Blog seorang tenaga kesehatan yang suka menulis tema kesehatan dan teknologi

Cepat Sembuh, Pahlawanku! dimuat di Nusantara Bertutur

Senin, 14 Desember 2020

Cerpen Anak Cepat Sembuh, Pahlawanku! dimuat di Nusantara Bertutur Kompas Klasika edisi Minggu, 15 November 2020

Assalamu'alaikum, Sahabat Khansa.

Alhamdulillah, tulisan saya bisa kembali tayang di media yang satu ini. Tema dongeng yang ditentukan adalah Pahlawan Masa Kini. Untuk ketentuan pengiriman naskah, Sahabat bisa ke mampir ke Cara Kirim Naskah Dongeng Nusantara Bertutur Kompas Klasika

dimuat di Nusantara Bertutur Kompas Klasika

Cepat Sembuh, Pahlawanku!
Oleh: Karunia Sylviany Sambas 

Pagi ini ibu sudah tampak bersiap rapi. Ibu mengajar di sebuah sekolah dasar negeri di Condongcatur, Yogyakarta. Ada yang tampak berbeda dari penampilan ibu kali ini. Ibu mengenakan masker kain dan penutup wajah terbuat dari plastik mika. 

Azi, seorang anak laki-laki yang masih duduk di bangku kelas tiga, memerhatikan gerak-gerik ibunya.

“Kata Bu Guru, kami belajarnya dari rumah saja. Mengapa Ibu tidak mengajar dari rumah juga?” tanya Azi.

Ibu sedang memasukkan sebotol kecil cairan pembersih tangan ke dalam sakunya. Ia menoleh sambil tersenyum. 

“Ibu juga mengajar dari rumah, kok. Tetapi ada yang perlu Ibu selesaikan sekarang,” sahut ibu lembut. “Azi mandi dan sarapan, ya. Sudah Ibu sediakan di dapur.”

Azi mengangguk. 

Sebenarnya Azi kasihan melihat ibu. Sejak pandemi corona terjadi dan kegiatan belajar mengajar dilakukan di rumah, Azi melihat kesibukan ibu semakin bertambah. Pagi-pagi, ibu harus berbelanja dan menyiapkan sarapan. Sepulang kerja, ibu memasak lauk-pauk siang. Ibu masih ada kelas daring di sore hari. Oleh sebab itu, ibu jadi sering terkantuk-kantuk saat menemani Azi belajar.

Kata ibu, selain mengajar daring, ia juga harus melakukan kunjungan rumah. Ibu harus mendatangi rumah murid-murid bergiliran. 

Apalagi sejak ayah bertugas di luar kota. Ibu tidak mahir mengendarai sepeda motor. Itu sebabnya ia harus naik bus atau becak menuju sekolah dan rumah murid. 

Hari ini udara cukup dingin. Hujan baru saja berhenti. Azi menunggui ibu dengan sabar. Jam sudah menunjukkan pukul setengah tiga sore ketika ibu mengucap salam.

“Ibu terjebak hujan,” jelas ibu sambil berjalan menuju kamar mandi.

Malam harinya, badan ibu mendadak meriang dan lidah ibu terasa pahit. Setelah makan malam, ibu istirahat lebih awal dibanding biasanya. 

Azi mengerjakan tugas di ruang tengah. Tugas tentang mengenal aneka tanaman obat itu mengingatkan Azi pada sesuatu. 

Esoknya, setelah mengenakan masker, Azi mendatangi rumah Bulik Nay, adik bungsu ibu. Setelah menceritakan tentang kondisi ibu, Bulik Nay dan Azi tampak sibuk mengerjakan sesuatu. 

Tak lama, semangkuk minuman hangat telah tersaji di atas meja. 

“Hati-hati membawanya, ya, Zi. Titip salam dari Bulik. Semoga Ibu lekas pulih.”

Azi mengucapkan terima kasih lalu membawa minuman itu dengan sukacita.

“Ibu, ini wedang ronde buatan Azi dan Bulik Nay.”

Azi membantu ibu meminum semangkuk wedang ronde. Ibu kelihatan sangat terharu. 

“Ibu adalah pahlawan buat Azi dan murid-murid. Cepat sembuh, ya, Bu.” Azi memeluk ibu penuh kehangatan. (*) 

Dayamaya Dukung Startup Jadi Solusi Kembangkan Potensi Ekonomi

Senin, 07 Desember 2020


Internet Akan Menghubungkan Indonesia dengan Seluruh Dunia


Sahabat Khansa, tak dapat dimungkiri bahwa kita berada dalam kondisi dimana peluang semakin terbuka. Tugas kita tinggal memasang mata lebar-lebar, mengambil peluang dan bersiap menghadapi segala kemungkinan. Ragam peluang yang hadir berasal dari kehadiran internet. Saat internet telah terhubung, tak ada lagi istilah katak dalam tempurung. Kini, dalam tempurung pun katak telah bisa mengarung!


Startup! Bila Sahabat adalah salah seorang penggemar drama korea yang sedang booming saat ini, maka istilah ini akan menjadi lebih mudah dipahami. Sebagaimana saya yang menganggap istilah Start up adalah hal baru. Oleh sebab itu saya mulai menjadi seorang peselancar di dunia maya untuk menemukan arti Start up. Ketertarikan yang mulanya hanya ingin menemukan pengertian Start up malah menjadi sebuah deretan pengetahuan panjang tentang sebuah perusahaan rintisan. 


Perusahaan rintisan adalah sebuah perusahaan yang baru berjalan dan menerapkan inovasi teknologi untuk menjalankan pusat bisnisnya. Kehadiran Star up sangat membantu dalam membantu memecahkan sebuah masalah dalam masyarakat.


Kehadiran pandemi membuat daya tekan untuk berinovasi lebih tinggi. Di saat pemerintah memerintahkan masyarakat untuk melaksanakan sebagian besar aktivitas di rumah saja. Pada awalnya mungkin masyarakat akan dibuat gusar dengan imbauan ini. Namun dengan adanya pikiran terbuka terhadap peluang yang ada serta cepat tanggap mengatasi segala tantangan, maka dunia luar bisa tetap dalam genggaman. 

Forum SehatQ, Solusi Konsultasi Kesehatan Terbaik di Masa Pandemi

Minggu, 06 Desember 2020

Konsultasi ke dokter bikin repot!

Udah makan obat warung aja!

Forum SehatQ, Solusi Konsultasi Kesehatan Terbaik di Masa Pandemi

Uh, begitulah komentar ibu ketika saya menawarkan untuk memeriksakan kesehatan ke dokter. 

Padahal ibu mengeluh sering pusing beberapa hari ini. Terkadang ibu sampai harus tiduran dalam jangka waktu yang lama.

Kekhawatiran ibu sebenarnya dengan sebab juga, kok. Pandemi Covid-19 yang belum usai membuat sebagian besar orang enggan berhubungan dengan aroma rumah sakit. 

Namun, tanpa bersinggungan dengan rumah sakit, bagaimana bisa ibu mendapatkan pelayanan kesehatan?

Penyakit Berbahaya Terdeteksi di Saat Tak Terkendali


Ya, banyak orang yang memeriksakan diri atau lebih tepatnya berobat ketika masalah kesehatan telah menyerang. Saya teringat pada banyak pasien yang dirawat di ruangan tempat saya bekerja yang sakit dengan diagnosa penyakit yang lebih dari dua. 

Usia sudah kepala tiga dan penyakit utama dan penyerta yang sungguh buat miris. Muncullah perandaian, andai saja aku memeriksakan diri sedari awal. Ah, tetapi kalimat itu tiada guna sekarang, bukan? 

Ketika penyakit masih menunjukkan gejala, banyak orang yang menganggapnya sebagai angin lalu saja. 

“Minum obat warung juga sembuh, kok!”

Tak hanya ibu yang berkomentar seperti itu. ketika sanya mengadakan sebuat survei kecil-kecilan di rumah sakit, pernyataan yang sama juga saya dapatkan. 

Mencegah lebih baik daripada mengobati.

Nyatanya kalimat pamungkas itu belum cukup efektif untuk memutus mata rantai keyakinan salah yang dianut oleh banyak orang tersebut. Masih saja banyak pasien yang masuk ke ruangan tempat saya bertugas dengan keluhan penyakit yang bertumpuk. Padahal pengobatan jelas lebih susah. Saat obat satu penyakit diberikan dan malah menimbulkan masalah untuk penyakit yang satu lagi. Duh, seperti makan buah simalakama, ya, kan? 

