Sang Maha Pengasih di detakpekanbaru

Senin, 29 Juni 2015

Resensi Buku Sang Maha Pengasih dimuat di detakpekanbaru.com Kamis, 11 Juni 2015


dimuat di detakpekanbaru.com Kamis, 11 Juni 2015

Judul : Sang Maha Pengasih
Penulis : Anisa Widiyarti
Cetakan : I, Maret 2015
Penerbit : Tiga Ananda Creative Imprint of Tiga Serangkai
Tebal : 128 halaman
ISBN : 978-602-366-011-7

Anak Baik Pasti Disayang Allah
Oleh: Karunia Sylviany Sambas

Buku fiksi anak berjudul Sang Maha Pengasih ini memuat 14 kisah menarik yang menunjukkan bahwa Allah Mahabaik. Bagaimana cara sang Khalik menolong hambaNya yang berbuat kebaikan pada sesama. Menolong, maka akan ditolong.

Salah satu kisah dalam buku ini berjudul Menolong Anak Kecil. Dalam perjalanan menuju sekolah Dimas bertemu seorang anak perempuan. Ia menangis tersedu-sedu di pinggir jalan. Ternyata anak perempuan itu kehilangan uangnya! Karena merasa kasihan, Dimas pun memberikan sebagian uang yang dimilikinya. Padahal uang itu sudah pas untuk jajan dan ongkos pulang pergi naik angkutan umum.

Allah sungguh Mahabaik!

Tidak berapa lama kemudian, Dimas bertemu Bang Dul, tetangganya.
“Dimas, mau ke ke sekolah, ya?”
“Wah, kalau begitu, bareng Bang Dul saja. Tempat kerja Bang Dul tidak jauh dari sekolah kamu.”

Maka, Dimas tetap bisa jajan dengan uang yang dimilikinya. Lebih gembira lagi karena Bang Dul menawarkan diri untuk menjemput Dimas setiap hari karena sekolah dan tempat kerja Bang Dul searah.

Kemudian ada pula kisah yang berjudul Mobil Impian. Arkaan sangat ingin memiliki mobil-mobilan yang keren. Ia selalu mengulang-ngulang keinginannya itu dalam setiap doanya.

“Ya, Allah, izinkan Arkaan punya mobil-mobilan yang keren, ya.”
Arkaan menabung dengan sabar sampai akhirnya tabungan Arkaan cukup untuk membeli mobil-mobilan berbentuk jip. Dengan perasaan sangat senang, ia pergi menuju toko.

Tapi ... uang Arkaan hilang. Ternyata kantong celananya bolong!
Arkaan mengembalikan mobil-mobilan jip ke rak toko dengan perasaan kecewa. Sesampainya di rumah, sesuatu yang membahagiakan ternyata sudah menunggu Arkaan. Ia mendapatkan mobil-mobilan balap radio kontrol dari saudara sepupunya. Arkaan tersenyum. Ternyata Allah mengabulkan doanya. Caranya bukan dengan membeli melainkan ada yang memberi.

Allah memang Mahabaik!

Kisah-kisah dalam buku ini dikemas apik dengan ilustrasi penuh warna yang menarik. Selamat membaca!

Nayla Tidak Takut Lagi versi Audio

Assalamu'alaikum, Sahabat Khansa.

Cerpen Anak Nayla Tidak Takut Lagi di sini sudah didongengkan oleh Kang Acep, lho! ;)

Silakan klik Cerpen Anak Nayla Tidak Takut Lagi versi Audio untuk mendengarkan suara merdu beliau :D

Terima kasih, Kang Acep. Terima kasih, Kompas Klasika.

Selamat mendengarkan.
Semoga bermanfaat, ya!

#CatatanHariKeduaBelasRamadan1436H

*Mohon maaf, versi audio cerpen anak tersebut sudah tidak dapat ditemukan pada halaman web. 

Tema Dongeng Nusantara Bertutur Kompas Klasika edisi Juli 2015

Minggu, 21 Juni 2015
Assalamu'alaikum wr wb, Sahabat Khansa

Di hari kelima Ramadan ini, saya akan menuliskan sebuah entri keren ^_^

Siiiaaap???

Ini dia! ;)

Tema Cerpen Anak Kompas Klasika Nusantara Bertutur edisi Juli 2015

Kompas Klasika edisi Juli 2015

Selamat kirim-kirim, ya! ^_^

Selamat berpuasa. Semoga keberkahan Allah SWT selalu menyertai kita. Aaamiin yaa Robbal'alamiin.

Naskah dimuat di Nusantara Bertutur

Senin, 15 Juni 2015

Assalamu'alaikum, Sahabat Khansa.

Ada yang penasaran dengan naskah seperti apa yang dimuat di rubrik Nusantara Bertutur Kompas Klasika?

