagi!”

Aku kembali membaca.

“Aku ke belakang dulu ya, Ta. Kamu terusin aja bacanya.” Aku mengangguk.

Kulihat ada majalah di atas meja belajar Neyla. Aku mendekatinya. Ada gambar kelinci biru yang lucu.

Perlahan kubolak-balik halaman majalah itu. Gambar-gambarnya menarik. Ada salah satu cerita bergambar kodok hijau yang sedang mengambil kacamata di dasar telaga. “Ko … mal dan Ko … di.”

Tiba-tiba pintu kamar terbuka. Neyla masuk membawa sekaleng biskuit dan jus jeruk.

“Yuk, cicipin dulu. Nanti kita sambung lagi.”

“Pelan-pelan aja, Ta. Nanti juga lancar kok. Aku dulu lancar membaca karena baca majalah yang kamu pegang itu. Ceritanya bagus-bagus, lho.”

Aku tersenyum. “Senang ya, La kalau kita lancar membaca.”

“Kamu baca aja cerita yang gambarnya kamu senangi. Pasti cepat lancar.”

“Beneran, La?”

Neyla menggangguk sambil tersenyum. “Coba aja.”

Aku mulai membaca. Walaupun agak terbata-bata, akhirnya aku berhasil menyelesaikan separuh cerita.

“Wah, keren La. Kodi itu kodok baik hati. Beda banget sama saudaranya, Komal. Gimana lanjutan ceritanya ya?”

“Ayo, Ta. Diterusin. Biar kamu tau gimana akhir ceritanya!” Neyla makin semangat. Akhirnya aku berhasil menyelesaikan cerita itu.

“Ceritanya bagus banget, Ta.”

“Gimana jurus jitu ala Neyla? Keren kan?” Neyla mencolek hidungku.

Aku tersenyum ceria. Hari minggu depan aku tak perlu sembunyi lagi. Ayah pasti senang.