Forum SehatQ, Forum Kesehatan Terbaik Tanya Jawab dengan Dokter Ahli 


Para pakar di bidang kesehatan terus berinovasi dalam memberikan pelayanan. Apalagi dalam kondisi pandemi yang mengharuskan masyarakat untuk lebih memperhatikan kondisi kesehatan. Hampir seluruh aktivitas yang dulu dilakukan di luar rumah dan kini harus dilakukan dalam rumah saja, termasuk saling berkonsultasi untuk mendapatkan nasihat tentang kesehatan.

Nah, bagi orang yang berpendapat sama dengan ibu saya, ulasan berikut menjadi informasi penting yang dapat dilakukan. Melalui Forum SehatQ, Sahabat dapat mengutarakan masalah kesehatan yang dialami dengan akses mudah. Cukup dengan berdiam diri di rumah, konsultasi kesehatan bisa dilakukan melalui gawai. Sediakan saja kuota data dan signal mumpuni tentunya, ya. 

Sebelum membahas bagaimana cara melakukan konsultasi kesehatan via Forum SehatQ, Sahabat bisa mengenal lebih dahulu tentang fitur konsultasi yang disedikan oleh SehatQ. Dalam fitur bernama Forum SehatQ ini sahabat bisa bertukar pikiran untuk meminta pertimbangan kepada dokter ahli tentang masalah kesehatan yang dialami.

Forum SehatQ

Forum SehatQ menyediakan kolom chat Forum Tanya Dokter. Di kolom ini Sahabat bisa menuliskan pertanyaan yang ingin diajukan. Jumlah kata yang dituliskan maksimal 500 karakter. Oleh, sebab itu gunakanlah kalimat efektif. Setelah selesai, Sahabat bisa mengeklik tombol kirim. Selanjutnya Sahabat bisa menunggu beberapa waktu sampai admin web menyetujui untuk memublikasikan pertanyaan Sahabat. 

Kolom cari pertanyaan dalam forum juga memudahkan sahabat dalam mengelompokkan suatu hal/penyakit yang ingin ditanyakan pada dokter. Dengan mengetikkan kata, misalnya diabetes, maka Sahabat akan diarahkan pada pertanyaan yang mengandung kata diabetes. Sahabat dapat menelusuri secara keseluruhan. Jika masih belum menemukan solusi, silakan ajukan pertanyaan di kolom bagian atas dari kolom ini. 

Di sisi kiri laman forum SehatQ juga tersedia kolom kategori yang memudahkan Sahabat dalam menemukan penjelasan penyakit sesuai dengan kategori. 

Di samping kanan kolom cari pertanyaan dalam forum terdapat fitur kolom yang dapat mengelompokkan pertanyaan berdasarkan kategori terbaru, paling banyak dilihat dan komentar terbanyak. Sahabat juga dapat menelusuri laman ini untuk mendapatkan info kesehatan yang lebih banyak lagi. 

Dengan Forum SehatQ proses konsultasi masalah kesehatan bisa lebih mudah dan murah. So, anggapan ribetnya konsultasi ke dokter bisa kita patahkan sekarang!

Pandemi bukan alasan untuk tidak mengindahkan masalah kesehatan. Cegah sebelum terlambat. Gunakan Forum SehatQ dan nikmatilah hari-hari sehat untuk mendapatkan performa kehidupan terbaik. (*)

Tentang ODOP dan Pengalaman Swab Test

Sabtu, 21 November 2020
Assalamu'alaikum, Sahabat Khansa.

Alhamdulillah, akhirnya sampai pada postingan ini. Postingan yang menjadi akhir dari sebuah rangkaian ODOP Batch 8 dan tentu saja menjadi awal untuk menulis lebih baik dan lebih banyak.

Sahabat Khansa. Untuk sampai pada postingan kali ini bukan langkah mudah bagi saya. Tertatih, terseok bahkan memutuskan untuk mengakhiri pernah saya lakoni. Alhamdulillah, PJ Squad Blog dimana para penulis yang memutuskan berkarya di blog denga satu postingan satu hari amat sangat membantu saya.

Mereka memberikan solusi, mentransfer energi semangat dan sebuah iming-iming menggiurkan. Seperti saya yang hobi 'menaklukkan media dengan karya' mudah-mudahan tawaran yang singgah tersebut menjadi nyata.

Sahabat Khansa, pada postingan ini saya juga ingin memberikan sedikit pengalaman saya ketika menjalani swab tes pertama. Semoga yang terakhir dan pandemi ini segera berakhir. Aamiin.

Hari itu, Selasa di November. Saya mendapatkan kabar jika salah seorang rekan kerja hasil tes swab positif. Sebagai orang yang sama-sama bekerja di ruangan kecil itu, saya dan seluruh rekan lainnya yang berjumlah sekitar 10 orang itu harus pula memeriksakan diri melalui tes swab.

Tes dilakukan di sebuah ruangan besar. Lalu ada dua petugas di sana. Petugas pertama membuka pintu masuk dan bertindak sebagai asisten.

Petugas kedua mengambil sampel dari mulut. Saya diminta membuka masker lalu menyebutkan huruf A. Petugas memasukkan tong spatel menekan sedikit lidah lalu memasukkan alat kecil ke dalam kerongkongan. Saya agar terbatuk, mirip respons ingin muntah ketika benda itu menyentuh kerongkongan.

Selanjutnya, sebuat alat mirip cotton bud memasuki rongga hidung. Ketika petugas tanya sisi hidung mana, saya pilih kanan. Tanpa alasan spesial semisal hidung kiri sedang mampet. Saya hanya mengutamakan kanan sebagai hal yang baik.

Hasil test akan diumumkan sekitar tiga hari kemudian. Kami menanti dengan cemas. Saya bahkan mengundurkan diri dari sebuah peluang penulisan naskah. Saya khawatir tidak fokus sementara DL naskah tersebut cukup singkat.

Alhamdulillah, Sabtu ini hasil tes keluar. Saya dinyatakan negatif. Seketika saya merasa bisa bernapas lebih lega.

Sahabat, selalu patuhi protokol kesehatan agar kita terlindungi dan melindungi orang lain. Mencegah lebih bail dari mengobati, bukan? (*)

Ternyata Tak Sesulit yang Diduga

Jumat, 20 November 2020
Assalamu'alaikum, sahabat Khansa

Kelas Menulis Online, Menembus Meja Redaksi Media Massa

Kamis, 19 November 2020
Assalamu'alaikum, Sahabat Khansa.

Alhamdulillah, hari ini sebuah amanah kembali menyapa, mengisi sebuah kelas daring tentang tip dan trik tembus media massa. Ya, saya akui ini adalah sebuah pencapaian yang saya inginkan. Apalagi kelas daring ini saya gagas bersama teman duet dalam buku Lord Didi.

Kelas yang Insya Allah akan dimulai pada Desember 2020 itu semoga jadi pembuka jalan untuk berkarir di dunia mentor. Selama ini menjadi peserta kelas, maju sedikit menjadi PJ. Lalu akankah menjadi mentor? Aamiin. Apalagi mimpi menjadi seorang dosen masih melekat kuat sampai hari ini.

Bagi Sahabat Khansa yang ingin mengikuti kelas online tersebut, bisa langsung kontak narahubung di bawah, ya:

Kelas Menulis Online : Menoreh Karya Menembus Meja Redaksi Media Massa

Kita bertemu di kelas daring di Desember depan, ya. (*)

Kesempatan untuk Berbagi

Rabu, 18 November 2020
Assalamu'alaikum, Sahabat Khansa.

Alhamdulillah, ada kesempatan berbagi lagi-dan lagi. Saya agak terkejut ketika hari ini mendapatkan info di grup yang saya menjadi salah seorang PJ di dalamnya. Sebuah kelas yang saya inginkan untuk diampu tetiba saja jatuh kepada orang lain.

Saya kecewa. Lalu karena tak ingin bertanya-tanya terlalu lama tanpa jawaban, saya menghubungi owner grup. Masyaallah. Jawaban yang diberikan beliau sungguh di luar dugaan.

Saatnya Kakak naik kelas. Masak mau jadi PJ melulu. Jadi mentor, ya. Bagikan ilmunya.