Berikut beberapa naskah saya yang pernah dimuat di rubrik Nusantara Bertutur Kompas Klasika



kompas klasika nusantara bertutur

Bagaimana cara mengirim naskah ke rubrik Nusantara Bertutur Kompas Klasika? Cek di postingan ini, ya
 
Selamat kirim-kirim, teman-teman ^_^

Nayla Tak Takut di Nusantara Bertutur


Cerpen Anak Nayla Tidak Takut Lagi dimuat di Kompas Klasika Nusantara Bertutur edisi Minggu, 14 Juni 2015

Assalamu'alaikum, Sahabat Khansa.

Alhamdulillah. Ini adalah kali kedua cerpen saya berhasil lolos seleksi NuBi (panggilan sayang Nusantara Bertutur) ^_^

Istimewanya, cerpen ini dimuat pada H-4 bulan suci Ramadan 1436 H. 

Tokoh dalam cerita fiksi ini nyata adanya. Nayla, si adik bungsu. Azi, satu-satunya anak lelaki dalam keluarga. Papa, pria terhebat dalam hidup saya. Beliau telah berpulang ke rahmatullah pada 26 April 2015. 

Selamat membaca, ya, teman-teman :)


dimuat di Kompas Klasika Nusantara Bertutur edisi Minggu, 14 Juni 2015


Buat yang ingin kirim naskah ke NuBi, silakan klik di sini

Semoga jejak saya kian banyak tertapak. Aamiin. ^_^
Nantikan posting-an selanjutnya, ya. 

Kuis Matahari Mata Hati

Jumat, 12 Juni 2015

Mata Hati, Kau Bisa Melihat dengan Sempurna!

Aku berjalan menyusuri sebuah lorong. Lorong itu gelap gulita. Indera penglihatanku seakan buta. Terus aku telusuri lorong itu. Lambat laun seberkas cahya mulai tampak. Cahyanya mula-mula menyilaukan namun lambat laun mulai meredup. Tidak! Tidak! Aku harus segera menuju cahya itu sebelum ia menghilang.

Hanya berjarak beberapa langkah, hampir dapat! Cahya itu melesat cepat.

Aku terduduk lemas. Kepalaku mendadak pusing hebat.

“Masih ada kesempatan, Via!” Terdengar suara menggema.

Aku menoleh ke kiri dan ke kanan. Sumber suara tidak mampu kutemukan. Aku kembali merenung. Masuk dan terjebak ke lorong ini adalah salahku.

Perlahan kutanya hati. Dengan bahasa santun ia bertutur, “Belajar keraslah demi nilai terbaik. Masih ada kesempatan!”

Ibu menghendaki kuliah kesehatan. Aku memilih keguruan. Perlahan masalah dalam akademik menghampiri. Nilai-nilai harus segera diperbaiki. Bila tidak, tentu sia-sia yang telah kujalani. Baiklah! Bukan saatnya tenggelam dalam mental pecundang. Aku harus kembali berjuang!

Mata hati, kau bisa melihat dengan sempurna!

NB : Jumlah kata 147



Luka, Allah SWT Tegur yang Terlupa


KUIS GIVEAWAY RAMADAN IN LOVE

Ada satu pengalaman paling berkesan di ramadan tahun lalu. Saat itu saya masih menempuh pendidikan di salah satu PTN di Kota Medan.

Bagian pinggir kanan jempol kaki kanan saya mengidap ‘penyakit aneh’. Mengeluarkan nanah bercampur darah. Nyeri luar biasa harus saya rasakan ketika pergi ke kampus. Terjepit di ujung sepatu membuat kaos kaki yang berjempol melekat pada luka.

Setiap pulang kampus, hal yang pertama saya lakukan adalah membuka kaos kaki dengan perlahan. Sering kali kulit jempol kaki ikut terangkat. Kemudian saya membilasnya dengan air mengalir dan mengoleskan obat luka.

Saya beristigfar berkali-kali.

Sampai suatu hari saya berinisiatif menempelkan tisu sebelum memakai kaos kaki. Apa yang terjadi? Tisu malah melekat pada luka. Meradang!

Akhirnya libur tiba. Saya menuju rumah dengan penuh suka cita.

“Kok enggak diobati?” tanya Mama sesampainya di rumah.

“Sudah, Ma. Setiap mau pasang kaos kaki diolesi obat dulu,” ucap saya sambil menyebutkan merk obat luka.

Saya kembali melakukan hal sebelumnya. Mencuci kaki, memencet nanah kemudian mengoleskan obat luka.

Pernah pada saat tarawih seorang ibu paruh baya tanpa sengaja menginjak jempol kaki itu. Bergetar badan saya menahan perih. Ketika saya singkap kain sarung, ternyata berdarah. Saya pun berlari menuju kamar mandi untuk membersihkan luka.

Esoknya, Mama berucap, “Mungkin ada potongan kuku yang tidak bersih. Coba potong kuku di bagian yang sakit itu.”

Awalnya saya menolak. Pasti perih, kan? Namun akhirnya saya menuruti ucapan Mama. Dengan menahan perih, saya memotong kuku. Darah mengalir. Setelah memotong kuku, saya mencucinya.

