[Selamat Datang, Air Bersih!] Dongeng Anak Terpilih Kategori Air Minum Lomba Menulis Dongeng Anak KSAN 2015

Rabu, 17 Februari 2016
[Selamat Datang, Air Bersih!] Dongeng Anak Terpilih Kategori Air Minum Lomba Menulis Dongeng Anak KSAN 2015
Dongeng Anak Terpilih Kategori Air Minum Lomba Menulis Dongeng Anak KSAN 2015




Assalamu'alaikum, Sahabat Khansa

Lama tak mengisi rumah ceria ini membuat rindu menggunung, lho! ;)

Ah, rumah ceria yang selalu memanggil 'pulang'. Tapi, huhuhu :'( maafkan saya. Ada amanah lain yang sedang saya emban sekarang. Karenanya fokus saya agak terbagi kini.

Walaupun demikian, di tengah mimpi dan kenyataan yang tengah saya hadapi, hari ini saya memberanikan diri mengetuk kembali 'pintu kebahagiaan saya'.

Bagi saya, bahagia itu ada di sini. Di blog Rekam Jejak Sang Pemimpi yang saya bangun dengan segenap cinta dan asa. Bertumbuhlah, Nak! ^_^

Al-Khansa, karena dia wanita nan perkasa. Ibunda para pejuang agama. ;)

Blogpost kali ini tentang naskah saya yang alhamdulillah terpilih dalam Lomba Dongeng Anak Terpilih Kategori Air Minum Lomba Menulis Dongeng Anak KSAN 2015.

Selamat membaca, ya, Sahabat Khansa. Kritik dan saran sangat diharapkan. :)


Ini naskah versi asli. Mungkin ada sedikit perubahan pada versi cetak. Sayangnya, saya tidak mendapatkan bukti cetak tersebut. Huhuhu :'( Mungkin Sahabat Khansa ada yang punya. :D 


Selamat Datang, Air Bersih!

Oleh Karunia Sylviany Sambas

       
            Tika dan keluarganya tinggal di desa Simpang Kawat, Asahan. Mereka baru saja pindah ke sini untuk mengikuti Bunda yang dipindahtugaskan. Nanti Bunda akan mengajar di sekolah dasar yang terletak di depan rumah dinas.

            Awalnya tinggal di sini menyenangkan. Banyak anak seusia Tika yang menemaninya bermain. Banyak pepohonan yang membuat suasana panas terik menjadi teduh.

Lama kelamaan Tika merasa kecewa. Ternyata, air bersih masih sulit didapat. Air di sini berwarna agak kuning. Setelah hujan turun, airnya agak bening. Tapi begitu dibiarkan semalaman, akan ada benda kuning yang melayang di dalam air. Kata Bunda itu namanya parak.

Kata Bunda lagi, walaupun berwarna kuning, para warga menggunakan air itu untuk kepentingan sehari-hari, seperti memasak, mencuci, dan mandi.

“Bun, tinggal di sini tidak enak, ya. Enakan tinggal di kota,” ujar Tika.

Bunda sedang mengupas pisang barangan. Beliau hendak membuat kolak pisang.

Bunda tersenyum mendengar keluhan putrinya.

“Siapa bilang di sini tidak enak? Nanti Tika akan dapat kejutan-kejutan di tempat ini.”

Mendengar kata-kata Bunda, Tika hanya terdiam.

Sudah dua malam ini ia tidur tak nyenyak. Tika kelelahan. Setiap sore, ia harus membantu Ayah mengambil air bersih dari sungai. Jarak rumah dan sungai memang tak terlalu jauh. Tapi jalannya mendaki. Tika harus mengeluarkan keringat banyak ketika membantu mendorong sepeda.

“Mengeluarkan keringat itu akan sangat membantu Tika, Sayang.” Ayah tersenyum sambil melirik Bunda.

Tika tambah cemberut. Ayah pasti meledek tubuhnya yang agak tambun.

Kolak pisang sudah matang. Harumnya tercium oleh Tika. Tak lama kemudian, Bunda menghidangkan kolak pisang. Mereka bertiga menikmati masakan Bunda yang lezat.

“Hidup di desa itu enak, lho, Nak. Contohnya pisang ini. Bunda beli langsung dari pemilik pohon. Dijamin sehat!” Bunda mengacungkan jempol.

Tika belum menyetujui pendapat Bunda.

***

Hari Minggu ini Ayah tampak sibuk di halaman belakang. Ada seorang lelaki muda bersamanya.

“Bun, Ayah sedang apa?” tanya Tika dengan raut wajah heran.

