Tentang ODOP dan Pengalaman Swab Test

Sabtu, 21 November 2020

Assalamu'alaikum, Sahabat Khansa.

Alhamdulillah, akhirnya sampai pada postingan ini. Postingan yang menjadi akhir dari sebuah rangkaian ODOP Batch 8 dan tentu saja menjadi awal untuk menulis lebih baik dan lebih banyak. 


Sahabat Khansa. Untuk sampai pada postingan kali ini bukan langkah mudah bagi saya. Tertatih, terseok bahkan memutuskan untuk mengakhiri pernah saya lakoni. Alhamdulillah, PJ Squad Blog dimana para penulis yang memutuskan berkarya di blog denga satu postingan satu hari amat sangat membantu saya.


Mereka memberikan solusi, mentransfer energi semangat dan sebuah iming-iming menggiurkan. Seperti saya yang hobi 'menaklukkan media dengan karya' mudah-mudahan tawaran yang singgah tersebut menjadi nyata.


Sahabat Khansa, pada postingan ini saya juga ingin memberikan sedikit pengalaman saya ketika menjalani swab tes pertama. Semoga yang terakhir dan pandemi ini segera berakhir. Aamiin.


Hari itu, Selasa di November. Saya mendapatkan kabar jika salah seorang rekan kerja hasil tes swab positif. Sebagai orang yang sama-sama bekerja di ruangan kecil itu, saya dan seluruh rekan lainnya yang berjumlah sekitar 10 orang itu harus pula memeriksakan diri melalui tes swab.


Tes dilakukan di sebuah ruangan besar. Lalu ada dua petugas di sana. Petugas pertama membuka pintu masuk dan bertindak sebagai asisten.


Petugas kedua mengambil sampel dari mulut. Saya diminta membuka masker lalu menyebutkan huruf A. Petugas memasukkan tong spatel menekan sedikit lidah lalu memasukkan alat kecil ke dalam kerongkongan. Saya agar terbatuk, mirip respons ingin muntah ketika benda itu menyentuh kerongkongan.


Selanjutnya, sebuat alat mirip cotton bud memasuki rongga hidung. Ketika petugas tanya sisi hidung mana, saya pilih kanan. Tanpa alasan spesial semisal hidung kiri sedang mampet. Saya hanya mengutamakan kanan sebagai hal yang baik.


Hasil test akan diumumkan sekitar tiga hari kemudian. Kami menanti dengan cemas. Saya bahkan mengundurkan diri dari sebuah peluang penulisan naskah. Saya khawatir tidak fokus sementara DL naskah tersebut cukup singkat.


Alhamdulillah, sabtu ini hasil tes keluar. Saya dinyatakan negatif. Seketika saya merasa bisa bernapas lebih lega.


Sahabat, selalu patuhi protokol kesehatan agar kita terlindungi dan melindungi orang lain. Mencegah lebih bail dari mengobati, bukan? (*)

Ternyata Tak Sesulit yang Diduga

Jumat, 20 November 2020

 Assalamu'alaikum, sahabat Khansa


Kelas Menulis Online, Menembus Meja Redaksi Media Massa

Kamis, 19 November 2020
Assalamu'alaikum, Sahabat Khansa.

Alhamdulillah, hari ini sebuah amanah kembali menyapa, mengisi sebuah kelas daring tentang tip dan trik tembus media massa. Ya, saya akui ini adalah sebuah pencapaian yang saya inginkan. Apalagi kelas daring ini saya gagas bersama teman duet dalam buku Lord Didi.

Kelas yang Insya Allah akan dimulai pada Desember 2020 itu semoga jadi pembuka jalan untuk berkarir di dunia mentor. Selama ini menjadi peserta kelas, maju sedikit menjadi PJ. Lalu akankah menjadi mentor? Aamiin. Apalagi mimpi menjadi seorang dosen masih melekat kuat sampai hari ini.

Bagi Sahabat Khansa yang ingin mengikuti kelas online tersebut, bisa langsung kontak narahubung di bawah, ya:


Kita bertemu di kelas daring di Desember depan, ya. (*)

Kesempatan untuk Berbagi

Rabu, 18 November 2020

Assalamu'alaikum, Sahabat Khansa.