Saya terkesima dengan hal ini. Benarkah ini saatnya menjadi mentor. Jujur saya sangat ingin sedari dulu. Tapi, sebuah kepercayaan diri yang hilang dan timbul itu tak punya pondasi kuat sehingga lebih sering tenggelam dibandingkan timbulnya.

Alhamdulillah. Kesempatan itu datang. Terima kasih, PCW. Perkasa Creative Writing. Saya bangga bisa menjadi salah satu diantaranya. (*)

Pekan Tantangan, Jangan Tunda Selagi ada Kesempatan

Selasa, 17 November 2020
Sungguh pekan tantangan ini saya rangkum agar dapat menjadi pengingat bahwa sejatinya mimpi itu harus dipaksa agar mewujud nyata. Jangan menunda menjadi hal yang harus benar dilakukan.

Seperti hari ini. Minggu sepulang rihlah dengan manajeman waktu yang salah. Sampai rumah pukul 4 pagi. Lanjut dinas sore karena panggilan dadakan dari Rumah Sakit. Esoknya lanjut dinas pagi. Mana seluruh tubuh masih dilanda nyeri-nyeri. Besok libur sehari. Ada DL yang menanti, tentang sebuah naskah impian.

Mohon bantuan ya Rabb.

Dua Peluang yang Hilang

Senin, 16 November 2020

Rencana, Antara Berkah dan Musibah

Minggu, 15 November 2020
Assalamu'alaikum, Sahabat Khansa

Sebuah rencana yang kadang tak sesuai bisa jadi musibah, ya, kan.

Bagaimana sebuah perencanaan disusun agar sesuai harapan.

Detik demi detik menantikan waktu sebuah rencana perjalanan. Memanfaatkan dengan penuh pertimbangan agar hasil yang dicapai dalam sebuah rencana bukan sebuah utopis.

Karena sebuah rencana tanpa arah yang jelas, tanpa kendali waktu tajam, malah bisa mendatangkan banyak masalah.

Ya, seperti mendapat kemarahan dari orang rumah karena terlambat pulang.

Ya, letih badan karena selepas perjalanan akan berangkat kerja lagi.

Semua tak akan terjadi. Perjalanan akan menjadi berkah bagi semua ya tentu saja dengan sebuah perencanaan yang matang. Semoga. (*)

Rihlah dengan Sahabat Salehah

Sabtu, 14 November 2020
Assalamu'alaikum, Sahabat Khansa

Alhamdulillah, hari yang dinanti untuk bersama melakukan perjalanan bersama para sahabat salehah tiba. Banyak suka duka yang telah terlewati, pun akan segera menghadang. Ada sahabat yang datang dan pergi. Namun, cinta dalam ikatan ukhuwah islamiah itu mengekalkan.

Terima kasih untuk segala cinta yang ada. Semoga perjalanan kali ini bukan hanya sekadar hiburan semata. Namun, tentunya bukti cinta bahwa kita punya Allah SWT yang maha segala.

Sahabat Khansa, dua tahun saya menjalani sebuah kisah dalam lingkaran ukhuwah bernama Nusaibah. Sahabat kenalkah dengan Nusaibah? Beliau adalah salah seorang wanita yang mula-mula memeluk islam. Nusaibah adalah sahabat wanita yang agung lagi pemberani.

Semoga perjalanan yang singkat ini akan tumbuh subur seperti kisah cinta para sahabat terdahulu. Tak hanya di dunia tapi mengalir sampai surga. Aamiin. (*)

Begini Cara Mengambil Peluang dari Satu Kesempatan

Jumat, 13 November 2020
Kesempatan yang terbuka dari satu pintu terkadang membuat kita takjub. Tetapi itulah kuasa Allah SWT. Contohnya, hari ini mendapatkan kabar jika akan dibuka kelas penulisan di sebuah komunitas penulis yang saya menjadi PJ di dalamnya.

Pengalaman saya menjadi PJ di kelas sebelumnya, alhamdulillah jumlah peserta kelas ada 35 orang. Lalu di kelas berikutnya yang sedang dalam masa perekrutan pun alhamdulillah yang minat kelas juga lumayan. Nah, belajar dari kedua kelas itu saya jadi bisa membaca peta lingkaran pertemanan saya. Mau dibawa kemana?

Menjadi PJ sesungguhnya bukan hal baru. Dulu, sebelum masa hibernasi yang saya sesali itu dimana laksana Memulai Kembali Seperti Bayi saya sempat tergabung menjadi PJ di beberapa grup kepenulisan. Menjadi penggawa di sebuah grup online itu ternyata seru. Kita bisa membangun relasi dan sebuah iklim menulis yang hangat.

Bagaimana saya bisa mendapatkan kesempatan untuk mengikuti menjadi PJ di kelas selanjutnya? Ya, tentunya tak lepas dari kesempatan yang tak saya lewatkan tempo hari. Saya melihat sebuah postingan penerimaan PJ, lalu saya mendaftar. Kini, saya telah menjadi PJ resmi dan telah mengampu dua kelas dan satu antologi. Saatnya, menerima amanah selanjutnya. Jangan pernah menyerah untuk memelajari hal baru membuat saya mampu bertahan.

Lalu, kelas seperti apa yang saya akan ampun di satu sampai dua bulan ke depan? Eits, masih rahasia dapur. Adonan lezatnya masih di godok sang owner. Kita nantikan, ya.

Intinya, bagi yang hobi buat video, nulis cerita humor, hobi gambar dan siap menerjang media cetak, bolehlah nabung dulu. Siapkan simpanan beberapa rupiah dalam kocek untuk ikutan belajar di kelas seru ini. Ditunggu, ya. (*)

Hari Perpisahan Dua Grup Daring Penulisan

Kamis, 12 November 2020
Haru itu nyata hari ini. Saya dan teman-teman harus meninggalkan satu grup WhatApp. Grup kecil yang beranggotakan tak lebih dari 30 peserta kelas dan satu lagi tak lebih dari 60 peserta kelas. Sedih? Sangat. Tersebab kebersamaan bersama para teman yang punya frekuensi yang sama itu terasa sangat singkat. Tetiba sudah masuk dua bulan saja.

Ilmu yang saya dapatkan di dua grup itu itu bersinergi membuat Rekam Jejak Sang Pemimpi bangkit dari hibernasi dan kini punya adik Ketika Jejakku Menginspirasimu Saya mengucapkan terima kasih kepada Sahabat Hosting yang telah membantu lahirnya kedua rumah maya ini.

Memiliki komunitas itu memberikan dampak yang luar biasa bagi kami. Bagaimana bisa menjalani rutinitas harian tapi dengan tak membiarkan rumah maya terbengkalai. Tak membiarkan media sosial hanya sekadar scroll. Ohya, saya pun baru menyadari bahwa blog dan media sosial bisa menjadi lahan menghasilkan cuan yang lumayan.

Sebuah Surel tentang Pengumuman 100 Blogger Dayamaya Bakti Terpilih memasuki kotak masuk saya hari ini. Masya Allah, bisa terpilih diantara 100 orang blogger yang saya tahu sepak terjang mereka tak lagi diragukan.

Rumah maya ini akan terus saya benahi pasca duo kelas tersebut. Insya Allah. Saya tak ingin membuat sia-siap kerja selama ini. Grup pertama melatih saya untuk konsistensi dalam menulis di blog dan grup kedua membuat saya bisa memahami bagian yang perlu dibenahi dalam rumah maya ini. Saya bersyukur bisa menimba ilmu dari dua kelas daring tersebut.

Tampaknya keputusan Sebuah Pengingat, dari Blogspot ke Domain TLD tidak salah. Doakan saya istikamah, Sahabat Khansa. (*)

Peluang yang Pergi, Raih dengan Semangat

Rabu, 11 November 2020
Assalamu'alaikum, Sahabat Khansa.

Bila sebelumnya postingan saya tentang Peluang, Ambil atau Biarkan Hilang?Peluang, Ambil atau Biarkan Hilang? membuat semangat membara menyelesaikan naskah, maka postingan kali ini tentang sebuah peluang yang hilang sementara dikarenakan sesuatu hal. Hihi. Hal yang menjadikan seorang penulis dikatakan memiliki kompetensi. Yang tahu cung, ya.

