Kado Istimewa dari Kedalaman Samudra

Kamis, 04 Februari 2021

Kado Istimewa dari Kedalaman Samudra
Oleh: Karunia Sylviany Sambas



“Aku lulus, Fa!”

Bola mataku terasa kabur seketika. Kelopak mata pun memanas.

“Aku gagal. Kamu yang sukses. Selamat, ya!”

Manda menghambur ke pelukanku.

“Kamu akan jadi sahabat terbaikku. Selamanya!”

Aku membalas rangkulan itu dengan sangat erat. Betapa bangga memiliki sahabat sekaligus saingan dalam belajar. Aku dan Manda sudah berteman sejak usia prasekolah. Lewat sebuah pertemuan sekaligus perpisahan indah di sebuah pantai di kota pelajar ini.

“Aku akan terbang di atas samudra yang luas itu. Jepang tempat yang sangat-sangat kita impikan sejak lama, Fa!” Saking histerisnya, Manda membuat tubuhku terguncang-guncang.

Aku bisa merasakan kebahagiaan sahabatku itu. Kami berdua sama-sama penggemar anime. Takdir menyatukan kami dalam jenjang dan kelas yang sama. Bahkan kami selalu bergantian menyabet jawara kelas. Tak heran, dalam banyak event kami sering dikirim untuk mewakili sekolah. Lewat event-event tersebut kami mendapat banyak informasi tentang penerimaan beasiswa kuliah di luar negeri. Sejak saat itu kami menyemai bibit semangat untuk pergi bersama ke Jepang suatu hari nanti. Tapi, nyatanya kini, hanya Manda yang akan berangkat.

***

Akhir pekan ini adalah hari ulang tahunku. Tidak seperti anak lain yang gembira di hari ulang tahunnya. Aku malah berdiam diri di kamar sambil memeluk boneka beruang kesayangan. Ayah sudah lebih dari tiga kali membatalkan janji dan itu membuatku sangat kecewa.

“Fatma! Ayo, ke pantai! Ayah sedang libur. Ayah akan membacakan dongeng untuk Fatma di sana.”

Seketika aku kembali bersemangat. Kami sekeluarga pergi ke pantai. Ketika ibu masih menyiapkan makan siang, aku mendengarkan dongeng dari ayah. Dongeng tentang keajaiban samudra. Raksasa lautan yang menyimpan sejuta pesona tentang keindahan alam bawah laut.

Semesta yang tadinya mendukung tetiba berubah murka. Goncangan gempa disusul dengan sapuan air laut meluluhlantakkan kebahagiaan yang baru sekejap kurasakan. Sejak hari dimana aku ditemukan ayah Manda, sejak hari itu pula statusku berubah menjadi yatim piatu.

Ayah dan ibu telah dibawa laut menuju samudra. Sejak itu aku membenci laut dan samudra. Mengingat dongeng indah tentang samudra yang ayah bawakan di hari itu menjadi satu-satunya kenangan termanis sekaligus terpahit dalam hidup.

***

“Ada beasiswa kuliah di Jepang, Fa!”

Hari itu kami mendapat berita yang sangat membahagiakan. Sebuah kesempatan yang kami nantikan. Sejak hidup bersama keluarga Manda, aku kembali berani untuk bermimpi. Aku meraih selebaran yang ada di tangan Manda.

Serasa ada luka tersiram cuka di dada. Persyaratan untuk meraih beasiswa itu adalah membuat esai bertema keajaiban samudra. Aku berani bermimpi besar tapi nyaliku pada samudra ternyata sangat kecil. Aku mengulum senyum melihat senyum lebar Manda.

Pekan demi pekan menuju tahap pengumpulan esai menjadi hari yang berat bagiku. Apalagi ada hal aneh yang kurasakan beberapa hari ini. Ayah dan ibu selalu hadir dalam mimpiku. Keduanya tidak mengatakan apa-apa. Wajah bercahaya dan senyum merekah mereka membuatku nyaman dalam impian.

Entah mengapa satu hari sebelum pengumpulan esai itu aku begitu bersemangat mengetikkan kata demi kata di komputer. Aku tak lagi memedulikan bulir air mata yang menemani. Mimpi tentang ayah dan ibu seolah menuntunku untuk memburu harapan baru.

Pagi sebelum esai dikirim melalui kantor pos, aku dan Manda bertukar karya. Kami saling membaca dan menyatakan pendapat. Lalu kami saling melempar senyum, tos dan mengepalkan tangan ke udara. Ada lima kuota beasiswa dan kami yakin akan menjadi dua diantaranya.

***

Hari ini harusnya aku merayakan hari lahir yang ke-18 tahun. Namun tampaknya aku harus merayakan hari istimewa ini seorang diri. Tubuhku meriang sejak kemarin sehingga mengharuskan aku lebih banyak istirahat.

Jadwal keberangkatan pesawat Manda pun hari ini. Aku tak bisa mengantar sahabatku itu ke bandara. Lewat video call, Manda berjanji akan menghubungiku sesampainya di Jepang nanti.

“Bukankah pesawatmu sudah berangkat sejam yang lalu?” tanyaku petang itu.

“Aku … aku … minta maaf, Fa!” Bukannya menjawab tanya, Manda malah menghambur ke pelukanku. Sama seperti tempo hari saat ia menerima berita kelulusan. Tapi kali ini ada yang berbeda. Ia bukan seperti Manda yang kukenal. Manda tak membiarkan aku bernapas dengan leluasa. Ia mendekapku sangat erat sambil terisak.

“Aku menyesal!” lirihnya.

Nada dering gawaiku membuat Manda melepaskan pelukan. Ia lalu menuju pintu kamar tanpa menoleh.

Seketika aku tergugu saat menerima panggilan dari ibu Manda.

“Pesawat yang Manda tumpangi jatuh di Samudra ….” Tak kudengar lagi dengan jelas kata-kata ibu.

Tubuhku mendingin dan bergetar hebat. Bukankah Manda baru saja ….

Butir keberanian yang aku kumpulkan menuntun langkah untuk mengikuti jejak Manda. Ada bekas air di lantai. Lalu … langkahku terhenti saat menemukan sepucuk surat dalam keadaan basah.

Ada tulisan “Dear Sahabatku, Fatma”.

Kuraih surat dengan tinta hampir pudar itu. Deretan kata yang membuatku bungkam.

Maafkan aku, Fa! Seharusnya kamu yang mendapatkan beasiswa itu.

Ternyata, ada rahasia besar yang Manda sembunyikan. Ia telah menukar esai kami.

Manda menemui takdirnya di samudra. Lagi-lagi, aku harus merelakan orang yang kusayang ditelan raksasa lautan itu. Lagi-lagi, di hari ulang tahunku.

Selamat jalan, Sahabatku! Terima kasih untuk semua kenangan manis yang telah kauberi.

***







Be First to Post Comment !
Posting Komentar

Terima kasih buat kunjungannya. Semoga menginspirasi.
Silakan tinggalkan komentar di bawah postingan ini.

Mohon untuk tidak meninggalkan link hidup.

EMOTICON
Klik the button below to show emoticons and the its code
Hide Emoticon
Show Emoticon
:D
 
:)
 
:h
 
:a
 
:e
 
:f
 
:p
 
:v
 
:i
 
:j
 
:k
 
:(
 
:c
 
:n
 
:z
 
:g
 
:q
 
:r
 
:s
:t
 
:o
 
:x
 
:w
 
:m
 
:y
 
:b
 
:1
 
:2
 
:3
 
:4
 
:5
:6
 
:7
 
:8
 
:9