Alhamdulillah, ada kesempatan berbagi lagi-dan lagi. Saya agak terkejut ketika hari ini mendapatkan info di grup yang saya menjadi salah seorang PJ di dalamnya. Sebuah kelas yang saya inginkan untuk diampu tetiba saja jatuh kepada orang lain. 

Pekan Tantangan

Selasa, 17 November 2020

 Asslamu'alaikum, Sahabat Khansa.

Sungguh pekan tantangan ini saya rangkum agar dapat menjadi.pengingat bahwa sejatinya mimpi itu harus dipaksa agar mewujud nyata. Jangan menunda menjadi hal yang harus benar dilakukan.

Seperti hari ini. Minggu sepulang rihlal dengan manajeman waktu yang salah, salmpau rumah pukul 4 pagi. Lanjut dinas sore karena panggilan dadakan dari rs. Esok ya dins pgi. Besok libur sehari. Ada DL ya g menanti dmtentang dwbuah naskah impian. 

Mohon bantuan ya Rabb.

Dua Peluang yang Hilang

Senin, 16 November 2020

Rencana, Antara Berkah dan Musibah

Minggu, 15 November 2020

 Assalamu'alaikum, Sahabat Khansa

Sebuah rencana yang kadang tak sesuai bisa jadi musibah, ya, kan.

Bagaimana sebuah perencanaan disusun agar sesuai harapan.

Detik demi detik menantikan waktu sebuah rencana perjalanan. Memanfaatkan dengan penuh pertimbangan agar hasil yang dicapai dalam sebuah rencana bukan sebuah utopis.

Karena sebuah rencana tanpa arah yang jelas, tanpa kendali waktu tajam, malah bisa mendatangkan banyak masalah.

Ya, seperti mendapat kemarahan dari orang rumah karena terlambat pulang. 

Ya, letih badan karena selepas perjalanan akan berangkat kerja lagi.

Semua tak akan terjadi. Perjalanan akan menjadi berkah bagi semua ya tentu saja dengan sebuah perencanaan yang matang. Semoga. (*)

Rihlah dengan Sahabat Salehah

Sabtu, 14 November 2020

 Assalamu'alaikum, Sahabat Khansa


Alhamdulillah, hari yang dinanti untuk bersama melakukan perjalanan bersama para sahabat salehah tiba. Banyak suka duka yang telah terlewati, pun akan segera menghadang. Ada sahabat yang datang dan pergi. Namun, cinta dalam ikatan ukhuwah islamiah itu mengekalkan. 

Begini Cara Mengambil Peluang dari Satu Kesempatan

Jumat, 13 November 2020
Assalamu'alaikum, Sahabat Khansa. 

Kesempatan yang terbuka dari satu pintu terkadang membuat kita takjub. Tetapi itulah kuasa Allah SWT. Contohnya, hari ini mendapatkan kabar jika akan dibuka kelas penulisan di sebuah komunitas penulis yang saya menjadi PJ di dalamnya.

Pengalaman saya menjadi PJ di kelas sebelumnya, alhamdulillah jumlah peserta kelas ada 35 orang. Lalu di kelas berikutnya yang sedang dalam masa perekrutan pun alhamdulillah yang minat kelas juga lumayan. Nah, belajar dari kedua kelas itu saya jadi bisa membaca peta lingkaran pertemanan saya. Mau dibawa kemana?

Menjadi PJ sesungguhnya bukan hal baru. Dulu, sebelum masa hibernasi yang saya sesali itu dimana laksana Memulai Kembali Seperti Bayi saya sempat tergabung menjadi PJ di beberapa grup kepenulisan. Menjadi penggawa di sebuah grup online itu ternyata seru. Kita bisa membangun relasi dan sebuah iklim menulis yang hangat.

Bagaimana saya bisa mendapatkan kesempatan untuk mengikuti menjadi PJ di kelas selanjutnya? Ya, tentunya tak lepas dari kesempatan yang tak saya lewatkan tempo hari. Saya melihat sebuah postingan penerimaan PJ, lalu saya mendaftar. Kini, saya telah menjadi PJ resmi dan telah mengampu dua kelas dan satu antologi. Saatnya, menerima amanah selanjutnya. Jangan pernah menyerah untuk memelajari hal baru membuat saya mampu bertahan.

Lalu, kelas seperti apa yang saya akan ampun di satu sampai dua bulan ke depan? Eits, masih rahasia dapur. Adonan lezatnya masih di godok sang owner. Kita nantikan, ya.

