Dari Gambut ke Meja Makan: Ekosistem Berubah, Ketahanan Pangan Goyah

Sebelum banyak berita mengupas tentang gambut, mendengar dan membaca kata gambut membuat kening saya agak berkerut sebabnya saya belum mengenal seberapa pentingnya gambut bagi lingkungan. Mengapa ramai dibicarakan dan dihubungkan dengan kebakaran hutan dan lahan dan kabut asap? Dan agaknya bukan tidak mungkin ada orang-orang seperti saya yang juga belum mengenal lebih banyak tentang gambut.

Beruntung, pada Jumat, 16 Oktober 2026 kami para blogger mendapat kesempatan berharga untuk mengikuti Online Gathering "Dari Gambut ke Meja Makan: Menelusuri Kaitan Karhutla, Biodiversitas, dan Pangan - EBS Online Gathering 2 yang digelar oleh EBS (Eco Blogger Squad) x Pantau Gambut x Nusantara Food Biodiversity.

Acara yang digelar selama lebih kurang dua jam ini, 14.00-16.00 WIB, dibuka dengan paparan terkait Peatland Is Not Wasteland oleh Kak Yoga Aprillianno, Communications Lead dari Pantau Gambut. Jika diartikan kata per kata, peatland: lahan gambut, is not: tidak sama dengan, dan wasteland: tanah kosong yang tidak berguna.

Gambut, Kenali Lebih Dekat, Seperti Apa Kiprah Menjaga Lingkungan

kiprah gambut Kiprah Menjaga Lingkungan

Gambut itu ternyata adalah jenis tanah basah yang terbentuk dari penumpukan bahan organik. Bahan organik adalah bahan-bahan yang berasal dari makhluk hidup, seperti pohon, rumput, dan hewan mati. Keunikannya, lahan basah ini mampu menyimpan karbon dalam jumlah yang sangat besar.

Oh, ya, karena semua bahan organik itu terendam air, bahan organik itu hanya mengalami setengah pembusukan sebab biota pengurai sulit masuk ke gambut saat terendam air. Biota pengurai adalah hewan dan tumbuhan kecil yang fungsinya mengubah sisa-sisa makhluk hidup menjadi tanah.

Meskipun terlihat sederhana, faktanya, lahan gambut tidak terbentuk dalam waktu sebentar. Tumpukan bahan organik itu berasal dari ratusan hingga ribuan tahun. Dan lagi, terbentuknya melalui proses alam!

Karena berasal dari penumpukan bahan organik, lahan gambut rentan terhadap kebakaran. Jika bagian atasnya terbakar, akan sulit memadamkan bagian bawah gambut yang jelas terdiri dari serasah, bahan organik mati berupa ranting dan daun bekas pangkasan.

Lahan gambut bisa Sahabat temukan hanya di beberapa area, seperti rawa, cekungan antara sungai, dan daerah pesisir. Kawasan tempat kami tinggal juga pesisir, itu artinya gambut ini ada di dekat saya. Nah, lo, penjelasan Kak Yoga benar-benar membuka mata dan pikiran saya tentang gambut.

Penjelasan Kak Yoga benar-benar sangat ringan karena beliau menggunakan analogi dalam penyampaiannya. Misal, tentang gambut yang diibaratkan seperti spons dunia yang dapat menyerap air. Nah, jika ekosistem gambut rusak itu artinya kita sedang merusak spons yang selama ini melindungi. Jangan heran jika saat ekosistem gambut terganggu, terganggulah ekosistem lain yang terhubung dengannya. Bagaimana bila musim hujan tiba, apakah spons ini masih bisa bekerja optimal? 

Gambut kering bisa membawa dampak buruk bagi lingkungan sebab adanya lapisan mineral pirit (FeS₂). Saat masih terendam air, pirit tidak akan memberikan dampak ke sekelilingnya. Namun, ketika gambut kering, mineral ini akan bersentuhan dengan oksigen (teroksidasi). Oksidasi pirit (FeS₂) akan menghasilkan asam sulfat (H₂SO₄) dan asam sulfida (H₂S), membuat tanah menjadi sangat asam (pH 2-3). Jika tanah asam ini ikut terlarut ke kanal dan sungai besar, tanaman dan binatang di sungai bisa keracunan.