Nah, tapi saya turut bahagia karena info ini sekaligus memberikan peluang untuk salah seorang rekan penulis. Rencananya, kami ingin kolaborasi membuat sebuah naskah. Saya menulis dan si Mbak mengilustrasi. Apa daya, ternyata keputusan sang redaktur pagi ini membuat saya harus sejenak rileks dan tentunya bersemangat kembali untuk menemukan jodoh bagi naskah ini.

Semangat Bangkit Kembali


Naskah tersebut dinyatakan kembali ke folder naskah tersayang. Kecewa pasti, ya. Manusiawi. Namun saya tak lantas berkecil hati. Saya telusuri kembali kemungkinan naskah ini layak terbit. Akhirnya, berbekal informasi yang saya temukan di sebuah fanpage penerbit, saya mengirimkan pesan ke kontak salah seorang editor dan menanyakan kemungkinan penerimaan naskah.

Alhamdulillah, pesan tersebut berbalas. Kini, naskah yang ditolak telah kembali mengarungi lautan jalan menuju nasibnya. Semoga kali ini pulang berkabar baik. Saya nantikan di dermaga. (*)

Peluang, Ambil atau Biarkan Hilang?

Selasa, 10 November 2020
Assalamu'alaikum, Sahabat Khansa

Disaat saya sedang mengerjakan sebuah proyek menulis, tetiba sebuah pesan pribadi memasuki kotak pesan WhatsApp. Memberikan kesempatan untuk menulis sebuah buku pengayaan dengan tema yang menarik perhatian saya. Tema tersebut berhubungan dengan daerah asal kakek saya; Kalimantan Barat.

Sebenarnya ada keinginan sedetik untuk intirahat dahulu. Berhubung saat ini ada sebuah amanah pula yang mampir di kotak surel. Saya harus menyelesaikan outline naskah dalam waktu dua pekan saja. Jumlah halaman buku yang dibutuhkan memang tak terlalu banyak sebenarnya. Namun jika hanya fokus pada satu tujuan, saya rasa tak terlalu berat kiranya.

Melepas peluang ini begitu saja? Bisa saja, sih. Tapi saya kembali berpikir. Bagaimana jika kelak Mba tersebut tak lagi membuat nama saya berada di antrian penulis menjadi tujuan penulisan? Ah, tentu merugi, ya.

Bismillah. Saya coba untuk mengambil peluang dengan segala kemampuan yang saya bisa lakukan. Toh, jika naskah saya menarik dan ada sedikit kesalahan masih ada proses revisi, bukan.

Intinya, jangan berhenti untuk terus menebar asa pada peluang yang datang. Karena saya yakin, hati Mba tersebut memilih saya karena digerakkan oleh Allah SWT.

So, jangan pernah lewatkan kesempatan yang datang. Karena kita tak pernah tahu rezeki yang mana yang dapat mengubah segala pinta menjadi nyata. (*)

Memulai Kembali Seperti Bayi

Minggu, 08 November 2020
Assalamu'alaikum, Sahabat Khansa.

Masih ingat dengan sampul akun sosial media facebook saya? Hihi, bagi yang lama berteman di facebook pun terkadang belum tentu ingat, ya. Karena kita kan fokus ke status. Kalau nggak buka profil facebook teman, tentu fokus pada hal itu pun jadi ambyar. Walaupun kita berteman sudah sangat lama.

Memulai Kembali Seperti Bayi

Nah, sampul facebook saya memajang tentang sebuah karya saya yang berhasil masuk di buku tematik tema 5 ekosistem. Ketika saya memajang status WA tentang tampilan ini, beberapa orang teman langsung mengirim pesan pribadi. "Bagaimana bisa?" begitulah kira-kira isi pesannya.

Tentu banyak yang kepo, ya, kan? Saya pun demikian. Hah? Iya. Karena ini adalah naskah menang lomba. Berhasil masuk 10 nominator Lomba Menulis Dongeng Anak bersama Nusantara Bertutur & Konferensi Sanitasi dan Air Minum Nasional (KSAN) 2015. Setelah honor yang dijanjikan pihak penyelenggara lomba, naskah ini tiba-tiba saja ditemukan di buku tematik. Kejutan yang membuat kebanggaan tersendiri.

Ketika Pengumuman Pemenang Lomba Menulis Dongeng Anak bersama Nusantara Bertutur & Konferensi Sanitasi dan Air Minum Nasional (KSAN) 2015 ditayangkan saya sangat senang luar biasa. Belajar otodidak dan alhamdulillah bisa menjadi salah satu juara. Nama saya bersanding dengan para penulis yang punya nama besar di bidang kepenulisan.

Hibernasi Membuat Sepi


Karena suatu hal, saya berhenti mengirim karya di tahun 2017 - 2018. Di masa itu saya seolah lupa pernah berkarya gemilau di 2013 - 2015. Saya lupa bahwa banyak teman berpacu melesat menghasilkan karya di media dan buku solo.

Hingga akhirnya di akhir 2019 saya tersadar kembali. Ada mimpi yang harus saya raih secepatnya. Di sini saya menceritakan hal tersebut Rekam Kaleidoskop Khansa untuk 2019. Momentum saya kembali dihujani berita bahagia. Saya lalu mengubah haluan untuk kembali ke jalan yang membuat saya bahagia sejak dahulu.

Memulai Kembali Seperti Bayi


Mengasah senjata itu perlu. Karena jikalau tumpul, perlu waktu untuk menajamkan kembali. Itulah yang terjadi kini. Saya merasa seperti bayi yang baru lahir. Tertatih mengeja aksara. Seolah buta akan banyak hal kepenulisan. Saya menyesal!

Kini saya tetap berjuang. Karena satu per satu peluang mulai ada. Tak akan saya sia-siakan lagi. Melalui ODOP, kelas daring yang banyak diikuti, info-info kepenulisan yang menjejali. Namun saya butuh Sinergi Prioritas dan Semangat agar fokus tak lagi berpaling. Karena asa akan selalu ada bagi yang tak henti menabur mimpi. (*)

Bee Ikut Bangun Taman Baca di Kedaulatan Rakyat

Sabtu, 07 November 2020
Cerpen Anak dimuat di Harian Kedaulatan Rakyat edisi Jumat, 23 Oktober 2020

Assalamu'alaikum, Sahabat Khansa.

Alhamdulillah, naskah saya kembali menghiasi rubrik CERNAK SKH Kedaulatan Rakyat. Menulis cerita anak itu memang seru, lo. Membuat kita selalu ceria karena bisa berbagi kebaikan dengan para sobat cilik.

Bagaimana cara mengirim naskah cerita anak ke SKH Kedaulatan Rakyat.? Sahabat bisa cek postingan Cara Mengirim Cerpen Anak ke Harian Kedaulatan Rakyat, ya. Insya Allah, sudah di-update. 

Berikut naskah saya yang tayang tersebut:


Cerpen Anak dimuat di Harian Kedaulatan Rakyat edisi Jumat, 23 Oktober 2020

Bee Ikut Bangun Taman Baca
Oleh: Karunia Sylviany Sambas

Kupi Kupu-Kupu, Ruru Rusa, Kiki Kelinci dan Titi Merpati ingin membangun sebuah taman baca di hutan tempat tinggal mereka.

“Kenapa harus taman baca?” tanya Kiki.

“Karena masih banyak adik-adik bahkan teman-teman kita yang belum bisa membaca. Padahal buku itu jendela dunia,” jelas Ruru.

Sebenarnya rencana untuk membuat taman baca ini sudah ada sejak lama namun baru terlaksana karena keempat sahabat itu sibuk dengan tugas sekolahnya. Sekarang mereka sudah lulus. Ilmu yang sudah diperoleh selama ini harus dapat dimanfaatkan. Begitu niat Kupi, Ruru, Kiki dan Titi.

Mereka berbagi tugas. Kupi dan Titi akan mencari tempat taman baca dibangun. Ruru mengerahkan anak-anak hewan untuk membantu melengkapi taman baca dengan meja, kursi dan rak-rak buku. Sementara Kiki akan menyebarkan selebaran tentang taman baca.

Akhirnya, Kupi dan Titi menemukan lokasi. Sebuah rumah pohon di dekat sungai. Di sekelilingnya ada pohon-pohon teduh dan taman bunga.

Waktu pembukaan taman baca tinggal dua hari lagi. Wah, semua hewan tampak saling bantu.

“Uhuk ... uhuk!” terdengar suara batuk Kiki. Semua menoleh ke arah sumber suara.