Intinya, bagi yang hobi buat video, nulis cerita humor, hobi gambar dan siap menerjang media cetak, bolehlah nabung dulu. Siapkan simpanan beberapa rupiah dalam kocek untuk ikutan belajar di kelas seru ini. Ditunggu, ya. (*)

Hari Perpisahan Dua Grup Daring Penulisan

Kamis, 12 November 2020

Assalamu'alaikum, Sahabat Khansa.


Haru itu nyata hari ini. Saya dan teman-teman harus meninggalkan satu grup WhatApp. Grup kecil yang beranggotakan tak lebih dari 30 peserta kelas dan satu lagi tak lebih dari 60 peserta kelas. Sedih? Sangat. Tersebab kebersamaan bersama para teman yang punya frekuensi yang sama itu terasa sangat singkat. Tetiba sudah masuk dua bulan saja. 

Peluang yang Pergi

Rabu, 11 November 2020

Assalamu'alaikum, Sahabat Khansa.

Bila sebelumnya postingan saya tentang Peluang, Ambil atau Biarkan Hilang?Peluang, Ambil atau Biarkan Hilang? membuat semangat membara menyelesaikan naskah, maka postingan kali ini tentang sebuah peluang yang hilang sementara dikarenakan sesuatu hal. Hihi. Hal yang menjadikan seorang penulis dikatakan memiliki kompetensi. Yang tahu cung, ya.

Nah, tapi saya turut bahagia karena info ini sekaligus memberikan peluang untuk salah seorang rekan penulis. Rencananya, kami ingin kolaborasi membuat sebuah naskah. Saya menulis dan si Mbak mengilustrasi. Apa daya, ternyata keputusan sang redaktur pagi ini membuat saya harus sejenak rileks dan tentunya bersemangat kembali untuk menemukan jodoh bagi naskah ini.

Semangat Bangkit Kembali

Naskah tersebut dinyatakan kembali ke folder naskah tersayang. Kecewa pasti, ya. Manusiawi. Namun saya tak lantas berkecil hati. Saya telusuri kembali kemungkinan naskah ini layak terbit. Akhirnya, berbekal informasi yang saya temukan di sebuah fanpage penerbit, saya mengirimkan pesan ke kontak salah seorang editor dan menanyakan kemungkinan penerimaan naskah.

Alhamdulillah, pesan tersebut berbalas. Kini, naskah yang ditolak telah kembali mengarungi lautan jalan menuju nasibnya. Semoga kali ini pulang berkabar baik. Saya nantikan di dermaga. (*)

Peluang, Ambil atau Biarkan Hilang?

Selasa, 10 November 2020

Assalamu'alaikum, Sahabat Khansa

Disaat saya sedang mengerjakan sebuah proyek menulis, tetiba sebuah pesan pribadi memasuki kotak pesan WhatsApp. Memberikan kesempatan untuk menulis sebuah buku pengayaan dengan tema yang menarik perhatian saya. Tema tersebut berhubungan dengan daerah asal kakek saya; Kalimantan Barat.

Sebenarnya ada keinginan sedetik untuk intirahat dahulu. Berhubung saat ini ada sebuah amanah pula yang mampir di kotak surel. Saya harus menyelesaikan outline naskah dalam waktu dua pekan saja. Jumlah halaman buku yang dibutuhkan memang tak terlalu banyak sebenarnya. Namun jika hanya fokus pada satu tujuan, saya rasa tak terlalu berat kiranya.

Melepas peluang ini begitu saja? Bisa saja, sih. Tapi saya kembali berpikir. Bagaimana jika kelak Mba tersebut tak lagi membuat nama saya berada di antrian penulis menjadi tujuan penulisan? Ah, tentu merugi, ya.

Bismillah. Saya coba untuk mengambil peluang dengan segala kemampuan yang saya bisa lakukan. Toh, jika naskah saya menarik dan ada sedikit kesalahan masih ada proses revisi, bukan.

Intinya, jangan berhenti untuk terus menebar asa pada peluang yang datang. Karena saya yakin, hati Mba tersebut memilih saya karena digerakkan oleh Allah SWT.