Cerdak Story Teenlit Magazine Mei 2013



Cerdak Story Teenlit Magazine Mei 2013 

Kala Penyihir Disapa Cinta
Oleh : Karunia Sylviany Sambas

Hari ini seisi sekolah Vollenwitch heboh. Khususnya makhuk cantik dan centil itu. Ah, apa sih yang sedang mereka bicarakan?
“Rest, pokoknya aku mesti bisa naklukin makhluk tampan itu?” Ale si penyihir bertopi ungu buka suara.
“Aku juga naksir berat sama Jang Ers. Aku yang bakalan naklukin hati dia!” Arest tak kalah aksi.
***
Mereka berdua murid tingkat akhir sekolah penyihir yang terkenal. Kemana-mana selalu berdua. Dandanan mereka juga mirip. Bedanya, Ale bertopi ungu, sedangkan Arest bertopi pink.
Hari ini, penyihir cantik dan centil memulai aksinya, mencoba menarik perhatian makhluk tampan. Sapu terbang melayang di ruangan kelas. Eh, kenapa Jang Ers betah membaca kitab mantra di kursinya? Si cool ini masih malu-malu rupanya.
Hmm … sebenarnya ia tak benar-benar membaca. Ada sesuatu yang tengah dipikirkannya. Apa itu? Dia belum mau buka kartu. Kita simak kisah ini selanjutnya.
“Hai Jang Ers, kamu rajin banget deh baca kitab mantra. Mau dong ditularin rajinnya.” Arest tersenyum centil.
Jang Ers menoleh sejenak.
“E … eh ….” Ia buru-buru menutup kitab.
“Aku kan baru di kelas ini, jadi masih harus belajar banyak.” Jang Ers tersenyum.
***
“Rest, gimana kalo kita buat kompetisi yang sehat. Kita adain lomba, yang menang boleh lanjut pedekate sama Jang Ers. Oke nggak tuh?”
“Hmm … usul kamu boleh juga, tapi … bukannya kamu juga naksir sama Jang Ers?” ledek Arest.
“Nggak apa-apa deh. Kita kan sobatan kayak apa tuh …. Oh ya, kepompong! Hihihi.” Ale cekikikan.
 “Oke! Kalo gitu kita bertarung secara betina ya.” Mereka tos ala penyihir. Saling menautkan topi kerucut.
***
            Hari yang ditentukan tiba. Olala … pertandingan khusus untuk Ale dan Arest! Penyihir yang bersahabat sejak tingkat pertama itu memulai aksi mereka. Setengah memaksa mereka meminta Ayre, penyihir yang dijuluki ratu masak sebagai juri.
            “Satu … dua ….” Aba-aba diberikan. Ale dan Arest telah siap di posisinya masing-masing.
“Tiga!!!” Mereka segera meluncur.
Sapu terbang menusuk tajam.
            Swing … swing …
            Mereka berputar di antara pohon kelapa yang menjulang tinggi.
            Hap! Ale dan Arest hinggap di salah satu pohon. Mereka memerhatikan sebuah restoran terlengkap dan terlezat di kota mereka dengan seksama. Sang koki terlihat sedang sibuk mengolah suatu masakan.
            Tak lama, Arest tersenyum. “Aku udah tau rahasianya. Dah … Ale sayang.” Arest beranjak meninggalkan Ale. Ale sebal. Pikirannya kacau. Konsentrasi pun buyar.
            “Gawat!” batin Ale.
Arest mulai terlihat sibuk di dapur. Berpindah dari satu meja ke meja lain. Ia bekerja dengan cekatan.
Penyihir bertopi pink itu sudah menyelesaikan separuh pekerjaannya ketika Ale tiba.
“Kamu lama banget sih, Sayang,” ujar Arest tanpa melihat wajah Ale.
Waktu semakin sempit. Merasa peluangnya kian menipis, Ale gusar, tapi cepat ia mengerjakan tugasnya.
 “Yap! Waktu habis!”
“Tadaa ….. Fiuhh, akhirnya selesai juga,” Arest menyeka peluhnya.
“Hampir saja!” Ale telah siap dengan hidangannya.
Sang juri telah mencicipi hidangan itu.
Somay kamu enak, Ale,” ujar Ayre. Ale tersenyum kemenangan. “Tapi, hidangan Arest lebih enak. Sepertinya kamu lupa menambahkan kecap.” Ucapan terakhir itu membuat Ale lemas seketika. Topi kerucutnya miring ke kiri. Ia tak peduli.
            Arest bersorak gembira.
***
Esoknya di kelas, Ale terlihat murung.
Tak jauh di seberang Jang Ers tengah memerhatikan penyihir cantik bertopi ungu itu.
“Hai Ale, mau membantuku memahami kitab mantra ini?”
Wow, pucuk dicinta ulam pun tiba. “Kesempatan bagus nih.” Ale tersenyum penuh arti.
Ale dan Jang Ers segera akrab.
“Memahami kitab mantra yang tebal ini terasa ringan kalau berdua sama kamu,” ujar Jang Ers hari itu. Kata-kata itu berhasil menghadirkan rona kemerahan di pipi Ale.
Kedekatan dua penyihir ini membuat Arest cemburu bukan kepalang.
“Kan aku yang menang, tapi …. Ah, sudahlah.” Perlahan Arest menjauh. Sayangnya, Ale tidak menyadari perubahan sikap Arest.
***
Hari ini Arest terlihat gelisah. Bagaimana tidak? Dua hari lagi ujian kenaikan tingkat akan dilaksanakan. Ia kasihan pada Ale. Semenjak dekat dengan Jang Ers, nilai-nilai Ale menurun drastis. Padahal, ia adalah pelajar terbaik selama dua tahun berturut-turut. 
Arest menyadari sesuatu. Sepertinya ada yang tidak beres. Nilai Jang Ers menanjak naik. Dan Ale, sebaliknya.
“Oh, tidak! Ale dijebak!”
Arest menemui Ale hari itu juga.
“Apa? Kamu jangan jelek-jelekin Jang Ers, ya.” Ale ketus.
Arest sedih.
***
“Aku udah berhasil naklukin hati Ale. Sebentar lagi aku akan jadi bintang kelas Vollenwitch. Gak sia-sia aku pindah sekolah untuk memperbaiki citra penyihir pecundang. Hahaha.” Tawa itu memecah kesunyian di salah satu ruang. Jang Ers sedang berbicara dengan seseorang.
Deg! Ale seperti baru saja terbangun dari tidur panjangnya. Hatinya sakit. Ia telah mengabaikan Arest, sang sahabat sejati yang sudah mengingatkannya tempo hari.
Segera ia menuju kelas, mencari sosok yang begitu ia rindukan. Penyihir bertopi pink itu hampir terjengkang dari kursi ketika Ale menubruknya dengan haru biru. Penyihir cantik dan centil harus bersatu. Akur!

Ayo Bangun, Carla! dimuat Majalah SOCA

Assalamu'alaikum, Sahabat Khansa.

Alhamdulillah, naskah saya dimuat di Majalah SOCA edisi 18 tahun 2014. Sayangnya, ini menjadi naskah pertama dan terakhir yang tayang di media ini, berhubung majalah ini sudah tidak beredar lagi.

Selamat membaca, ya.