“Sepertinya tubuhmu kurang sehat, Ki,” komentar Kupi.

“Wajahmu juga terlihat lesu,” tambah Ruru.

“Sudah, Ki. Tidak apa-apa. Kamu istirahat saja.” Titi mencoba menghibur Kiki.

Kelinci itu bersedih. Dari kejauhan ia memandang teman-temannya yang sedang bekerja. Tiba-tiba seekor anak lebah kecil bertubuh bulat terbang mendekati Kiki.

“Hai,” sapanya ramah. “Kenalkan, aku Bee.”

“Hai, Bee. Kamu sedang apa?” tanya Kiki dengan suara lemah.

“Aku baru saja membantu ibu dan ayah mengumpulkan nektar dari bunga-bunga itu!” tunjuk Bee Lebah ke arah taman bunga di samping taman baca.

“Aku juga ingin membantu teman-teman. Sayangnya, aku sedang kurang enak badan. Uhuk.” Kiki terbatuk lagi.

“Sepertinya kamu terlalu lelah, jadi kondisi tubuhmu menurun,” ujarnya.

“Aku pergi sebentar, ya. Aku mau mengantarkan nektar ini dulu.”

Tak lama kemudian ia kembali dengan sebuah bungkusan kecil.

“Kamu minum ini, ya.” Bee menyodorkan madu.

Kiki hanya mengangguk lemah. “Semoga kamu cepat sembuh.”

Bee melihat ada beberapa selebaran di samping Kiki. “Selebaran itu belum sempat aku sebar,” ujar Kiki.

“Aku bantu sebarkan, ya.” Bee tersenyum.

Sebelum Kiki menjawab, Bee sudah terbang sambil membawa selebaran. Kiki sungguh terharu dengan kebaikan Bee. Padahal mereka baru saja bertemu.

Sehari sebelum pembukaan taman baca, buku-buku sudah tersusun rapi. Buku didapat dari sumbangan warga hutan. Oh ya, ternyata Bee terbang jauh sekali. Ia menyebarkan selebaran sampai ke hutan seberang. Wah, jumlah buku di taman baca jadi semakin banyak.

Di hari pembukaan taman baca, semua menyambut bangga dan gembira. Bee dan keluarganya juga diundang. Kerja keras dan gotong royong mereka menghasilkan kegembiraan untuk semua. (*)

Dari Balik Pintu ICU, Kisah di Musim Covid-19

Jumat, 06 November 2020
WHO baru saja merilis keterangan barunya terkait dengan fakta bahwa Covid-19 bisa menular melalui udara (air bone).

Penyataan yang dipublikasikan pada 9 Juli 2020 ini sontak membuat kami dihinggapi rasa was-was yang lebih dari biasa. Saat ini kami bertugas di ruang ICU (Intensive Care Unit) sebuah RSUD (Rumah Sakit Umum Daerah). Ruangan tersebut hanya cukup memuat tiga tempat tidur pasien. Tentu bisa dibayangkan berapa luasnya ruangan tersebut. Ditambah, jarak antara meja perawat (station nurse) dan tempat tidur pasien tak lebih dari satu meter saja.

Hari-hari kami dipenuhi rasa was-was tersebut. Setiap ada pasien yang akan masuk dari IGD (Instalasi Gawat Darurat) ataupun pindah ruangan dari ruang VIP (Very Important Person) atau Internis (Penyakit dalam), kami pasti langsung menanyakan status pemeriksaan rapid test Covid-19.

Rasa kemanusiaan tentu selalu berharap setiap pasien yang keluar dari pintu ruang ICU itu dalam keadaan membaik. Namun sebagai manusia, rasa was-was yang kerap menghampiri menyebabkan ruangan itu tak seperti sebelumnya. Tak ada lagi cerita berlama-lama tentang latar belakang keluarga pasien. Kami hanya bertanya seperlunya, terkait riwayat penyakit.

Sebagai salah satu RSUD yang berada di sebuah kotamadya, kami mendapatkan bantuan APD (Alat Pelindung Diri) termasuk lebih lama dibandingkan fasilitas pelayanan kesehatan di pusat. Di masa awal, kepala ruangan kami membelikan 14 set jas hujan sebagai APD. Jas hujan itu tak lebih tebal dari plastik pembungkus makanan dari warung. Di rumah sakit hanya tersedia masker, sarung tangan dan penutup kepala (surgion cap).

Barulah kemudian bantuan berdatangan. Baju hazmat, face shield, kacamata google, dan sepatu boat. Masing-masing petugas ruangan mendapat jatah satu. Akhirnya, APD yang terbuat dari plastik tadi berubah fungsi. Kami menggunakannya sebagai APD dari hujan. Ketika melihat jas yang berwarna biru itu, orang-orang sekitar rumah sakit akan langsung mengenali kalau itu adalah petugas ruang ICU.

Kehadiran bantuan tak lantas membuat rasa was-was itu sirna. Pemakaian APD malah membuat langkah agak sedikit berat, ya mungkin karena masih berada dalam tahap adaptasi.

Saat memasang infus, misalnya, face shield yang terbuat dari plastik mika itu akan berembun sehingga malah menghalangi pandangan. Pembuluh darah yang menjadi sasaran, menjadi samar bahkan tidak terlihat. Akhirnya, seringkali face shield tergeletak begitu saja.

Suatu ketika, seorang pasien masuk. Pasien tersebut terakhir dilakukan rapid tes Covid-19 tiga hari yang lalu dengan hasil negatif. Ketika ingin dilakukan pemeriksaan radiologi, ternyata alatnya sedang rusak.

Oleh karena pasien tersebut menunjukkan gejala Covid-19, kami melakukan rapid tes Covid-19 ulang setelah berkoordinasi dengan dokter spesialis. Hasilnya, positif! Pasien tersebut langsung dipindahkan ke ruang isolasi.

Untungnya perawat yang bertugas pada saat itu memakai APD lengkap. Meski begitu, isolasi mandiri empat belas hari tetap diberlakukan.

Inilah sebagian kecil suka duka pelayan kesehatan di masa pandemi. Tak ada istilah WFH (Work From Home). Bekerja sif tetap berlaku.

Bekerja dengan hati tulus, jaga kualitas imun dan tingkatkan iman kiranya adalah tiga hal yang selalu kami ucapkan di sela-sela bertugas untuk saling menyemangati. (*)

Cara Memasak Nasi dengan Kompor Gas Ala Mantan Anak Kos

Kamis, 05 November 2020
Sebagai salah seorang mantan anak kos, cara memasak nasi dengan kompor gas merupakan hal yang cukup sulit. Ya, bagaimana lagi. Di rumah kos berpetak tiga kali tiga itu saya terbiasa melakukan segala sesuatunya, termasuk kegiatan memasak nasi, tanpa harus berlelah, alih-alih menggunakan kompor gas, saya tetap setia dengan rice cooker.

Cara Memasak Nasi dengan Kompor Gas yang Patut Diketahui Mantan Anak Kos

Namun, ketika saya kembali ke rumah, mau tidak mau saya harus belajar bagaimana cara memasak nasi pakai kompor gas. Soalnya, daerah rumah saya termasuk kawasan yang jaringan listrik suka ngambek. Sebentar-sebentar, byar pet. Kalau saya tetap egois dengan mengandalkan kekuatan rice cooker, bisa-bisa saya terserang busung lapar.

Baiklah, sebelum memakai cara menanak nasi manual ini, terlebih dahulu saya harus memahami apa saja langkah demi langkah untuk memperlancar misi memasak nasi ini.

1. Menyiapkan Bahan

Karena kali ini saya ingin memasak nasi, tentu saja saya harus menyiapkan beras. Jumlah takaran beras disesuaikan dengan porsi makan kami sekeluarga. Biasanya kami menanak nasi dua kali sehari, pagi dan sore. Dalam setiap menanak nasi, takaran yang digunakan 2 cup.

Air bersih
Rantang yang tidak berlubang

2. Menyiapkan Alat

Siapkan dandang yang bagian bawah saringannya sudah diisi air sampai di batas yang dianjurkan.

Kompor gas
Jangan lupa pastikan persediaan gas yang mencukupi.