So, jangan pernah lewatkan kesempatan yang datang. Karena kita tak pernah tahu rezeki yang mana yang dapat mengubah segala pinta menjadi nyata. (*)

Memulai Kembali Seperti Bayi

Minggu, 08 November 2020

Assalamu'alaikum, Sahabat Khansa.


Masih ingat dengan sampul akun sosial media facebook saya? Hihi, bagi yang lama berteman di facebook pun terkadang belum tentu ingat, ya. Karena kita kan fokus ke status. Kalau nggak buka profil facebook teman, tentu fokus pada hal itu pun jadi ambyar. Walaupun kita berteman sudah sangat lama. 


sumber: dokumen pribadi

Nah, sampul facebook saya memajang tentang sebuah karya saya yang berhasil masuk di buku tematik tema 5 ekosistem. Ketika saya memajang status WA tentang tampilan ini, beberapa orang teman langsung mengirim pesan pribadi. "Bagaimana bisa?" begitulah kira-kira isi pesannya. 

Bee Bangun Taman di Kedaulatan Rakyat

Sabtu, 07 November 2020

Cerpen Anak dimuat di Harian Kedaulatan Rakyat edisi Jumat, 23 Oktober 2020

Assalamu'alaikum, Sahabat Khansa.

Alhamdulillah, naskah saya kembali menghiasi rubrik CERNAK SKH Kedaulatan Rakyat. Menulis cerita anak itu memang seru, lo. Membuat kita selalu ceria karena bisa berbagi kebaikan dengan para sobat cilik.

Bagaimana cara mengirim naskah cerita anak ke SKH Kedaulatan Rakyat.? Sahabat bisa cek postingan Cara Mengirim Cerpen Anak ke Harian Kedaulatan Rakyat, ya. Insya Allah, sudah di-update 😀

Berikut naskah saya yang tayang tersebut:

dimuat di Harian Kedaulatan Rakyat edisi Jumat, 23 Oktober 2020

Bee Ikut Bangun Taman Baca
Oleh: Karunia Sylviany Sambas

Kupi Kupu-Kupu, Ruru Rusa, Kiki Kelinci dan Titi Merpati ingin membangun sebuah taman baca di hutan tempat tinggal mereka.

“Kenapa harus taman baca?” tanya Kiki.

“Karena masih banyak adik-adik bahkan teman-teman kita yang belum bisa membaca. Padahal buku itu jendela dunia,” jelas Ruru.

Sebenarnya rencana untuk membuat taman baca ini sudah ada sejak lama namun baru terlaksana karena keempat sahabat itu sibuk dengan tugas sekolahnya. Sekarang mereka sudah lulus. Ilmu yang sudah diperoleh selama ini harus dapat dimanfaatkan. Begitu niat Kupi, Ruru, Kiki dan Titi.

Mereka berbagi tugas. Kupi dan Titi akan mencari tempat taman baca dibangun. Ruru mengerahkan anak-anak hewan untuk membantu melengkapi taman baca dengan meja, kursi dan rak-rak buku. Sementara Kiki akan menyebarkan selebaran tentang taman baca.

Akhirnya, Kupi dan Titi menemukan lokasi. Sebuah rumah pohon di dekat sungai. Di sekelilingnya ada pohon-pohon teduh dan taman bunga.

Waktu pembukaan taman baca tinggal dua hari lagi. Wah, semua hewan tampak saling bantu.

“Uhuk ... uhuk!” terdengar suara batuk Kiki. Semua menoleh ke arah sumber suara.

“Sepertinya tubuhmu kurang sehat, Ki,” komentar Kupi.

“Wajahmu juga terlihat lesu,” tambah Ruru.

“Sudah, Ki. Tidak apa-apa. Kamu istirahat saja.” Titi mencoba menghibur Kiki.

Kelinci itu bersedih. Dari kejauhan ia memandang teman-temannya yang sedang bekerja. Tiba-tiba seekor anak lebah kecil bertubuh bulat terbang mendekati Kiki.

“Hai,” sapanya ramah. “Kenalkan, aku Bee.”

“Hai, Bee. Kamu sedang apa?” tanya Kiki dengan suara lemah.

“Aku baru saja membantu ibu dan ayah mengumpulkan nektar dari bunga-bunga itu!” tunjuk Bee Lebah ke arah taman bunga di samping taman baca.

“Aku juga ingin membantu teman-teman. Sayangnya, aku sedang kurang enak badan. Uhuk.” Kiki terbatuk lagi.

