Sebuah Catatan Perjalanan Menulis dan Bertumbuh Bersama IIDN di Era Digital

Setiap kali melihat info pengumuman sayembara saya selalu deg-degan, ya sama seperti kebanyakan orang lainnya. Namun, saat tidak melihat nama saya menjadi salah satu juara, biasanya saya hanya akan menarik napas panjang, embuskan, dan lupakan.

Di luar dugaan, ada lomba yang membuat saya memikirkannnya selama berhari-hari. Malah, postingan pengumuman pemenang membuat rasa sakit diam-diam menyelinap. Sebabnya bukan saya tidak bisa menerima kekalahan dari peserta lain, tetapi kekalahan dari diri sendiri. Menyesal tidak sudah karena saya gagal mengirimkan naskah pada lomba tersebut.

Penyebab gagal kirim pun bukan karena memang berniat tidak ikut, melainkan penundaan yang berakhir dengan penutupan google form. Saya biasa menulis untuk lomba di akhir-akhir penerimaan. Misal, lomba akan ditutup pada jam 23.59 WIB. Biasanya, saya bisa ngebut satu hari terakhir dan post beberapa menit sebelum deadline. Namun, hari itu, saya salah karena tidak memperhatikan tulisan kuota terbatas dan penutupan bisa ditutup sewaktu-waktu yang tertera pada e-flyer.

Menilik perjalanan menulis saya beberapa tahun terakhir memang terasa lebih mudah sekaligus lebih sulit. Mudah, karena saya mengikuti beberapa kelas kepenulisan, sehingga saya bisa belajar dari ahlinya. Sulit, karena sifat penundaan yang saya miliki belum bisa hilang maksimal. Hal ini berdampak kepada hilangnya beberapa peluang yang membuat nyeri itu nyata di dada, dan baru bisa benar-benar lenyap setelah berbilang hari. 

Penyesalan ini yang tidak ingin saya ulang. Cukup ini menjadi yang terakhir. Saya harus kembali membuka catatan perjalanan menulis dan belajar dari rekam jejak itu. Bagaimana saya memulai sebuah perjalanan yang sangat berharga. 

Rekam Jejak Dua Belas Tahun Berlalu

belajar ngeblog

Kembali melihat rekam jejak menulis di blog Rekam Jejak Sang Pemimpi, khususnya ketika blog ini lahir pada Minggu, 15 September 2013, tidak berniat lebih. Hanya berbagi informasi yang sepertinya lebih efektif jika disampaikan lewat tulisan panjang di blog.

Dua belas tahun berlalu, rekam jejak menulis di blog ini pun perlahan tidak lagi sekadar hanya posting dan mengirimkan pranala hanya kepada teman yang bertanya, tetapi juga berharap apa yang dituliskan di blog bisa sampai kepada lebih banyak pembaca sehingga bisa lebih bermanfaat.

Untuk mewujudkan keinginan ini, seorang narablog harus mau meningkatkan kemampuan, salah satunya dengan belajar menulis artikel sesuai SEO yang membuat artikel ‘disayang’ mesin pencari sehingga bisa direkomendasikan ke lebih banyak pembaca, meskipun sang narablog tidak membagikan pranala secara langsung.

Beruntung, berkomunitas merupakan salah satu jalan saya lebih mudah mendalami banyak hal dalam dunia blog, termasuk SEO (Search Engine Optimization). Menurut saya, memulai ngeblog dengan jalan autodidak tidak masalah, tetapi pada perjalanannya, kita akan lebih mudah dan terarah bila bergabung bersama teman-teman yang turut memilih jalan blogging.

Menjejak Ibu Kota Berkah dari Blog

berkah menulis

Sejak kecil, melihat ibu kota dari layar kaca dan cerita-cerita orang, membuat saya punya impian kecil untuk bisa menginjakkan kaki di tanah Jakarta. Masjid Istiqlal, Monas, dan Perpusnas menjadi tiga lokasi yang tertulis rapi dalam daftar impian. Bisakah saya yang berasal dari kota kecil ini punya kesempatan ke sana? Pertanyaan itu terus saja tersimpan, serapi rahasia pribadi.

Hingga pada suatu ketika di 2024, ada sayembara menulis cerita anak tingkat nasional. Para penulis terpilih berkesempatan menginap di hotel bintang 5 untuk mengikuti pembinaan kepenulisan. Impian itu kembali muncul. Kesempatan ini harus dicoba. Kirim naskah sebaik mungkin, langitkan doa. Itu dua modal yang saya bawa dalam prosesnya.

Untuk mengirim naskah tentu dibutuhkan ide. Sementara waktu yang ada cukup terbatas. Saya pun langsung mengingat artikel-artikel blog yang memiliki energi inspiratif untuk diambil inti sarinya, lalu dituangkan dalam naskah cerita anak. Alhamdulillah, setelah berselancar di lautan artikel Rekam Jejak Sang Pemimpi, saya menemukan satu artikel yang saya kira menarik jika diubah dalam bentuk cerita anak.