Langkah-Langkah Memasak Nasi dengan Kompor Gas


Cuci beras secukupnya. Kalau saya biasa mencuci dua kali saja. Cukup sampai air cucian beras tampak tidak terlalu jernih. Setelah itu, beras dimasukkan ke dalam rantang yang tidak berlubang. Masukkan air ke dalam rantang. Takaran air memasak nasi disesuaikan dengan takaran beras. Sekitar satu ruas jari lebih sedikit. Karena kebiasaan makan di keluarga kami tidak suka jika nasinya terlalu kering.

Dandang yang telah terisi air tadi diletakkan di atas kompor yang sudah dinyalakan dengan api sedang. Setelah air di dalam dandang mendidih, naikkan beras dalam rantang di atas saringan dandang. Kemudian tutup rapat.
Kira-kira tiga puluh menit kemudian, tutup sudah bisa dibuka. Namun begitu, disela-sela penantian, nasi boleh diintip sebentar untuk diaduk merata agar tidak menjadi kerak, ya.

Setelah masa penantian usai, silakan menunggu sebentar sampai sisa air nasi terserap. Selanjutnya, nasi biasa diaduk dan siap untuk disajikan.

Nasi hangat siap disantap bersama keluarga tercinta. Btw, secara ilmu kesehatan ternyata nasi yang dimasak dengan kompor gas, bisa mencegah peningkatan gula darah, lo.

Memasak nasi langsung menggunakan dandang memang sedikit agak ribet bagi sebagian orang yang terbiasa praktis seperti mantan anak kos. Apalagi, memasak nasi dengan cara manual ini bisa membuat nasi cepat matang. Oleh sebab itu, pekerjaan sedikit melelahkan ini harus juga diketahui sedikit banyaknya, bukan?

Cara menanak nasi yang terkesan nggak banget ini sebenarnya bermanfaat sekali, lo. Terlebih jika ada suatu hajatan yang mengundang banyak orang. Dengan kepiawaian dalam memasak nasi menggunakan kompor gas ini, kelak kita sudah bisa memasak nasi menggunakan kayu. Tentunya dalam porsi yang lebih besar lagi.

Dalam suatu hajatan seringkali dijumpai nasi yang tidak sempurna masaknya. Ketika sedang asyik menikmati hidangan, tiba-tiba saya dijumpai butiran keras nasi. Tentu ini membuat ilfil dan bisa jadi membuat mood dalam mengikuti acara pesta ambyar seketika.

Terlihat sepele bukan? Namun dampaknya bisa sangat luar biasa. Oleh sebab itu, siap sedia memasak nasi dengan kompor gas harus diketahui, terlebih mantan anak kos. Siap mencoba? (*)

Sinergi Prioritas dan Semangat

Rabu, 04 November 2020
Assalamu'alaikum, Sahabat Khansa.

Alhamdulillah, dua berita bahagia kembali menyapa di hari ini. Pertama, outline naskah buku pengayaan yang saya kirimkan pada Juli 2020 lalu mendapatkan kabar baik, yakni bisa dilanjutkan ke tahap penyelesaian. Namun waktu yang diberikan untuk menyelesaikan naskah lengkap tak kurang dari 64 halaman itu membuat saya agak sedikit bimbang. Tapi ingin mengajukan perpanjangan waktu sepertinya bukan hal yang baik, bukan? Terlalu dini, menurut pandangan saya.

Kedua, artikel yang saya kirimkan ke sebuah media online alhamdulillah dimuat. Naskah tersebut saya kirim pada hari Senin dan dimuat pada hari Rabu. Sempat tak menyangka dalam waktu sependek itu langsung mendapatkan jawaban. Namun saya kembali paham. Allah SWT Maha Kuasa. Tiada yang tidka mungkin jika Dia sudah berkehendak.

Lanjut ke berita pertama, tentu hal ini membuat saya harus memformat ulang pemikiran saya. Tidak boleh main-main lagi dengan peluang ini. Saya diberikan waktu, maka maksimalkan. Saya sedang mengikuti beberapa kelas kepenulisan saat ini. Jujur, itu menguras waktu dan pikiran, jadi ketika ingin menggarap buku saya sudah kehilangan energi.

Baiklah, saya putuskan untuk mengutamakan prioritas. Saya harus merelakan beberapa lomba yang sudah saya list untuk diikuti. Bukannya saya berputus asa. Namun saya memahami bahwa waktu yang saya punyai tak lebih banyak dari rangkaian rencana tersebut. Saya juga masih harus melakukan aktivitas sehari-hari dan tentu saja pekerjaan saya.

Sedih memang ketika saya harus menghapus satu demi satu keinginan itu. Tapi, saya akan tetap berusaha memanfaatkan waktu. Jikalau masih keburu untuk diikuti tentu alangkah lebih baik. Intinya, tetap berusaha dan utamakan prioritas.

Selanjutnya, saya juga harus mengurangi jatah istirahat dan jam tidur. Tiada lain tiada bukan demi cita-cita yang saya harapkan jadi kenyataan. Toh, saya harus membuat penampakan wajah ibu dan adik-adik saya setiap memulai usaha ini. Karena mereka adalah sumber semangat terbesar saya saat ini. Ada prioritas dan ada penyemangat. Jika keduanya bersinergi, saya yakin akan menghasilkan energi yang besar. (*)

Yuk, Konfirmasi Dahulu

Selasa, 03 November 2020
Assalamu'alaikum, Sahabat Khansa.

Saya cukup bingung hari ini. Ketika menemukan bahwa paket buku yang saya pesan tidak juga sampai di tujuan. Malah ada satu paket yang saya sangat harapkan secepatnya tiba karena itu merupakan paket buku bukti terbit saya di sebuah penerbit mayor. Walaupun merupakan buku duet, tapi sebagai karya perdana yang bisa mejeng di rak toko buku itu amat sangat membesarkan hati saya.

Saya pun menghubungi si pengirim paket. Beliau mengatakan sudah mengirimkan paket pada tanggal sekian. Setelah saya hitung harinya, itu sudah berjalan lebih kurang 7 hari. Cukup heran juga karena meskipun saya beralamat di pulau Sumatera dan rata-rata paket itu berasal dari pulau Jawa, biasanya hanya membutuhkan waktu tak lebih dari 5 hari untuk sampai di alamat saya.

Hampir menjadi kebiasaan saya sepertinya untuk 'terlalu percaya' pada pengirim, ekspedisi, dan kurir. Karena hanya bisa dihitung satu atau dua kali saya mendapatkan pengalaman buruk, yang alhamdulillah masih bisa ditolerir, jadi saya tak terlalu mempermasalahkan. Paket-paket selalu sampai dengan selamat dalam waktu yang terkadang membuat saya terkesima karena terlalu cepat dibandingkan prediksi.

Saya pun segera mengecek resi yang telah dikirim via pesan wa tersebut. Status paket terkirim dan diterima atas nama saya. Lo, saya kan merasa tidak menerima paket tersebut. Karena kurir paket sudah sering mengantarkan paket ke alamat yang saya tujukan, langsung saja saya konfirmasi via wa. Ternyata, paket saya diantarkan oleh temannya, namun berhubung tidak ada penerima di kantor ketika dia datang, maka paket itu kembali ke kantor. Alhamdulillah, ia berkenan mengantarkan paket tersebut keesokan harinya.

Saya kembali berpikir kepada sikap 'terlalu percaya' itu. Mungkin itu baik tapi alangkah baiknya tetap berjaga. Karena tak jarang terjadi human error. Misalnya pengirim lupa atau kurir menitipkan paket pada tetangga dan dia lupa mengabarkan pada kita. Sementara kita terus menanti dalam ketidakpastian. Bukankah hal seperti itu menyakitkan. Ahay!

Demikian, Sahabat. Jadi konfirmasi itu perlu. Setelah kejadian ini saya pun lebih aware terhadap paket yang ditujukan ke alamat saya. Tak lupa saya meminta resi pengiriman dan segera melacak melalui aplikasi Raja Ongkir untuk memudahkan saya memantau perjalanan si paket idaman. Jangan mau menanti yang tidak pasti, ya. (*)

Menebar dan Menjaring

Senin, 02 November 2020
Perihal menebar dan menjaring kali ini berkaitan dengan literasi. Pada Oktober kemarin saya mengirim beberapa tulisan ringan dan cerpen anak ke media cetak. Seperti biasa, dimuat di media bukan perkara mudah, ya, kan. Kita selalu bersaing untuk menarik perhatian editor agar karya kita tayang.