“Balut pakai kunyit dan kain kasa ini, Nia,” ucap Mama sambil menyodorkan kunyit yang sudah dilumatkan dan kain kasa.

Alhamdulillah. Menjelang berbuka, saya buka perlahan balutan luka. Kering! Saya tekan-tekankan jempol kaki ke lantai. Tidak nyeri lagi!

Saya mengucap syukur padaNya. Terima kasih, ya Allah. Terima kasih, Ma. Mungkin ada kesalahan yang tidak saya sadari. Mungkin ada langkah kaki yang tidak diridhoi.

NB : Jumlah kata 300


Walaupun tidak sama persis, kira-kira ilustrasinya seperti ini


tulisan ini diikutsertakan dalam giveaway Ramadhan in Love



Berburu Kepah versi Audio

Selasa, 09 Juni 2015
Assalamu'alaikum, Sahabat Khansa ^_^

Nemu ini di web Kompas Klasika

Cerpen Anak Berburu Kepah versi Audio

Cerpen Anak berjudul Berburu Kepah di sini sudah didongengkan oleh Kang Acep. Yess! Ini yang saya tunggu-tunggu. Terima kasih, Kang Acep, terima kasih Kompas Klasika.

Semoga bermanfaat, ya!

*Mohon maaf, versi audio cerpen anak tersebut sudah tidak dapat ditemukan pada halaman web. 

[SOSOK] Kenalan Lebih Dekat

Selasa, 02 Juni 2015


Ade Radinal, Punya Alasan Tekuni Mural
Oleh : Diurnarii Publisher / Zakiyah Rizki Sihombing

Seni melukis dengan media dinding atau biasa disebut dengan mural merupakan hal baru di kota Medan. Begitupun penggiatnya masih terlihat minim. Salah satunya ialah Ade Radinal Siregar, seorang pria berusia 22 tahun yang semenjak 2011 lalu menekuni hobinya yang satu ini. Kelihaian bermain dengan cat dan kuas sudah tidak diragukan lagi terbukti banyaknya tawaran yang datang ingin memakai jasanya.

“Aku hobi banget ngemural, karena selain bisa berimajinasi lebih luas aku juga dapat uang saku dari mural” jawabnya ketika ditanya mengenai kesukaannya pada mural.

Dari hobi memural ia bisa mendapatkan ratusan ribu hingga jutaan rupiah dalam sekali kerja, meskipun memakan waktu yang banyak tetapi Ia selalu mengerjakannya dengan sebaik mungkin sehingga setelah memural akan timbullah kepuasan di dalam dirinya. Pria berdarah Batak-Mandailing ini juga menyatakan bahwa mural baginya merupakan hobi yang dibayar.




Di tengah polemik grafity yang dipandang negatif, mural hadir sebagai seni baru yang bernilai positif karena dianggap aksi street art yang lebih terarah. Tak hanya mural, Ade juga lihai dalam sketching, drawing, ilustrasi dan digital art . Namun Penggunaan media yang baik adalah alasan mengapa hingga sekarang Ade masih teteap memilih untuk bergelut dengan mural. 

Pria yang juga bercita-cita menjadi seorang Ustadz ini mengaku tengah gencar memperispakan tugas akhir studinya di D3 Metrologi FMIPA Universitas Sumatera Utara, meskipun begitu Ia tak menolak tawaran yang datang. Seperti baru-baru ini Ia baru saja menyelesaikan mural di beberapa tempat nongkrong kota Medan seperti Siantar Square, Warung Menolak Lupa, Kedai Boogie dan lain sebagainya.

Mural yang merupakan satu visual utuh dengan persiapan design yang matang membutuhkan imajinasi yang tinggi, sehingga sebagai penggiat seni mural, Ia sangat mengidolakan tokoh Oky Reymonta dan Aaron Horkey sebab karya seni yang mereka ciptakan berperan penting dalam menginsipirasi karyanya.

Semenjak awal Ade sudah sadar betul bahwa Ia sangat menyukai mural. Tetapi panjang cerita, rezekinya untuk menekuni itu di perkuliahan sirna. Hingga suatu ketika Ia menemukan komunitas penggiat mural di Medan, beberapa teman dekat mengajaknya turut andil dalam event mural seperti Event Delux-2013, Aphoria-8 Januari  2014, Fashion for Fashion-Mei 2014, Acem-Oktober 2014. Tak hanya itu, Ade juga beberapa kali mengikuti penampilan seni seperti ; Pemuda Metropolis (2013), Parkiran Seni (April 2014), Panggung Rakyat (Maret 2015) dan Kreatif 2015.

“Semenjak saat itu, saya jadi lebih konsen menekuni mural” katanya mengenang






Bagi yang ingin mengenalnya lebih dekat dapat menghubunginya via Instagram @Punkability dan Facebook Ade Radinal Siregar.