“Sepertinya kamu terlalu lelah, jadi kondisi tubuhmu menurun,” ujarnya.

“Aku pergi sebentar, ya. Aku mau mengantarkan nektar ini dulu.”

Tak lama kemudian ia kembali dengan sebuah bungkusan kecil.

“Kamu minum ini, ya.” Bee menyodorkan madu.

Kiki hanya mengangguk lemah. “Semoga kamu cepat sembuh.”

Bee melihat ada beberapa selebaran di samping Kiki. “Selebaran itu belum sempat aku sebar,” ujar Kiki.

“Aku bantu sebarkan, ya.” Bee tersenyum.

Sebelum Kiki menjawab, Bee sudah terbang sambil membawa selebaran. Kiki sungguh terharu dengan kebaikan Bee. Padahal mereka baru saja bertemu.

Sehari sebelum pembukaan taman baca, buku-buku sudah tersusun rapi. Buku didapat dari sumbangan warga hutan. Oh ya, ternyata Bee terbang jauh sekali. Ia menyebarkan selebaran sampai ke hutan seberang. Wah, jumlah buku di taman baca jadi semakin banyak.

Di hari pembukaan taman baca, semua menyambut bangga dan gembira. Bee dan keluarganya juga diundang. Kerja keras dan gotong royong mereka menghasilkan kegembiraan untuk semua. (*)

Berapa lama waktu tunggu penayangan naskah?

Untuk waktunya tidak sama antara satu penulis dengan penulis lain, ya, Sahabat. Menurut pengalaman saya sendiri, kira-kira memerlukan waktu dua minggu. Bahkan, ada juga naskah yang belum berkabar. Intinya, tetap semangat menulis dan mengirim, ya.

Berapa honor pemuatan naskah?

Ini juga poin yang belum bisa saya utarakan dengan pasti karena pengiriman honor adalah kebijakan redaksi. Begitu info yang saya terima via surel. Nah, mungkin karena pandemi juga masih ada penundaan, ya.

Demikian, ya, Sahabat. Jika masih ada yang ingin ditanyakan, boleh komentar di kolom di bawah. Saya akan sangan berterima kasih jika Sahabat menandai salah satu akun sosial media saya saat membagikan postingan ini. (*)

Dari Balik Pintu ICU

Jumat, 06 November 2020
WHO baru saja merilis keterangan barunya terkait dengan fakta bahwa Covid-19 bisa menular melalui udara (air bone). 

Penyataan yang dipublikasikan pada 9 Juli 2020 ini sontak membuat kami dihinggapi rasa was-was yang lebih dari biasa. Saat ini kami bertugas di ruang ICU (Intensive Care Unit) sebuah RSUD (Rumah Sakit Umum Daerah). Ruangan tersebut hanya cukup memuat tiga tempat tidur pasien. Tentu bisa dibayangkan berapa luasnya ruangan tersebut. Ditambah, jarak antara meja perawat (station nurse) dan tempat tidur pasien tak lebih dari satu meter saja.

Hari-hari kami dipenuhi rasa was-was tersebut. Setiap ada pasien yang akan masuk dari IGD (Instalasi Gawat Darurat) ataupun pindah ruangan dari ruang VIP (Very Important Person) atau Internis (Penyakit dalam), kami pasti langsung menanyakan status pemeriksaan rapid test Covid-19. 

Rasa kemanusiaan tentu selalu berharap setiap pasien yang keluar dari pintu ruang ICU itu dalam keadaan membaik. Namun sebagai manusia, rasa was-was yang kerap menghampiri menyebabkan ruangan itu tak seperti sebelumnya. Tak ada lagi cerita berlama-lama tentang latar belakang keluarga pasien. Kami hanya bertanya seperlunya, terkait riwayat penyakit.

Sebagai salah satu RSUD yang berada di sebuah kotamadya, kami mendapatkan bantuan APD (Alat Pelindung Diri) termasuk lebih lama dibandingkan fasilitas pelayanan kesehatan di pusat. Di masa awal, kepala ruangan kami membelikan 14 set jas hujan sebagai APD. Jas hujan itu tak lebih tebal dari plastik pembungkus makanan dari warung. Di rumah sakit hanya tersedia masker, sarung tangan dan penutup kepala (surgion cap). 