Lebih jauh, Kak Yoga bercerita tentang kanalisasi berlebihan yang telah merusak daya dukung hidrologis gambut. Proses gambut terbentuk sekian tahun itu seolah tidak ada artinya. Gambut yang seharusnya senantiasa basah dan menopang banyak kehidupan, kini menghadapi kemungkinan kekeringan karena kanalisasi yang terbentang setara dengan bolak-balik Tol Trans Jawa 120 kali!

Dampak Kerusakan Gambut

kerusakan gambut adalah

Penurunan Permukaan Tanah

Penurunan ini terjadi secara bertahap akibat pengeringan. Lahan gambut yang berongga mengalami pemadatan di bagian bawah, sehingga membuat tanah turun.

Perubahan Iklim

Di ulasan sebelumnya kita sudah tahu, ya, kalu gambut itu mampu menyimpan karbon dalam jumlah yang sangat besar. Hal ini karena genangan air menahan karbon keluar ke udara. Saat lahan gambut kering, karbon yang jumlahnya sangat besar akan dilepaskan ke atmosfer. Tentu saja, dampaknya sangat berbahaya, seperti bencana alam, suhu air laut meningkat, hingga perubahan pola hujan.

Polusi Asap

Kebakaran lahan gambut cepat menjalar. Dan lagi, memadamkan kebakaran di permukaan dan bagian bawah gambut membutuhkan waktu yang lama. Kebakaran ini menimbulkan pencemaran udara berupa asap yang dampaknya sangat berbahaya bagi kesehatan.

Hewan Berpindah atau Mati

Ada banyak hewan yang tinggal di lahan gambut. Semuanya saling terkait dan memiliki hubungan satu sama lain. Rusaknya lahan gambut membuat rantai makanan menjadi kacau. Hal ini terjadi karena spesies tertentu berpindah atau mati.

Nah, lo, kerusakan ekosistem gambut dampaknya tidak main-main karena kerusakan ekosistem gambut, berarti merusak kehidupan manusia, hewan, dan tumbuhan! Jadi, jika ada pembukaan lahan dengan cara pembakaran yang dianggap mudah dan praktis, ditambah dengan El Nino, fenomena pemanasan suhu permukaan laut, kebakaran akan meluas dan menjadi lebih sulit dikendalikan! Kondisi kekeringan meningkatkan kerentanan lahan dan hutan terhadap kebakaran (karhutla).

Upaya Mengatasi Kerusakan Gambut

Pembangunan Infrastruktur

Kita perlu membangun beberapa hal untuk membuat aliran atau sumber air. Beberapa bangunan yang perlu dibuat seperti sekat kanal, sumur bor, dan embung.

Pembasahan

Caranya dengan membasahi lahan gambut. Infrastruktur yang sudah dibuat dapat mengalirkan air ke gambut, sehingga lahan gambut pun menjadi kembali basah dan lembap.

Penanaman

Tanaman yang tumbuh subur akan membuat kelembapan gambut terjaga. Tanaman juga mencegah gambut mengalami kekeringan dan terbakar.

Menjaga Bersama

Menjaga lahan gambut bukan hanya tugas satu orang. Masyarakat perlu bekerja sama dalam menjaga lahan gambut.

Perubahan Pola Konsumsi di Indonesia Menjadi Seragam: Beras dan Gandum. Gastrokolonialisme?

nasi kosong


Paparan selanjutnya dibawakan oleh Kak Ahmad Arif terkait Keragaman Biokultural, Kunci Kedaulatan Pangan dan Iklim. Di sini, beliau memaparkan tentang fenomena nasi kosong di Papua yang dianggap sebagai ‘sesuatu yang murah’ sehingga anak-anak Papua rela mengganti nasi kosong dengan mi instan! Belum lagi keberadaan nasi kosong disebabkan orang tua mereka menjual pangan lokal untuk membeli beras. Padahal, jauh sebelumnya, nenek moyang telah hidup berdampingan dengan pangan lokal dan semuanya baik-baik saja.

Duh, miris sekali, ya. Apalagi paparan Kak Ahmad Arif bahwa lebih dari 50% produksi beras. Indonesia dari Jawa yang luas daratannya kurang dari 7% secara nasional. Pantas saja harga beras terus meroket karena permintaan tinggi tidak dibarengi dengan produksi.

