Balayar Satujuan Batambat Satangkahan

Selasa, 30 September 2014

Balayar Satujuan Batambat Satangkahan
Oleh: Karunia Sylviany Sambas

Mengikuti kegiatan mentoring adalah suatu kewajiban sewaktu saya masih kuliah dulu. Rutinitas yang padat bukanlah alasan untuk tidak menghadiri acara yang digelar seminggu sekali ini. Saya dan beberapa orang teman diamanahkah untuk menghubungi kakak pembina mentoring (selanjutnya saya sebut kakak pementor) sehari sebelum acara berlangsung. Sontak, saya yang awal mulanya tidak pernah ikut berorganisasi semacam OSIS, pramuka maupun perangkat kelas, agak kewalahan menerima tugas ini.

Di sini, kakak pementor meneguhkan hati kami. Ternyata, bukan hanya saya seorang yang “miskin” pengalaman berorganisasi. Beliau membacakan ayat kitab suci Alqur’an sebagai penguat niat kami agar kebal menghadapi berbagai tantangan yang pastinya akan datang kemudian.

“Maka, berlomba-lombalah kamu dalam kebaikan.”

Ayat inilah yang kemudian menjadi penyemangat hingga akhirnya kami berhasil menjalankan amanah tersebut hingga dua tahun lamanya.

Teman-teman yang mulai memasuki semester atas mulai bermalasan ikut mentoring. Adik-adik tingkat awal yang belum begitu paham tujuan mentoring pun sama. Kakak pementor segera mengambil “tindakan penyelamatan”. Kegiatan mentoring yang biasanya hanya diisi ceramah agama kini ditambah aneka game dan sesekali tayangan video inspiratif.

Alhamdulillah, kegiatan ini berjalan lancar. Tujuan tercapai maksimal.

Hanya orang-orang berjiwa tangguh yang mampu mengerjakan sesuatu sampai ke batas. Aral sering kali menerjang terlalu sadis. Kita yang masih pemula, awam dan belum mengerti apa-apa, tidak selalu beruntung mendapatkan dispensasi darinya. Ia kejam!

Kebulatan tekad untuk mencapai tujuan akhir inilah yang harus selalu dicamkan dalam-dalam.

Balayar satujuan batambat satangkahan.

Anak pesisir pasti lumayan akrab dengan semboyan ini, bukan? Ya, tidak salah lagi. Ini adalah semboyan kebanggaan Kota Kerang, Tanjung Balai. Nun jauh di tepian Selat Malaka yang berbatasan dengan negara tetangga, Malaysia.

Dalam hidup, banyak hal yang bersinggungan dengan pepatah ini. Mulai dari yang paling pokok, salat. Ibadah yang dipimpin oleh seorang imam ini tentunya dikerjakan dengan satu tujuan, memiliki satu kesatuan tekad yang bulat, yakni ibadah pada Allah SWT, mengharap keridhoanNya.

Balayar satujuan batambat satangkahan adalah adagium yang sejatinya dipegang teguh oleh sebuah organisasi. Perlu kita cermati lagi, organisasi di sini bukanlah harus selalu yang bersifat formal. Beberapa orang yang berkumpul dengan tujuan yang sama dan berniat untuk mewujudkannya adalah definisi dari organisasi.

Keluarga adalah unit organisasi terkecil dalam masyarakat. Sebuah keluarga akan mampu menempuh biduk bahtera rumah tangga bila sang nakhoda mampu mengendalikan apa yang dipimpinnya dengan baik. Dalam hal ini tentu dibutuhkan kerjasama antara anggota organisasi; ayah, ibu dan anak. Sakinah, mawaddah dan warahmah. Ketiga kata yang pasti ingin diraih oleh mereka yang berumah tangga. Membangun istana kecilnya. Semoga berkah berharap janah.

Sama halnya dengan organisasi pemerintahan. Pemimpin yang mengepalai sebuah negara harus mempunyai kekonsistenan tekad untuk menjalankan roda pemerintahannya dengan baik. Memimpin bangsa dan negara untuk lima tahun ke depan bukan hal mudah tanpa persiapan mapan.

Semua berawal dari niat!

Balayar satujuan batambat satangkahan.

Bergerak menuju hasil maksimal tidak dapat dilakukan seorang diri. Contoh kecilnya membangun rumah. Kita tentu memerlukan orang yang ahli di bidang bangunan untuk mengerjakannya.

Kerjasama dan sama-sama bekerja. Karena kebersamaan itu yang utama. Lihatlah si keong mungil yang cerdik. Ia mampu menipu kancil dengan “konsep kebersamaan”. Ia tahu, gerak yang dimilikinya tidak akan mampu mengalahkan si kancil. Maka, dengan bantuan teman-temannya, disertai kebulatan tekad yang satu; menyadarkan si cerdik yang sombong, akhirnya piala kemenangan sukses dicapai keong dkk.

Cukup banyak hal yang sejatinya menyiratkan bahwa sesuatu yang dikerjakan bersama akan terasa lebih mudah dan terarah. Sekarang, tinggal bagaimana kita mengaplikasikannya untuk tujuan kebaikan. Bila kita lihat dalam perintah agama; salat berjamaah lebih utama daripada salat sendirian, bukan?

Bulatkan tekad dan luruskan niat. Bergerak bersama mencapai tujuan akhir yang bermanfaat. (***)



“Tulisan ini disertakan dalam kontes GA Sadar Hati – Bahasa Daerah Harus Diminati”

Cerita POS, Si Merpati Orange

Minggu, 28 September 2014
Assalamu'alaikum, Sahabat Khansa. 

Selamat milad ya, Pos Telekomunikasi Telegraf (PTT)

Walaupun tak banyak dapat kurangkai kata, kiranya doa akan selalu melangit padaNya. Sukses jaya. Bravo! Hurra! ^_^

Sekelumit cerita manis bersama si Merpati Orange

#CeritaPOS Jujur, aku mulai akrab dengan si orange (baca : pak pos beserta kantor pos) ;) semenjak rajin ikut event berhadiah di sosmed. Alhamdulillah, beberapa event aku menangkan. Hadiahnya? Kebanyakan sih berupa buku. Beberapa di antaranya souvenir penerbit.

Terus, aku juga kirim naskah cerpen via pos. Apa sebab? Olala, ternyata redaksi koran/majalahnya lebih mengutamakan naskah yang dikirim via pos (menurut beberapa sumber). Top banget ya. Di zaman surat elektronik, pengiriman jasa pos menempati tempat unik. Laksana barang antik yang menarik. Alhamdulillah, hadiah yang kuterima juga selalu sampai dengan selamat. Padahal, alamat rumahku tak begitu lengkap. Maklum, rumah di desa tak punya nomor. Tapi pak pos nan ramah bersusah payah mencari alamatku. Tanya sana tanya sini sampai akhirnya ketemu.

Bukan bermaksud menjelekkan, ada jasa pengiriman lain yang agak mengecewakan buatku. :( Pasalnya aku harus menjemput sendiri kiriman ke kantor perwakilannya yang lumayan jauh dari rumahku. Dan lagi, pelayanannya kurang ramah banget. Sikapnya kusiratkan ''kalau mau barang ini, datanglah sendiri''. Haduh! Jauh-jauh deh si orange dari sifat ini ya. Kuharap makin eksis dan terus memberikan pelayanan prima. Thanks a lot, Pos Indonesia ^_^