[CERPEN ANAK] Aksi Tiki si Pemberani dimuat di Rubrik Permata (Majalah Ummi) edisi Februari 2016

Rabu, 27 Juli 2016


Aksi Tiki si Pemberani
Oleh Karunia Sylviany Sambas

Tiki Itik dan dua ekor saudaranya tinggal di sebuah kandang. Kandang itu cukup nyaman untuk mereka bertiga. Tiap pagi dan sore si pemilik kandang selalu menuangkan makanan untuk mereka ke dalam sebuah baki. Tiki dan kedua saudaranya hanya perlu mengirimkan sebuah ‘alarm’ bila sang Tuan terlambat mengirim makanan. Caranya, dengan mematuk-matuk pintu kandang yang terbuat dari seng. Begitu mendengar suara ‘alarm’ itu, si pemilik kandang akan segera teringat pada tugasnya.
Akhir-akhir ini Tiki merasa keadaan di kandang sudah tidak nyaman. Ini karena kedatangan seekor ayam betina hitam. Ayam itu milik tetangga. Ia tinggal di samping kandang Tiki.
Si Ayam Betina sudah berhasil membuat Tiki iri. Tiki iri karena ayam betina itu bisa bertelur dan mengerami telur itu hingga menetas menjadi anak ayam. Sedangkan Tiki hanya bisa bertelur saja. Tiki benar-benar iri. Ia ingin menjadi lebih berguna di mata tuannya.
Petok ... petok ... petok ...
Si Ayam Betina mulai berkotek lagi. Tiki benci mendengar kotekan itu. Setelah berkotek, tak lama kemudian ia pasti akan bertelur.
Dua orang anak kecil sedang memperhatikan si Ayam.
“Nanti kalau anak ayamnya sudah banyak, kita jual, ya, Kak. Kan bisa nambah biaya sekolah kita,” ucap seorang anak yang usianya kelihatan lebih muda.
Kedua anak itu tersenyum memperhatikan ayam peliharaan mereka.
Tiki makin sedih. Tidak mungkin ia bisa membantu tuannya seperti si Ayam, pikir Tiki.
***
Malam ini Tiki meringkuk di balik kandang. Sudah jauh malam, tapi Tiki masih sukar memejamkan mata. Langit sangat hitam pekat. Suara jangkrik terdengar bersahut-sahutan. Ia memperhatikan kedua saudaranya, Tidi dan Timi. Keduanya sudah memejamkan mata sejak tadi.
Tap ... tap ... tap ...
Terdengar langkah lemah sesuatu. Tiki menegakkan kepalanya. Dan ia melihat sebuah bayangan berjalan merangkak di atas dinding pembatas rumah.
“Siapa itu?” tanya Tiki.
Ia menyenggol tubuh Tidi dan Timi. Keduanya mengangkat kepala dengan malas.
“Ada apa?” tanya Tidi dan Timi bersamaan.
“Lihat itu! Ada sesuatu yang bergerak di sana.” Tiki menggoyangkan kepalanya, menunjuk ke satu arah.
Bayangan itu mulai mendekati pintu seng. Pintu seng itu langsung terhubung ke dapur sang Tuan.
“Ssstt ... pelan-pelan,” terdengar suara dari balik pagar pembatas rumah.
Bayangan itu menoleh dan mengangguk kemudian mulai merangkak lagi. Tiki makin curiga. Bayangan hitam itu tidak membuka pintu seng. Ia merayap melalui samping pintu seng yang tidak ada kawat besinya.
Tiki membisikkan sesuatu ke telinga saudaranya. Lalu ....
Kwak ... kwak ... kwak ...
Suara Tiki, Tidi dan Timi terdengar riuh. Tiki juga mematuk-matuk pintu seng sekuat-kuatnya. Mendengar suara ribut-ribut, sang Tuan terbangun. Ia mengarahkan senter ke dapur.
Prangg!
Terdengar suara sesuatu yang jatuh. Lalu, bayangan hitam tadi membuka pintu seng dan langsung naik ke dinding pembatas. Dengan sekali lompatan, ia turun.
Tiki sempat melirik. Ada dua bayangan hitam yang berlari menuju semak kecil di belakang rumah.
Ketiga itik itu menghentikan aksinya. Terlihat sinar menerangi pintu belakang yang sudah terbuka.
“Horeee ... Tuan sudah bangun! Horeee ...!”
Mereka bersorak kegirangan.
Wajah sang Tuan kelihatan cemas. Ia mengambil sesuatu yang terguling di lantai. Sebuah tabung berwarna hijau. Itu tabung gas elpiji.
“Astaga! Ada maling yang masuk ke rumah kita, Pak,” seru istri sang Tuan dengan raut wajah gusar.
Setelah merapikan barang yang berantakan dan menutup pintu seng, keduanya masuk kembali ke rumah.
Tiki dan kedua saudaranya lega. Mereka telah berhasil menggagalkan tindakan maling gas tersebut. Tidi dan Timi melanjutkan tidur. Tiki juga mulai memejamkan mata.
Sementara itu, si pemilik rumah masih berbincang di ruang tamu. Keduanya belum bisa tidur memikirkan aksi nekat si maling.
***
Pagi menjelang.
“Kata Ibu dan Ayah, kalian sudah menggagalkan pencurian gas, ya, Tik?”
Itu suara Tio, anak sang Tuan. Ia memang senang bercengkerama sambil menuang makanan ke dalam baki.
“Terima kasih, ya, Itik-itikku sayang. Kalian trio kwak-kwak yang pemberani.”
Apa itu? Tio mengucapkan terima kasih? Tiki membuka pendengarannya lebar-lebar.
“Ohya, aku senang sekali bisa sarapan pakai telur kalian setiap pagi. Apalagi kalau diasinkan. Sedaaapp! Terus bertelur, ya.”
Tio mengacungkan jempol.
“Terima kasih, Itik.”
Tio menutup kandang dan menghilang di balik dinding seng.
Tiki jadi tersipu. Ternyata, telur-telur mereka sangat disukai oleh sang Tuan.
Tiki tak bersedih lagi. Ia segera menuju kolam kecil dan ikut minum bersama Tidi dan Timi.
Petok ... petok ... petok.
Suara si Ayam Betina kali ini terdengar merdu sekali. (***)
2 komentar on "[CERPEN ANAK] Aksi Tiki si Pemberani dimuat di Rubrik Permata (Majalah Ummi) edisi Februari 2016"
  1. waah,, keren iin mba Karunia, banyak ceritanya yang dibuat media :)
    ajariin dong :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Alhamdulillah, Mbak. Masih terus belajar, Mbak. Saya malah mupeng dengan Mbak Eri yang udah banyak menoreh prestasi :)

      Hapus

Terima kasih buat kunjungannya. Semoga menginspirasi.
Silakan tinggalkan komentar di bawah postingan ini.

Mohon untuk tidak meninggalkan link hidup.

EMOTICON
Klik the button below to show emoticons and the its code
Hide Emoticon
Show Emoticon
:D
 
:)
 
:h
 
:a
 
:e
 
:f
 
:p
 
:v
 
:i
 
:j
 
:k
 
:(
 
:c
 
:n
 
:z
 
:g
 
:q
 
:r
 
:s
:t
 
:o
 
:x
 
:w
 
:m
 
:y
 
:b
 
:1
 
:2
 
:3
 
:4
 
:5
:6
 
:7
 
:8
 
:9