Alhamdulillah, cerita anak itu berhasil menjadi satu dari seratus karya yang diterima untuk selanjutnya diterbitkan oleh Kemendikdasmen. Impian ke ibu kota menjadi nyata. Bersyukur sangat banyak untuk kesempatan baik ini.

menjaga nuget ikan

Ruang Adaptif untuk Blogging di Era Digital

Menjadi seorang narablog di era digital seyogianya memiliki kemampuan menyesuaikan diri dan terus berinovasi. Tulisan yang dikombinasikan dengan audio dan visual bisa menjangkau pembaca yang lebih luas. Kita bisa melihat beberapa aplikasi baca buku yang juga berinovasi menjadi aplikasi baca dan dengar buku. Buku didengar? Yap, istilahnya audiobook. Di tengah padatnya aktivitas harian, orang masih memberikan hatinya kepada kegiatan baca buku. Apa daya, memegang buku dan menekurinya ternyata tidak segampang merangkai rencana. Mendengarkan buku menjadi solusi cerdas untuk hal ini.

Seorang narablog hendaknya bersikap adaptif dengan cara kombinasi tulisan di blog dengan video singkat terkait tulisannya. Video ini bisa diposting di media sosial, lalu berikan keterangan singkat bahwa keterangan lebih lanjut bisa ditemukan pada pranala blog.

Jika kembali kepada pengalaman saya sebelumnya, bahkan tulisan nonfiksi bisa diubah menjadi fiksi. Meski berbeda genre dan cara penyampaian, sesungguhnya keduanya memiliki satu tujuan untuk menyebarkan kebermanfaatan.

Kolaboratif Meninggikan Makna

belajar menulis nonfiksi

Selain adaptif, seorang narablog juga selayaknya memiliki kesediaan bekerja sama lintas pihak untuk mencapai tujuan. Seperti tugas tenaga kesehatan di rumah sakit. Ada dokter dan perawat. Keduanya tidak bisa bekerja sendiri-sendiri karena masing-masing punya tugas pokok dan fungsi.

Untuk kepentingan inilah, dalam rangka bertumbuh di era digital, saya begitu antusias ketika komunitas yang berkontribusi banyak saat saya memulai langkah mengadakan webinar Bongkar Dapur Redaksi: Rahasia Naskah Dipinang Penerbit Mayor. Dalam webinar yang dilaksanakan via zoom meeting ini, para peserta mendapatkan banyak transferan ilmu dari editor penerbit Quanta.

Menurut saya artikel blog memiliki peluang besar untuk kemudian diadaptasi menjadi bentuk tulisan nonfiksi yang lebih berenergi. Kolaborasi ini penting agar lebih berdaya untuk membuka peluang lebih besar di era digital.

IIDN, Ibu Ibu Doyan Nulis, Aktif, Kreatif, Produktif

Logo 16th Anniversary IIDN

Saya mengenal komunitas yang punya moto Aktif, Kreatif, Produktif ini sejak 2020. Saat itu saya mengikuti lomba blog Optimalkan Peluang Dunia Blog Bersama IM3 OoredooXIIDN. Begitu luas pandangan saya terkait dunia blogging pasca mengikuti webinar sekaligus lomba blog ini. Sejak saat itu saya rutin mengikuti event yang digelar oleh komunitas dengan founder Teh Indari Mastuti ini. Sampai-sampai, saya ingat betul ucapan Mba Widyanti Yuliandari alias Buketu yang saat itu menjabat ketua umum Ibu Ibu Doyan Nulis, yakni Bertumbuhlah Bersama Blog.

Tiga kata itu seolah menjadi amunisi saya saat berkarya di blog. Saat membaca tulisan yang dahulu dan membandingkan dengan sekarang, ada rasa haru sekaligus bangga. Ya, saya telah melangkah sejauh itu. Dua belas tahun. Dan setiap waktu yang saya isi dan jalani bersama blog ini adalah sebuah pembelajaran yang sangat berharga.

Kini, IIDN sudah berganti kepemimpinan. Diketuai Bu Novi Herdiani, Ibu Ibu Doyan Nulis sedang merayakan 16th IIDN Anniversary. Sebuah angka layaknya remaja yang punya semangat membara untuk lebih berdaya dengan karya terbaiknya. Enam belas tahun yang lalu, ia lahir dari mimpi sederhana tentang perempuan berdaya lewat aksara. Jejak itu tidak terbendung dan makin rapat, menandakan banyak orang punya keinginan besar untuk turut membersamai IIDN dalam perjalanannya.

Selamat ulang tahun ke-16, IIDN. Semoga senantiasa menjadi komunitas yang saling menguatkan. Menjadi bagian dari IIDN sungguh pengalaman berharga.

#IIDNAnniversary
#AnniversaryWritingJourney
#IIDN
Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url