Keseragaman pola konsumsi ini menimbulkan masalah 70% kalori hanya terpenuhi dari beras dan gandum, sehingga risiko krisis, defisiensi mikronutrien, obesitas, dan stunting. Dampak terhadap Indonesia adalah rentan guncangan harga global, triple burden malnutrition meningkat, dan pangan lokal makin terpinggirkan. Untuk mengatasi hal ini perlu diupayakan diversifikasi pangan, perbaikan pola makan, dan kedaulatan pangan berbasis lokal.

Keberagaman Hayati Merupakan Anugerah Terbesar Nusantara

ragam pangan lokal

Menurut UU Pangan No. 18/2012: “Pangan lokal adalah makanan dan bahan pangan yang dikonsumsi dan diproduksi sesuai potensi sumber daya, budaya, dan kearifan lokal masyarakat setempat.”
  • Sagu papeda di Papua
  • Embal di Muna dan Buton
  • Jagung bose di Timor
  • Singkong di Cirendeu, Jawa Barat
  • Sukun di Maluku dan Papua
  • Beras, uwi, keladi, dan gembili di Jawa
Setiap daerah punya pangan lokal yang bisa membuat Indonesia (seharusnya) bisa kenyang tidak hanya dengan beras dan terigu. Setuju?

Pangan Lokal, Masa Depan Kita

Perubahan iklim berdampak pada menurunnya produktivitas pangan, sebaliknya sektor pangan juga bisa memperparah krisis iklim. Oleh karena itu, pemenuhan pangan tidak bisa disandarkan pada satu jenis sumber pangan. Tidak ada solusi bijak selain kembali ke ragam pangan, dan jalan pangan untuk mengatasi triple burden malnutrition.

Pangan Lokal di Sumatera Utara

ragam pangan lokal nusantara

Sumatera Utara juga memiliki beragam potensi pangan lokal, mulai dari tanaman pangan pengganti beras seperti ubi kayu dan jagung, komoditas hortikultura seperti cabai merah, hingga hasil perikanan serta olahan pangan khas tradisional.

Salah satu yang berasal dari sumber karbohidrat adalah Ubi Kayu (Singkong). Pangan lokal ini dikembangkan luas sebagai pangan alternatif dan bahan baku pengganti beras di berbagai daerah seperti Serdang Bedagai. Ubi kayu bisa diolah menjadi mie rajang, opak, tape gadong, dan bubur gadong.

Ubi kayu ini sangat berpotensi menggantikan beras di Sumatera Utara lantaran area tanamnya yang luas dan masyarakat relatif terbiasa dengan rasa serta tekstur ubi kayu. Diketahui bahwa ubi kayu memiliki kandungan karbohidrat yang tinggi seperti halnya nasi, sehingga dalam pola konsumsi, masyarakat tinggal menambah pangan lain misalnya untuk sumber protein nabati dan hewani sehingga gizi seimbang bisa terpenuhi.

Dari Gambut ke Meja Makan, keterkaitan kedua hal ini bisa sama-sama diupayakan agar lebih maksimal. Sekalipun telah terjadi ketidakseimbangan, bukan tidak mungkin dapat diusahakan kembali pulih, salah satunya adalah dengan penghormatan ragam jalan pangan lokal yang menjadi kunci penting kedaulatan pangan.

Sumber:
  • E-book Kenali Perubahan Iklim Menjaga Lahan Gambut Kaltara, Watiek Ideo.
  • Materi Online Gathering "Dari Gambut ke Meja Makan: Menelusuri Kaitan Karhutla, Biodiversitas, dan Pangan - EBS Online Gathering 2 yang digelar oleh EBS (Eco Blogger Squad) x Pantau Gambut x Nusantara Food Biodiversity.
  • Pemprov: Ubi kayu dapat jadi pangan pengganti beras di Sumatera Utara, https://www.antaranews.com/berita/3776337/pemprov-ubi-kayu-dapat-jadi-pangan-pengganti-beras-di-sumatera-utara, diakses pada 22 Oktober 2026
#ecobloggersquad 
#PeatlandIsNotWasteland  

@ecobloggersquad  
@pantaugambut 
@aik_arif

Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url