Waspada Gagal Ginjal Kronik Menurut WHO, Cegah Sebelum Terlambat!
Setiap mulai masuk kembali dinas, saya dan teman-teman akan melihat buku rawatan. Berkenalan kembali dengan pasien. Begitulah kira-kira istilahnya sebab kami sudah libur sekian hari dan akan memulai aktivitas kembali. Keberadaan pasien pasti bisa berubah sekian waktu berlalu
Gagal ginjal kronik atau Chronic Kidney Disease (CKD) merupakan salah satu penyakit yang kerap saya temukan tertulis di buku rawatan.
Gagal ginjal kronik ini merupakan salah satu masalah kesehatan global yang terus meningkat dari tahun ke tahun.
Menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), CKD adalah kondisi ketika fungsi ginjal menurun secara bertahap dan berlangsung dalam jangka panjang.
Penurunan fungsi ginjal ini bersifat progresif dan dapat berakhir pada gagal ginjal stadium akhir, yakni kondisi ketika ginjal tidak lagi mampu menjalankan tugas pentingnya untuk mempertahankan keseimbangan cairan, elektrolit, serta membuang limbah metabolik dari darah.
Gagal Ginjal Kronik Menurut WHO bukan hanya penyakit yang berdiri sendiri, tetapi juga merupakan faktor risiko penting untuk penyakit kardiovaskular seperti serangan jantung dan stroke.
Oleh sebab itu, CKD masuk ke dalam kelompok penyakit tidak menular (PTM) yang sangat diperhatikan, berdampingan dengan diabetes, hipertensi, kanker, dan penyakit jantung.
Definisi dan Klasifikasi Menurut WHO
WHO mengacu pada definisi CKD berdasarkan parameter medis yang disepakati secara internasional. CKD didefinisikan sebagai:
Kerusakan ginjal yang ditandai dengan kelainan struktur atau fungsi ginjal (misalnya albuminuria). Penurunan laju filtrasi glomerulus (LFG atau GFR) hingga di bawah 60 mL/menit/1,73 m² yang berlangsung selama setidaknya tiga bulan.
WHO mengakui standar pembagian lima stadium CKD berdasarkan nilai GFR:
Stadium 1: Fungsi ginjal normal, tetapi ada tanda kerusakan ginjal.
Stadium 2: Penurunan GFR ringan.
Stadium 3: Penurunan sedang (sering tanpa gejala, tetapi mulai muncul komplikasi).
Stadium 4: Penurunan berat.
Stadium 5: Gagal ginjal stadium akhir, memerlukan dialisis atau transplantasi.
Klasifikasi ini penting untuk menetapkan strategi penanganan dini, sehingga komplikasi serius dapat dicegah.
Faktor Risiko Gagal Ginjal Kronik
WHO menekankan bahwa CKD sering kali berkaitan erat dengan gaya hidup dan penyakit yang dapat dicegah.
Beberapa faktor risiko utama meliputi:
1. Diabetes Mellitus
Diabetes menjadi penyebab utama CKD secara global. Tingginya kadar gula darah merusak pembuluh darah kecil di ginjal, sehingga menurunkan kemampuan ginjal menyaring darah.
2. Hipertensi
Tekanan darah tinggi memberi beban berat pada pembuluh darah ginjal. Dalam jangka panjang, kondisi ini menyebabkan kerusakan struktural yang progresif.
3. Penyakit kardiovaskular
Penyakit jantung dan CKD saling berhubungan. Seseorang dengan penyakit jantung memiliki risiko lebih tinggi mengalami CKD.
4. Obesitas
WHO menyoroti obesitas sebagai penyebab meningkatnya diabetes dan hipertensi, yang kemudian memicu CKD.
5. Riwayat keluarga
Faktor genetik memengaruhi risiko CKD, terutama pada penyakit ginjal herediter seperti polikistik.
6. Kebiasaan merokok
Rokok merusak pembuluh darah di seluruh tubuh termasuk ginjal, sehingga memperburuk risiko CKD.
7. Penggunaan obat atau jamu tertentu
Penggunaan obat antiinflamasi nonsteroid (OAINS) dalam jangka panjang atau konsumsi jamu mengandung logam berat turut menjadi faktor risiko yang disorot WHO, terutama di negara berkembang.
Gejala Gagal Ginjal Kronik Menurut WHO
WHO menekankan bahwa CKD sering disebut “silent killer” karena gejalanya muncul ketika kerusakan ginjal telah parah.