Barulah kemudian bantuan berdatangan. Baju hazmat, face shield, kacamata google, dan sepatu boat. Masing-masing petugas ruangan mendapat jatah satu. Akhirnya, APD yang terbuat dari plastik tadi berubah fungsi. Kami menggunakannya sebagai APD dari hujan. Ketika melihat jas yang berwarna biru itu, orang-orang sekitar rumah sakit akan langsung mengenali kalau itu adalah petugas ruang ICU. 

Kehadiran bantuan tak lantas membuat rasa was-was itu sirna. Pemakaian APD malah membuat langkah agak sedikit berat, ya mungkin karena masih berada dalam tahap adaptasi.

Saat memasang infus, misalnya, face shield yang terbuat dari plastik mika itu akan berembun sehingga malah menghalangi pandangan. Pembuluh darah yang menjadi sasaran, menjadi samar bahkan tidak terlihat. Akhirnya, seringkali face shield tergeletak begitu saja. 

Suatu ketika, seorang pasien masuk. Pasien tersebut terakhir dilakukan rapid tes Covid-19 tiga hari yang lalu dengan hasil negatif. Ketika ingin dilakukan pemeriksaan radiologi, ternyata alatnya sedang rusak. 

Oleh karena pasien tersebut menunjukkan gejala Covid-19, kami melakukan rapid tes Covid-19 ulang setelah berkoordinasi dengan dokter spesialis. Hasilnya, positif! Pasien tersebut langsung dipindahkan ke ruang isolasi.

Untungnya perawat yang bertugas pada saat itu memakai APD lengkap. Meski begitu, isolasi mandiri empat belas hari tetap diberlakukan. 

Inilah sebagian kecil suka duka pelayan kesehatan di masa pandemi. Tak ada istilah WFH (Work From Home). Bekerja sif tetap berlaku. 

Bekerja dengan hati tulus, jaga kualitas imun dan tingkatkan iman kiranya adalah tiga hal yang selalu kami ucapkan di sela-sela bertugas untuk saling menyemangati. (*)

Cara Memasak Nasi dengan Kompor Gas Ala Mantan Anak Kos

Kamis, 05 November 2020
Sebagai salah seorang mantan anak kos, cara memasak nasi dengan kompor gas merupakan hal yang cukup sulit. Ya, bagaimana lagi. Di rumah kos berpetak tiga kali tiga itu saya terbiasa melakukan segala sesuatunya, termasuk kegiatan memasak nasi, tanpa harus berlelah, alih-alih menggunakan kompor gas, saya tetap setia dengan rice cooker.


Namun, ketika saya kembali ke rumah, mau tidak mau saya harus belajar bagaimana cara memasak nasi pakai kompor gas. Soalnya, daerah rumah saya termasuk kawasan yang jaringan listrik suka ngambek. Sebentar-sebentar, byar pet. Kalau saya tetap egois dengan mengandalkan kekuatan rice cooker, bisa-bisa saya terserang busung lapar.

Baiklah, sebelum memakai cara menanak nasi manual ini, terlebih dahulu saya harus memahami apa saja langkah demi langkah untuk memperlancar misi memasak nasi ini.

1. Menyiapkan Bahan

Karena kali ini saya ingin memasak nasi, tentu saja saya harus menyiapkan beras. Jumlah takaran beras disesuaikan dengan porsi makan kami sekeluarga. Biasanya kami menanak nasi dua kali sehari, pagi dan sore. Dalam setiap menanak nasi, takaran yang digunakan 2 cup.

Air bersih
Rantang yang tidak berlubang

2. Menyiapkan Alat

Siapkan dandang yang bagian bawah saringannya sudah diisi air sampai di batas yang dianjurkan.

Kompor gas
Jangan lupa pastikan persediaan gas yang mencukupi.

Langkah-Langkah Memasak Nasi dengan Kompor Gas


Cuci beras secukupnya. Kalau saya biasa mencuci dua kali saja. Cukup sampai air cucian beras tampak tidak terlalu jernih. Setelah itu, beras dimasukkan ke dalam rantang yang tidak berlubang. Masukkan air ke dalam rantang. Takaran air memasak nasi disesuaikan dengan takaran beras. Sekitar satu ruas jari lebih sedikit. Karena kebiasaan makan di keluarga kami tidak suka jika nasinya terlalu kering.