Tulisan yang saya kirim ternyata dimuat secara berurutan di beberapa media tersebut. Ya, saya pun beranggapan bahwa ini adalah hadiah istimewa yang diberikan Allah SWT. Oktober adalah bulan kelahiran yang selalu menorehkan banyak cerita bahagia sepanjang hidup saya.

Next kembali ke proses menebar dan menjaring. Karya yang dimuat secara berurutan tersebut tentu saja bukan karya yang saya kirim di waktu bersamaan. Ada yang terpaut waktu satu minggu, tiga minggu bahkan satu bulan sejak pengiriman. Begitulah prinsip kita menebar karya di media. Tidak usah ditunggu kapan tayang. Setelah kirim, lupakan lalu kembali menulis begitulah terus menerus.

Jika tidak menebar bagaimana bisa menjaring tentu hal ini masuk akal bukan? Jika seorang nelayan berharap mendapatkan banyak hasil tangkapan, lalu ia hanya berdiam diri, sungguh mustahil. Nah, begitu juga dengan menulis dan mengharap karya. Jika ingin karya dimuat, harus rajin menebar karya.

Menebar karya ke banyak media, ya. Jangan hanya kirim ke satu media, lalu ditungguin sampai usang dan lumutan. Ini berbahaya, juga, lo. Kita memang berharap dan telah mengerjakan karya sebagus mungkin. Tapi, kita juga masih bergantung pada selera redaktur dan keberuntungan. So, terus menebar dengan rutin!

Tayang atau tidak tayang kembali lagi ke jalan misterius rezeki. Intinya, terus berusaha menghasilkan karya terbaik. Tentu saja, kita pun tak luput ingin pula meraih amal jariah dari setiap pesan moral karya yang tersampaikan. Dengan terus menulis, menebar karya, kelak pada waktunya karya tersebut akan terjaring di suatu tempat, entah media atau penerbit. (*)

Cara Unduh iPusnas di Komputer

Minggu, 01 November 2020

Assalamu'alaikum, Sahabat Khansa.

Kegiatan membaca sekarang bisa dimana saja. Tidak harus diam berlama melalui buku fisik. Meskipun bagi sebagian orang, termasuk saya, belum ada yang bisa menandingi kenikmatan membaca buku fisik. Harum yang menguar dari tiap halaman buku baru membuat saya merindukan saat-saat bisa berlama-lama di toko buku.

Cara Unduh iPusnas di Komputer

Nah, sekarang Sahabat tidak perlu khawatir jika ingin menikmati buku meskipun hanya melalui gadget. Buku tersebut bisa kita bawa kemana saja. Hanya bermodalkan gadget dan kuota data. Istimewanya, aplikasi ini dapat kita unduh secara gratis melalui aplikasi Play Store dan komputer.

Aplikasi tersebut bernama IPUSNAS. Berikut cara asyik membaca buku via iPusnas:

  1. Unduh aplikasi Ipusnas melalui Ipusnas.id
  2. Pada layar utama Ipusnas.id, pilih tampilan yang kita inginkan. Karena kali ini kita membahas tentang cara mengunduh aplikasi Ipusnas via komputer, maka kita harus mengeklik icon dekstop.

Cara Unduh iPusnas di Komputer 1
3. Setelah icon di-klik, maka kita akan diarahkan pada http://download.aksaramaya.id/iPusnasSetup.exe. Jika tidak terunduh secara otomatis, maka Sahabat klik download
4. Double klik aplikasi yang terunduh di folder target, lalu ikuti petunjuk yang tertera
5. Sekarang, Sahabat sudah memiliki aplikasi Ipusnas.id di komputer

Cara Unduh iPusnas di Komputer 2

6. Selanjutnya, double klik ikon tersebut sampai muncul halaman beranda. Klik garis tiga di sudut kiri atas. Lalu klik masuk. Bisa menggunakan akun facebook dan bisa juga menggunakan akun email.

Cara Unduh iPusnas di Komputer 3

7. Sahabat sudah bisa berselancar menggunakan iPusnas untuk membaca banyak buku yang tersedia. Selamat bersenang-senang. (*)

Perantara Kebahagiaan

Sabtu, 31 Oktober 2020
Assalamu'alaikum, Sahabat Khansa.

Masih ingat dengan cerita saya sebelumnya tentang Memberi Sebenarnya Menerima? Ketika kita berusaha memberikan kebahagiaan pada orang lain sebenarnya kita sedang membuat diri kita pun bahagia. Percayalah, tiada kebaikan yang sia-sia.

Tepat tanggal 30 Oktober 2020 kemarin, para pejuang NIP seantero Nusantara menerima berita final tentang kelulusan seleksi CASN 2019. Saya pun pernah merasakan gempita itu dalam seleksi CASN 2018 silam. Rekam Kaleidoskop Khansa untuk 2019 bisa membuka sedikit cerita bahagia itu buat Sahabat Khansa.

Masih lekat dalam ingatan saya ketika beberapa nomor kontak baru memasuki kotak pesan WA. Diawali dengan menanyakan kabar lalu diakhiri dengan tanya ini itu terkait materi yang akan diujikan. Tentu saja saya dengan senang hati memberikan sedikit yang saya tahu. Karena saya yakin, teman saya tersebut sedang berada di titik membutuhkan bantuan. Saya pun pernah berada di posisi itu.

Hari ini kabar kemenangan itu telah teman saya bagikan. Lulus dan kini telah terdaftar sebagai salah seorang abdi negara di negeri ini. Terasa ada ruang hati yang dingin dan sejuk. Kedua kelopak mata pun ikut memberikan tanda. Haru yang luar biasa menyeruak dari diri.

Saya paham apa yang mereka rasakan karena saya pernah berada di posisi yang sama. Bagaimana rasanya saat kita merasa bahagia dengan keberhasilan orang lain? Tentu bukan karena kita ia memenangkan seleksi itu, kita hanyalah perantara.

Bagaimana saya merasa sangat bahagia atas perantara-perantara yang dahulu Allah SWT kirimkan kepada saya, kini saya pun ingin menjadi bagian dari perantara itu. (*)

Pemuda Harapan Negeri

Jumat, 30 Oktober 2020

Puisi Pemuda Harapan Negeri


Tugas ODOP Batch 8 pekan ini istimewa buat saya khususnya. Pasalnya sudah lama sepertinya saya tak lagi menuangkan isi imaji dalam bait-bait puisi. Terkadang saya pun bertanya pada diri, hingga kini lebih banyak menulis genre anak dan membaca buku anak, namun mengapa justru bunga-bunga kemenangan justru bermekaran dari ranah puisi. Saya sangat tak menyangka bisa menorehkan bunga karya di Menang Lomba Puisi Langsung Juara Pertama. Sebuah prestasi membanggakan buat saya. 

Cara Menjadi Kontributor Suara Konsumen

Kamis, 29 Oktober 2020

Cara Menjadi Kontributor Suara KonsumenWell, berbagi itu memang menyenangkan, ya. Terbukti efek pandemi membuat banyak dari kita menyadari bahwa berbagi tak melulu soal materi. 


Bahkan jasa review produk usaha teman menjadi salah satu cara berbagi. Era digital membuat kita melek bahwa usaha teman yang disiarkan melalui sosial media terbukti mampu meningkatkan hasil penjualan.

Kontributor Suara Konsumen


Salah satu website yang menawarkan jasa review usaha adalah suarakonsumen.co. Sahabat bisa kulik web tersebut untuk membuka cakrawala bahwa usaha itu ada banyak di sekitar kita. Bahkan, usaha itu tergolong masih belia namun telah merambah ke mana-mana. 


Kekuatan sosial media kita upayakan untuk membantu usaha teman. Mereview usaha mereka. Ketika kita makan di suatu tempat, membeli dan memakai suatu produk, bahkan di website ini kita juga bisa mengutarakan keluhan, tentunya dengan melampirkan bukti keluhan yang mungkin belum ditanggapi.


Bagi Sahabat yang ingin bergabung menjadi kontributor Suara Konsumen, berikut caranya, ya:

  1. Buka laman website Suara Konsumen
  2. Pada baris menu di bagian atas website, klik REGISTER
  3. Selanjutnya, silakan isi formulir pendaftaran seperti gambar di bawah ini
  4. Setelah formulir terisi, klik DAFTAR SEKARANG

Sahabat sudah bisa LOGIN. Cek menu login di samping menu register, ya. 