Ayo Bangun, Carla!
Oleh: Karunia Sylviany Sambas

Carla, si peri pemalas baru saja bangun ketika matahari sudah tinggi. Ia bersiap-siap hendak keluar rumah.

“Aih … aih … Carla, setiap hari bangun ketika hari sudah siang,” omel Dera, peri cantik sahabat Carla. Carla hanya tersenyum mendengarnya. Ia sudah kebal dengan omelan seperti itu. Setiap hari ibu dan ayah juga selalu mengatakan hal yang sama padanya.

“Carla … !!! jerit Dera. Carla tak peduli. Ia melanjutkan perjalanannya.

Carla terbang menuju taman bunga. Ia tak sabar ingin mengumpulkan madu. Persediaan di rumah sudah habis. Biasanya ibu dan ayah yang selalu menyediakannya. Namun kali ini kedua orang tuanya sedang ditugaskan ratu peri mengumpulkan madu di taman bunga kota lain. Terpaksa ia harus memenuhi kebutuhannya itu sendiri.

“Hai, Carla. Madu sudah habis. Sebaiknya kamu pulang saja. Dasar peri pemalas!” kata Odet. Peri-peri lain yang bersama Odet tertawa mendengarnya. Mereka sudah ingin kembali ke rumah masing-masing ketika Carla tiba di sana.

Carla sedih mendengarnya. Ia tak dapat membayangkan kalau nanti malam harus menahan lapar. Carla terbang mendekati bunga-bunga. Benar saja. Tak ada madu yang tersisa untuknya. Ia sudah sangat kelelahan. Sayap-sayapnya mulai melemah, tatapan matanya kabur. Mungkin sebentar lagi ia akan jatuh. Carla masih berusaha mempertahankan diri. Namun angin yang bertiup cukup kencang membuat tubuh mungilnya terayun kesana kemari. Akhirnya … brukk! Carla terjatuh di antara bunga-bunga.

Untunglah, tak lama, Dera muncul. Ia mengguncang-guncang tubuh Carla. Namun, Carla sudah terlalu lelah. Ia tak mampu membuka matanya lagi. Dera panik. Dengan tenaga yang dimilikinya, tubuh Carla dinaikkan ke atas punggungnya.

Setelah menempuh perjalanan yang cukup melelahkan, akhirnya Dera berhasil membawa Carla ke rumahnya. Dibuatkannya semangkuk madu hangat untuk Carla. Tak lama, Carla terbangun karena mencium aroma madu. Carla menghabiskan madu hangat itu dalam sekejap.

“Terima kasih, Dera. Aku tidak tahu apa yang akan terjadi padaku kalau kamu tidak datang,” ucap Carla tulus.

Dera tersenyum.

“Lain kali kamu harus berhati-hati Carla. Untung belum ada bangsa semut yang menemukanmu. Aku tidak bisa membayangkan kalau kamu dibawa ke dalam sarang mereka yang sempit itu.” Dera menggidik ngeri.

Carla tersenyum kecut. Dalam hati ia sangat bersyukur. Ia juga tidak bisa membayangkan bagaimana nasibnya kini kalau Dera tidak menolongnya. Bisa-bisa ia sudah menjadi santapan lezat bangsa semut.

“Oh, ya. Ngomong-ngomong kenapa kamu sampai terjatuh di taman bunga?” tanya Dera bingung.

“Aku lapar sekali. Aku ingin mengumpukan madu. Persediaan di rumah sudah habis,” jawab Carla pelan.

Dera memahami perasaan Carla. Walaupun ia sering kesal karena Carla sering bangun kesiangan, tapi ia juga ingin membuat Carla menyadari kesalahannya.

“Baiklah, besok aku akan menemanimu mengumpulkan madu di taman bunga. Untuk malam ini kamu boleh tidur di rumahku. Aku akan memberimu madu,” kata Dera sambil tersenyum.

“Benarkah?” Carla kegirangan.

“Iya, tapi untuk malam ini saja, ya. Besok kamu harus mencari sendiri.”

Carla mengangguk.



Esoknya, matahari belum terbit. Hari masih gelap. Dera sudah sibuk di dapur. Menyiapkan dua mangkuk madu hangat. Carla masih meringkuk di bawah selimut tebal. Setelah selesai, ia membangunkan Carla.

“Hei, Carla. Ayo, bangun! Kamu tidak mau kehilangan madu lagi, kan?” Dera menarik selimut Carla dengan lembut.

Carla memberengut kesal sambil menarik kembali selimutnya.

“Sebentar lagi, ya. Matahari belum terbit. Aku masih ngantuk,” jawabnya.