Dandang yang telah terisi air tadi diletakkan di atas kompor yang sudah dinyalakan dengan api sedang. Setelah air di dalam dandang mendidih, naikkan beras dalam rantang di atas saringan dandang. Kemudian tutup rapat.
Kira-kira tiga puluh menit kemudian, tutup sudah bisa dibuka. Namun begitu, disela-sela penantian, nasi boleh diintip sebentar untuk diaduk merata agar tidak menjadi kerak, ya.

Setelah masa penantian usai, silakan menunggu sebentar sampai sisa air nasi terserap. Selanjutnya, nasi biasa diaduk dan siap untuk disajikan.

Nasi hangat siap disantap bersama keluarga tercinta. Btw, secara ilmu kesehatan ternyata nasi yang dimasak dengan kompor gas, bisa mencegah peningkatan gula darah, lo.

Memasak nasi langsung menggunakan dandang memang sedikit agak ribet bagi sebagian orang yang terbiasa praktis seperti mantan anak kos. Apalagi, memasak nasi dengan cara manual ini bisa membuat nasi cepat matang. Oleh sebab itu, pekerjaan sedikit melelahkan ini harus juga diketahui sedikit banyaknya, bukan?

Cara menanak nasi yang terkesan nggak banget ini sebenarnya bermanfaat sekali, lo. Terlebih jika ada suatu hajatan yang mengundang banyak orang. Dengan kepiawaian dalam memasak nasi menggunakan kompor gas ini, kelak kita sudah bisa memasak nasi menggunakan kayu. Tentunya dalam porsi yang lebih besar lagi.

Dalam suatu hajatan seringkali dijumpai nasi yang tidak sempurna masaknya. Ketika sedang asyik menikmati hidangan, tiba-tiba saya dijumpai butiran keras nasi. Tentu ini membuat ilfil dan bisa jadi membuat mood dalam mengikuti acara pesta ambyar seketika.

Terlihat sepele bukan? Namun dampaknya bisa sangat luar biasa. Oleh sebab itu, siap sedia memasak nasi dengan kompor gas harus diketahui, terlebih mantan anak kos. Siap mencoba? (*)

Sinergi Prioritas dan Semangat

Rabu, 04 November 2020

 Assalamu'alaikum, Sahabat Khansa.


Alhamdulillah, dua berita bahagia kembali menyapa di hari ini. Pertama, outline naskah buku pengayaan yang saya kirimkan pada Juli 2020 lalu mendapatkan kabar baik, yakni bisa dilanjutkan ke tahap penyelesaian. Namun waktu yang diberikan untuk menyelesaikan naskah lengkap tak kurang dari 64 halaman itu membuat saya agak sedikit bimbang. Tapi ingin mengajukan perpanjangan waktu sepertinya bukan hal yang baik, bukan? Terlalu dini, menurut pandangan saya. 

Yuk, Konfirmasi Dahulu

Selasa, 03 November 2020

Assalamu'alaikum, Sahabat Khansa.


Saya cukup bingung hari ini. Ketika menemukan bahwa paket buku yang saya pesan tidak juga sampai di tujuan. Malah ada satu paket yang saya sangat harapkan secepatnya tiba karena itu merupakan paket buku bukti terbit saya di sebuah penerbit mayor. Walaupun merupakan buku duet, tapi sebagai karya perdana yang bisa mejeng di rak toko buku itu amat sangat membesarkan hati saya. 

Menebar dan Menjaring

Senin, 02 November 2020

Assalamu'alaikum, Sahabat Khansa


Perihal menebar dan menjaring kali ini berkaitan dengan literasi. Pada Oktober kemarin saya mengirim beberapa tulisan ringan dan cerpen anak ke media cetak. Seperti biasa, dimuat di media bukan perkara mudah, ya, kan. Kita selalu bersaing untuk menarik perhatian editor agar karya kita tayang. 

Cara Unduh iPusnas di Komputer

Minggu, 01 November 2020


Assalamu'alaikum, Sahabat Khansa.


Kegiatan membaca sekarang bisa dimana saja. Tidak harus diam berlama melalui buku fisik. Meskipun bagi sebagian orang, termasuk saya, belum ada yang bisa menandingi kenikmatan membaca buku fisik. Harum yang menguar dari tiap halaman buku baru membuat saya merindukan saat-saat bisa berlama-lama di toko buku.