“Nah, ini salah satu kejutan yang Bunda maksud.” Bunda membimbing Tika mendekati pintu belakang.

Tika mendekati Ayah.

Ayah lalu memperkenalkan Tika pada lelaki muda itu.

“Panggil saja Bang Mursali,” ujarnya sambil tersenyum ramah.

Bang Mursali adalah anak tetangga Tika. Kata Bang Mursali, air di desa ini memang berwarna agak kuning. Tapi, para warga punya cara agar air kuning itu menjadi bening.

“Desa ini kan dekat dengan area persawahan, jadi warna airnya kurang baik,” jelas Bang Mursali. Ternyata, ia bekerja sebagai tenaga penyuluh.

“Kita akan membuat alat penyaring sederhana untuk membuat air bening,” ucap Ayah.

Tika jadi penasaran. Ia mendekati bahan-bahan yang sudah dipersiapkan untuk membuat saringan air.

Ada potongan batu bata, ijuk, arang, pasir dan kerikil. Ada juga drum plastik, keran air, lem pipa, pisau, dan beberapa timba air.

Tika memperhatikan kerja Bang Mursali.

Mula-mula, ia membuat lubang dengan jarak 10 cm dari dasar drum. Ukuran diameter lubang disesuaikan dengan diameter keran. Setelah lubang selesai, keran dipasang dengan menggunakan lem pipa.

“Tika mau menyusun benda-benda ini ke dalam drum?” tunjuk Ayah pada batu bata, ijuk, arang, pasir dan kerikil.

Tika mengangguk cepat. Ia sudah tak sabar ingin ikut membantu.

Ayah membimbing Tika mengisi drum. Kerikil diletakkan di bagian dasar, lalu berturut-turut ijuk, pasir, arang, ijuk lagi dan terakhir potongan batu bata.

“Selesai!” Bang Mursali mengacungkan jempolnya pada Tika.

Ayah mengambil air kuning beberapa timba. Lalu air itu dimasukkan ke dalam drum. Beberapa menit kemudian air keluar melalui keran. Walaupun belum terlalu bening, warna kuning air itu sudah mulai memudar.

“Horeee ....” Tika berteriak gembira.

“Berhasil ... berhasil!”

“Nanti lama kelamaan airnya akan lebih bening lagi, Pak,” jelas Bang Mursali.

Bunda datang membawa goreng pisang dan teh hangat.

“Sudah dapat kejutannya, kan, Nak?” tanya Bunda.

Tika mengangguk. Ternyata, ini kejutan yang Bunda maksud. Kalau di sekolah hanya belajar teori, hari ini Tika belajar IPA secara langsung.

“Kemarin kolak pisang, sekarang goreng pisang. Besok pisangnya dibuat apa lagi, Bun?” tanya Ayah tiba-tiba.

Bunda tersipu malu.

Hari ini adalah hari istimewa buat Tika. Ia belajar banyak hal. Selalu ada solusi dibalik masalah. Ia tidak perlu khawatir lagi dengan air kuning yang ada di desa ini.  

“Selamat datang, Air Bersih!”

Semua tertawa melihat tingkahnya. (***)



Wassalamu'alaikum,




Karunia Sylviany Sambas
4 komentar on "[Selamat Datang, Air Bersih!] Dongeng Anak Terpilih Kategori Air Minum Lomba Menulis Dongeng Anak KSAN 2015"
  1. Balasan
    1. Keluarga saya berasal dari Sambas, Kalbar, Pak.
      Salam kenal dan terima kasih banyak buat kunjungan ke blog saya :)

      Hapus
  2. dari cerita ini, anak-anak yang membaca pun jaid tau kalau air bisa dibersihkan :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Alhamdulillah bila pesan moral cerita ini tersampaikan dengan baik, Mbak :) Salam kenal, ya. Terima kasih banyak buat kunjungannya.

      Hapus

Terima kasih buat kunjungannya. Semoga menginspirasi.
Silakan tinggalkan komentar di bawah postingan ini.

Mohon untuk tidak meninggalkan link hidup.

EMOTICON
Klik the button below to show emoticons and the its code
Hide Emoticon
Show Emoticon
:D
 
:)
 
:h
 
:a
 
:e
 
:f
 
:p
 
:v
 
:i
 
:j
 
:k
 
:(
 
:c
 
:n
 
:z
 
:g
 
:q
 
:r
 
:s
:t
 
:o
 
:x
 
:w
 
:m
 
:y
 
:b
 
:1
 
:2
 
:3
 
:4
 
:5
:6
 
:7
 
:8
 
:9