Dera berkacak pinggang. Sebuah ide terlintas di pikirannya. Ia mengambil sebuah jam weker dan menyetel waktunya.

“Kriinngg ….” Bunyi jam weker tepat di depan telinga Carla.

“Ayo, peri pemalas! Kamu tidak mau kelaparan lagi malam ini, kan?” Mendengar kata-kata itu, Carla bangkit dengan kesal.

Ia menyantap sarapan dengan mata setengah tertutup.

Tak lama kedua peri itu tampak terbang melewati pucuk-pucuk pohon yang masih basah sisa embun tadi malam. Carla terbang di belakang Dera dengan setengah mengantuk. Tiba-tiba, duukk! Kepalanya membentur sebatang pohon.

“Aduh,” ia mengaduh kesakitan sambil memegang kepalanya.

Dera menoleh dan tertawa melihatnya.

Melihat Dera tertawa, Carla agak kesal. Rasa kantuknya hilang. Cepat ia terbang mendahului Dera. Carla sampai lebih dahulu di taman bunga. Ia mengumpulkan madu dengan semangat. Terbang lincah di antara bunga.

Matahari baru saja terbit ketika mereka sudah selesai mengumpulkan dua keranjang penuh madu.

“Horeee …. Aku berhasil … aku berhasil!” Carla bersorak kegirangan.

Dera tersenyum melihat Carla.

“Terima kasih Dera. Aku beruntung memiliki teman yang baik sepertimu. Maafkan sikapku kemarin-kemarin, ya,” ucap Carla. Ia berjanji akan mengubah kebiasaan buruknya. Ia akan bangun lebih pagi supaya tidak kehabisan madu lagi.



Kirim Fiksi & Puisi Annida Online 2014

Kamis, 03 April 2014

Persyaratan Pengiriman Fiksi dan Puisi Annida Online 2014

SYARAT UMUM

Kirim Tulisan dengan format .doc atau .rtf (usahakan tidak
.docx atau .zip)

Sertakan Juga: Alamat, No Hp, No Rekening (Nama Bank, Atas
Nama)

Tulis pada subjek: rubrik yang dituju-judul naskah. Contoh:
Cerpen: Bunga-bunga Mekar

Pengiriman Tulisan bisa via email ke majalah_annida@yahoo.com

SYARAT KHUSUS

Cerpen
6-8 halaman, spasi 1 1/2, jenis font : Times New Roman, UkuranFont
12 pt, Ukuran Kertas A4, tema bebas, tidak porno/ cabul,
formatkiriman .doc/.rtf. Isi tulisan memberi pencerahan pada pembaca.

Cerbung
6-8 halaman, spasi 1 1/2, jenis font : Times New Roman, UkuranFont
12 pt, Ukuran Kertas A4, maksimal 7 Episode, format kiriman.doc/.rtf.
Isi tulisan memberi pencerahan pada pembaca.

Epik
6-8 halaman, spasi 1 1/2, jenis font : Times New Roman, UkuranFont
12 pt, Ukuran Kertas A4, kisah kepahlawanan (heroik) dalammaupun luar
negeri, format kiriman.doc/.rtf. Isi tulisan memberipencerahan pada
pembaca.

Cerpen Ngocol
6-8 halaman, spasi 1 1/2, jenis font : Times New Roman, UkuranFont
12 pt, Ukuran Kertas A4, tema bebas, bersifat menghibur/ lucu,tidak
porno/ cabul, memberi pencerahan pada pembaca.

Cerpen Roman
6-8 halaman, spasi 1 1/2, jenis font : Times New Roman, UkuranFont
12 pt, Ukuran Kertas A4, tema tentang cinta dan segala turunannya,
tidak porno/ cabul, memberi pencerahan pada pembaca.

Secangkir Syair
Tulisan puisi atau syair yang memberi pencerahan untuk
pembaca,panjang 1-3 hlm, spasi 1 1/2, jenis font: Times New Roman,
UkuranFont 12 pt, Ukuran Kertas A4, tema bebas, tidak porno/ cabul.

HONOR TULISAN FIKSI 2014:

(Banyak media online tidak memberi honor untuk naskah kiriman
pengunjung yang mereka muat, tapi Annida-online berani mengapresiasi
dengan honor untuk naskah dimuat) ^_^

Fiksi terbaik akan mendapatkan honor Rp 150.000 dan wajib
menulis behind the scene penulisan
cerpennya itu untuk rubrik “Dapur Penulis”.

Setiap naskah fiksi (cerpen, epik, cercol, cerpen roman) yang dimuat
mendapatkan honor Rp 70.000.

Secangkir syair terbaik setiap bulannya mendapatkan honor
berupa pulsa.

