Cerpen Anak Liburan ke Ranu Pani dimuat di Nusantara Bertutur Kompas Klasika edisi Minggu, 08 Desember 2019

Kamis, 12 Desember 2019
Assalamu'alaikum wr.wb, Sahabat Khansa ^_^
Akhir tahun ini alhamdulillah ada kabar baik dari dunia literasi. Dunia yang lama saya tinggalkan dengan dalih kesibukan di dunia nyata. Maafkan saya :( ya. Sebagian teman yang pernah mengenal saya di dunia literasi mungkin sudah hampir melupakan nama saya. Hiks!

Jujur, mood menulis mulai memudar sejak kesibukan pelamaran test CPNS 2018 silam. Fokus berubah untuk mengejar target. Alhamdulillah, proses tidak pernah mengkhianati hasil. Selengkapnya akan saya ceritakan di rumah maya kedua saya, ya.^_^
Lanjut, notebook yang selama ini menemani saya di dunia literasi raib dibawa orang tak dikenal. Seketika segala rasa membuncah di dada. Sulit saya terjemahkan. Seluruh tulisan ikut lenyap. Padahal dokumentasi itu sangat penting. Di mana awal saya menjejak pena di atas kertas, awal tulisan dimuat di media, dan seluruh isi kepala yang saya luahkan dalam bentuk kata-kata. Lenyap!

Saya down. Lalu aktivitas di sosmed tidak lagi untuk literasi, tapi berganti dengan menjadi reseller beberapa produk. Lalu mungkin teman-teman yang melihat postingan saya di sosmed mengenal saya sebagai pedagang online :D terlebih teman-teman baru. Dunia literasi saya benar-benar teralihkan.

Dan, ketika karya saya dimuat November dan Desember ini, teman-teman baru mulai mengenal tulisan saya dan memberikan komentar tentang tulisan-tulisan saya tersebut. Saya hanya ingin mengatakan, "Inilah saya yang sesungguhnya, Teman." Inilah dunia yang berhasil membawa si introvert ini bisa mulai bersosialisasi dengan lingkungan. 

Nah, jika teman-teman ingin membaca tulisan saya yang dimuat di rubrik Nusantara Bertutur Kompas Klasika edisi 08 Desember 2019 silakan klik gambar di bawah ini, ya :)

Sumber : dokumen pribadi
Naskah tersebut mendapat beberapa editan ketjeh oleh Pak Redaktur NuBi. Bagi yang ingin membaca naskah aslinya, berikut saya sertakan :

LIBURAN KE RANU PANI
Oleh : Karunia Sylviany Sambas

Liburan kali ini Paman Mursali berjanji mengajakku ke Ranu Pani, salah satu objek wisata di Desa Ranu Pani, Senduro, Lumajang, Jawa Timur.
“Janji ya, Paman,” ujarku di akhir percakapan via Video Call dengan adik bungsu ibu itu. Paman Mursali baru saja lulus kuliah dari UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta dan kini sudah bekerja di Kota Malang.
Aku mengajak Lia dan Nia dalam liburanku.
“Paman akan membawa kalian menginap di Ranu Pani. Bagaimana?”
 “Ra .. nu Pa .. di itu apa, Paman?” tanya Nia.
Hush! Ranu Pani,” koreksi Lia.
Paman Mursali tertawa.
”Ranu artinya Danau. Nah, Ranu Pani adalah danau dimana lokasi pos pemberangkatan awal pendakian Gunung Semeru berada.”
Paman Mursali bercerita bahwa dia sudah pernah mendaki Gunung Semeru pada masa kuliah.
“Paman bahkan sudah sampai di Puncak Mahameru dan menancapkan bendera merah putih,” kenang Paman dengan bangga. Kedua bola matanya tampak berkaca-kaca.
“Besok pagi kita berangkat. Paman sudah hubungi Mas Azmi. Dia akan menemani perjalanan kita.”
Kami berangkat menaiki mobil yang dikemudikan Mas Azmi. Jalan yang harus kami tempuh cukup berliku dan berkelok karena harus mengitari gunung dan menepi dari pinggir jurang. Setelah itu masih harus melewati jalan berbatu. Mobil terguncang-guncang. Semakin mendekati lokasi, udara semakin terasa dingin. Mas Azmi membuka kaca jendela. Kami menghirup udara dalam-dalam. Segarnya!
Akhirnya kami sampai di Ranu Pani. Di sana sudah banyak pendaki yang membangun tenda untuk bermalam.
Kami juga mendirikan tenda dan berkenalan dengan beberapa pendaki. Mereka sedang mempersiapkan perbekalan.
“Untuk mendaki gunung diperlukan stamina yang kuat. Oleh sebab itu para pendaki beristirahat di sini,” jelas Paman.
“Udara di sini sangat segar, ya. Pepohonan hijau tumbuh subur di sini,” ucapku.
“Kelestarian hutan adalah tanggung jawab kita bersama. Kalau paru-paru dunia sudah rusak, apalagi yang bisa kita wariskan untuk generasi mendatang? Di Ranu Kumbolo para pendaki dilarang memasang api unggun, loh. Pihak Taman Nasional Tengger Semeru membuatkan satu api unggun untuk digunakan bersama,” jelas Mas Azmi.
Malam tiba. Di dalam tenda Paman Mursali menceritakan tentang Ranu Kumbolo, yaitu danau indah yang terletak di kaki Gunung Semeru dan dijuluki surganya Semeru.
“Kalau sudah dewasa dan punya stamina yang kuat kami juga ingin mencapai Puncak Mahameru dan menancapkan bendera merah putih seperti Paman!” ucapku dan disambut anggukan Lia dan Nia. (***)
 

Demikian kisah saya hari ini di rumah maya penuh cinta ^_^
Semoga teman-teman bersedia membaca dan memberikan komentar.
Salam sehangat cokelat dari saya. 

Wassalamu'alaikum wr.wb
Be First to Post Comment !
Posting Komentar

Terima kasih buat kunjungannya. Semoga menginspirasi.
Silakan tinggalkan komentar di bawah postingan ini.

Mohon untuk tidak meninggalkan link hidup.

EMOTICON
Klik the button below to show emoticons and the its code
Hide Emoticon
Show Emoticon
:D
 
:)
 
:h
 
:a
 
:e
 
:f
 
:p
 
:v
 
:i
 
:j
 
:k
 
:(
 
:c
 
:n
 
:z
 
:g
 
:q
 
:r
 
:s
:t
 
:o
 
:x
 
:w
 
:m
 
:y
 
:b
 
:1
 
:2
 
:3
 
:4
 
:5
:6
 
:7
 
:8
 
:9