Beberapa gejala yang sering ditemukan pada stadium lanjut meliputi:
- Mudah lelah dan lemas
- Pembengkakan kaki, wajah, atau perut (edema)
- Penurunan produksi urin atau sering buang air kecil di malam hari
- Mual-muntah dan kehilangan nafsu makan
- Kulit gatal
- Sesak napas akibat penumpukan cairan di paru
- Tekanan darah yang sulit dikendalikan
Kesadaran masyarakat masih rendah, sehingga banyak orang baru mengetahui dirinya menderita CKD ketika kondisinya sudah berat dan membutuhkan dialisis.
Beban Global Gagal Ginjal Kronik
WHO melaporkan bahwa CKD merupakan salah satu penyebab kematian terbesar di dunia.
Setiap tahun, jutaan orang meninggal akibat komplikasi CKD. Tingginya angka ini disebabkan oleh beberapa faktor:
Deteksi yang terlambat, karena gejala baru muncul pada stadium lanjut.
Akses terbatas terhadap layanan dialisis dan transplantasi, terutama di negara berpendapatan rendah-menengah.
Beban biaya yang sangat tinggi, karena perawatan CKD membutuhkan sumber daya medis yang kompleks.
Peningkatan jumlah pasien diabetes dan hipertensi secara global.
Di banyak negara berkembang, termasuk Indonesia, CKD menjadi penyebab utama pasien menjalani hemodialisis. WHO menilai bahwa beban ekonomi CKD sangat besar, baik bagi keluarga maupun sistem kesehatan.
Pencegahan CKD Menurut Rekomendasi WHO
WHO menekankan pentingnya pencegahan primer sebagai upaya paling efektif mengurangi beban CKD global. Beberapa langkah kunci pencegahan menurut WHO antara lain:
1. Kendalikan diabetes dan hipertensi
Pengobatan teratur, pemeriksaan rutin, dan kepatuhan minum obat merupakan strategi utama mencegah kerusakan ginjal.
2. Pola makan sehat
- Batasi garam
- Kurangi makanan ultra-proses
- Tingkatkan konsumsi buah dan sayur
- Jaga berat badan ideal
Ini sejalan dengan rekomendasi WHO tentang pola makan sehat untuk mencegah PTM.
3. Aktivitas fisik teratur
WHO menyarankan minimal 150 menit aktivitas fisik sedang setiap minggu.
4. Hindari merokok dan alkohol
Keduanya berkontribusi terhadap kerusakan pembuluh darah dan meningkatkan risiko CKD.
5. Batasi penggunaan obat tanpa resep
Terutama obat anti nyeri jangka panjang seperti ibuprofen atau diklofenak.
6. Pemeriksaan fungsi ginjal berkala
Terutama bagi orang dengan faktor risiko seperti diabetes, hipertensi, obesitas, dan usia di atas 60 tahun.
Pendekatan WHO dalam Mengatasi CKD Secara Global
WHO mendorong negara-negara untuk melakukan:
- Integrasi layanan deteksi dini diabetes, hipertensi, dan CKD di fasilitas kesehatan primer.
- Pendidikan masyarakat tentang bahaya CKD dan cara pencegahannya.
- Peningkatan ketersediaan obat esensial seperti ACE inhibitor dan ARB untuk perlindungan ginjal.
- Skema pembiayaan kesehatan yang mendukung akses hemodialisis dan transplantasi yang terjangkau.
- Penguatan riset dan data epidemiologi untuk memahami tren CKD di setiap negara.
WHO juga bekerja sama dengan organisasi internasional lain melalui kampanye global seperti World Kidney Day untuk meningkatkan kesadaran masyarakat.
Gagal ginjal kronik adalah penyakit yang berkembang diam-diam namun berdampak besar terhadap kualitas hidup, ekonomi, dan sistem kesehatan global.
Gagal Ginjal Kronik Menurut WHO dapat dicegah melalui gaya hidup sehat, pengendalian penyakit penyerta, serta pemeriksaan rutin bagi kelompok berisiko.
Deteksi dini menjadi kunci utama agar penyakit ini tidak berkembang menjadi gagal ginjal stadium akhir yang membutuhkan perawatan kompleks dan mahal.
Dengan kesadaran yang lebih baik serta dukungan sistem kesehatan yang kuat, beban CKD global dapat dikurangi, dan jutaan nyawa dapat diselamatkan.
Saya dan teman-teman tentu berharap kami tidak lagi menemukan tulisan diagnosa terkait gagal ginjal kronik ini. Yuk, senantiasa jaga pola hidup sehat. Sayangi ginjal kita sedini mungkin dengan menghindari faktor risiko! Salam sehat, ya!