Keterangan:

Honor dibayarkan selambatnya sebulan setelah pemuatan.

Komplain honor dapat ditujukan ke email nida dengan subjek:
Komplain Honor.

Waktu menunggu pemuatan cerpen di redaksi Annida 2 bulan.
Apabila setelah dua bulan cerpen tidak dimuat, penulis berhak
mengirimkannya ke media lain
Mulai berlaku per 1 April 2014

Sumber : Fanpage Majalah Annida

Yuk Jadi Kontributor Annida

Assalamu'alaykum wr. wb

Ada kabar seru abis, kece badai, gokil parah, super duper wow buat Sobat Nida yang ada di seluruh nusantara bahkan dunia. *Eaaa.

Nida lagi buka kesempatan buat penulis muda berjiwa muda yang satu visi misi untuk memajukan kehidupan bangsa dan agama *halah* buat jadi kontributor web Annida.

Hayooo... siapa yang mau ikutan mewarnai dunia remaja di jagat maya dengan karya? Pasti pada pengen gabung kan??? Nida tau banget deh! Terus gimana caranya sih buat jadi Kontributor Web Annida?!

Persyaratan
Usia 15 – 30 tahun
Beragama Islam
Memiliki passion di bidang penulisan kreatif.
Aktif di social media dan suka baca. Tapi bukan baca isi hati orang ya, Sob. *Ihiyyy.


Tugas

Membuat tulisan minimal 4 kali berbeda rubrik dalam sebulan di Annida. Rubrik yang wajib ditulis oleh kontributor Annida adalah.

1.Info Buku
2.Young Entrepreneur
3.Citizen Journalisme
4.Motivasi/Ngutips/Travelstory/Kisah Sejati

Ketentuan Umum Tulisan

1.Kirim tulisan dengan format .doc atau .rtf (usahakan tidak .docx atau .zip)
2.Sertakan juga foto dan profil singkat penuils, akun fb, twitter dan blog.
3.Tulis pada subjek: rubrik yang dituju-judul naskah dan tulisan Kontributor Annida dalam tanda kurung. Contoh: Info Buku: Bunga-bunga Mekar (Kontributor Annida)
4.Pengiriman Tulisan via email ke majalah_annida@yahoo.com
5.Tulisan essay/artikel yang memberi pencerahan untuk pembaca, panjang 3-10 hlm, spasi 1 1/2, jenis font: Times New Roman, UkuranFont 12 pt, Ukuran Kertas A4, tema bebas, tidak porno/ cabul.

Reward

1.Setiap bulannya kontributor terbaik versi kru Nida dan kontributor terfavorit pilihan Sobat Nida bakal dapat honor masing-masing Rp 150.000.
2.Setiap tiga bulan sekali akan dipilih 10 kontributor utama (freelancer) Annida yang paling aktif dan konsisten menulis. Profil freelancer akan dimuat di web Annida.
3.Freelancer berkesempatan mendapatkan undangan khusus liputan event yang diselenggarakan atau didukung oleh Annida.

Wokeh deh, bagi Sobat Nida yang niat banget buat jadi penulis muda terus berkarya nyata lewat pena, yuk buruan daftar jadi kontributor Annida sekarang juga. Caranya cukup kirim imel CV, alasan singkat kenapa kamu pengin jadi kontributor Annida, dan lampirkan minimal dua tulisan dari empat rubrik wajib yang ditulis oleh kontributor ke majalah_annida@yahoo.com. Jangan lupa tulis di subject imel: Penulis Muda Kontributor Annida_Nama Kamu.

Oya, program Kontributor Annida ini akan dibuka selama tahun 2014. Kalo bisa berkarya nyata lewat tulisan sekarang, ngapain nunggu besok-besok? Yuk daftar sekarang.
***

Note:
1. Buat Sobat Nida yang ingin mengirim tulisan untuk rubrik Info Buku, Young Entrepreneur, Citizen Journalisme, Motivasi/Ngutips/Travelstory/Kisah Sejati tanpa terikat sebagai Kontributor Annida, bisa berkontribusi untuk Annida secara sukalera dan disebut sebagai Volunteer. Untuk Volunteer yang karyanya dipilih sebagai tulisan terbaik di rubrik tertentu akan mendapatkan hadiah pulsa.
2. Seluruh tulisan baik dari kontributor Annida maupun volunteer akan diseleksi oleh redaksi sebelum dimuat di www.annida-online.com.
3. Mulai berlaku per 1 April 2014.

Selengkapnya : https://www.facebook.com/notes/annida-online/yuk-jadi-kontributor-annida/10152355269129289