Cara Menjadi Kontributor Suara Konsumen


Setelah klik login, Sahabat akan diarahkan ke laman User Login. Isikan username dan password sesuai yang telah Sahabat buat sebelumnya di formulir pendaftaran.


suarakonsumen.co


Pilih KONTEN pada menu yang terletak di lajur kiri tampilan website. Setelah itu beralih ke pojok kanan atas, klik TULIS ARTIKEL


kontributor website


Sekarang Sahabat sudah bisa menulis artikel review sesuai dengan kategori yang tersedia. Setelah artikel dan gambar untuk kelengkapan artikel selesai diposting, klik INPUT ARTIKEL. 


Sahabat sudah mempunya akun di website Suara Relawan dan sudah bisa berkontribusi. 


Alhamdulillah, beberapa artikel saya tayang di sana dan beberapa kali juga memenangkan tema lomba harian. Yuk, intip postingannya di sini :)


1. Roti Jala, Si Roti Jaring Tradisi Melayu Sumatera Utara
2. Hempaskan Komedo Bandel dengan Masker Gelatin Komedo
3. Susu Kurma, Minuman Sehat Inovasi Warung Rukun Tanjungbalai Sumut
4. Stres Alot Minggat Dibabat Puding Sedot
5. Sofwatun Hilwa, Jadi Pengusaha karena Celetukan di Depan Ibu Mertua
6. Kartu Sakti Buat Si Deadliner Sejati
7. Vivo V5 Si Cantik Energik untuk Aktivitas Literasi Nyentrik
8. Batik Kito Tanjungbalai: dari Fashion Week 2019 hingga Jadi Produk Unggulan BI
9. Yaya Delights, Sajian Kue dan Makanan Rumahan Ala Restoran


Semoga saya pun bisa terus berkontribusi memperkenalkan usaha teman melalui suarakonsumen.co. Ayo, ikutan, Sahabat!

Untuk info tema lomba akan dibagikan di WAG. Jika Sahabat ingin bergabung bisa kontak saya, ya. (*)

Membuat Bahagia Bersama

Rabu, 28 Oktober 2020
Assalamu'alaikum, Sahabat Khansa.

Hari itu seorang teman literasi mengabarkan bahwa ia sungguh tidak percaya diri dengan naskah yang baru saja ia kirimkan ke sebuah rubrik. Ia memberanikan diri mengirim ke rubrik tersebut setelah berdiskusi panjang dengan saya. Menanyakan cara kirim, tip dan trik hingga obrolan mengalir ke beberapa tahun silam saat kami masih sama-sama menjejakkan langkah di dunia literasi.

Siapa sangka saat saya membuka web untuk cek karya siapa yang dimuat pada hari ini, pencarian saya malah mengarah pada tulisan teman tersebut. Sontak ada rasa bahagia, karena sepertinya kami baru saja bercerita tentang hal itu. Dengan segenap rasa, saya mengirimkan foto tayangan karya tersebut melalui pesan pribadi WhatsApp.

Alhamdulillah. Ia terharu sekali. Ternyata ini adalah karya perdananya setelah hibernasi cukup lama, empat tahun katanya. Lalu, ketika semangat literasi itu timbul, ia melihat postingan karya saya yang terpajang di Instagram. Benar seperti postingan saya terdahulu, kan? Bahwa apa yang kita pajang di sosial media itu tergantung niat. Jadikan penyemangat buat orang lain berkarya.

Kemudian teman saya tersebut memajang status di facebook atas sukacitanya tersebut. Jujur, ada rasa haru dan bahagia di dada. Senangnya ketika kita bisa berbagi dengan teman. Ia merasa senang dan kita pun tak kalah bahagia.

Memberi Sebenarnya Menerima

Selasa, 27 Oktober 2020
Assalamu'alaikum, Sahabat Khansa.

Suatu ketika saya memberikan benda atau sejumlah nominal uang kepada salah seorang adik saya. Jumlahnya mungkin tak lebih hanya sekadar beli pulsa dan kuota, tetapi binar bahagia yang tak bisa saya lupa ketika ia menerima pemberian itu. Sederhana namun berkesan.

Lalu tak lama setelah kejadian itu, karya yang sudah lama mendekam di folder sang redaktur tiba-tiba tayang di sebuah media impian. Wow! Luar biasa. Allah SWT menjawab pengharapan itu hanya dalam sekejap. Apakah mungkin kita telah berhasil membuka gembok pintu rezeki? Bisa jadi!

Beberapa karya saya yang tampil di media dalam minggu kemarin itu tidak terkirim dalam waktu yang bersamaan, lo. Ada yang dua minggu sebelumnya, ada yang lima hari sebelumnya dan ada yang sekitar tiga minggu sebelumnya. Lalu, naskah tersebut bermuara, tayang secara beruntun di tanggal 21, 22, dan 23 Oktober 2020. Tepat sehari setelah hari ulang tahun saya.

Jangan bilang ini adalah sebuah kebetulan. Karena dalam hidup, kita menjalani sebuah takdir luar biasa yang telah digariskan-Nya. Oleh sebab itu dengan mengatakan sebuah kebetulan itu sama saja dengan kita tidak mempercayai bahwa takdir itu ada.

Sesungguhnya ketika memberi kepada orang lain, itu artinya kita telah memberikan kebaikan untuk diri kita sendiri. Analoginya, ketika kita menolong orang lain, maka kita akan ditolong oleh orang lain pula. 

Jangan berpikir bahwa orang yang menolong kita ini hanyalah orang tertentu karena balas budinya. Jangan! Bisa jadi justru pertolongan itu datang dari orang yang tak pernah kita tolong sebelumnya. Siapa yang bisa membolak-balik hati manusia dalam sekejap pandangan mata? Tentu Allah SWT, maka jangan enggan untuk terus berlaku baik.

Tidak ada kebaikan yang sia-sia. Bahkan kebaikan sebesar biji sawi pun akan berbalas. Pun sama dengan keburukan. Apa yang ditanam tentu itu jua yang akan dituai. Jika ingin memperoleh buah bernas mengapa enggan menanam biji emas? (*)

Rezeki yang Terjaring dari Kelas Daring

Senin, 26 Oktober 2020
Pernah mengikuti kelas daring lalu mendapat tugas yang harus diselesaikan segera? Kalau saya sering dan malah karena itu jadinya manajemen waktu saya agak berantakan. Duh, curcol saya ke Mba dan Mas PJ ODOP udah sering kayaknya tentang ini. Alhamdulillah, ODOJ tinggal tiga pekan lagi. Campur aduk rasa hari demi hari pokoknya, nih.

Nah, salah satu tugas yang harus saya selesaikan adalah menulis cerita anak. Kelas di hari pertama dimulai dengan sharing tentang cerita anak yang baik, tip tembus media dan penerbit, lowongan naskah yang sedang dibuka. Pokoknya, kelas yang dibanderol dengan harga murah ini benar-benar punya ilmu yang mewah menurut saya. Sebagai seorang pejuang di banyak kelas daring, pola pengajaran yang diberikan sang mentor bahkan bisa saya baca. Tapi, ini hanya opini, kok.

Lanjut ke tugas yang diberikan dan harus dikumpulkan keesokan harinya pukul sembilan pagi. Sebagai seorang pekerja sif, saya mendapatkan jadwal dinas sore di hari kelas pertama. Di hari kelas kedua, pastinya mata lelah saya sulit dikompromikan untuk menyelesaikan naskah sepulang kerja. Dengan penuh percaya diri saya membuka folder naskah yang gagal pada kesempatan pertama. Ya, naskah yang pernah saya ikutkan pada sebuah lomba kepenulisan dan ternyata belum meraih predikat yang diharapkan.

Naskah yang menurut saya unik karena ada sesuatu yang saya selipkan di sana. Selain pesan moral yang penting juga tentang keunikan suatu daerah. Saya kecewa pada waktu pengumuman lomba namun saya juga ingin mengetahui kiranya kesalahan naskah ini ada di mana. Akhirnya, klik, saya kirimkan naskah tersebut untuk menemui takdir kedua. Saya sudah merencanakan naskah ini ke sebuah media. Tapi saya harap masukan dari mentor kelas daring ini dapat mempercantik naskah tersebut.

Taraa. Benar saja, naskah tersebut dioprek oleh Mba Mentor dengan apik. Konflik yang kurang kuat dan perlu dieksplor kata beliau. Jelaslah sudah dimana kekurangan naskah ini. Ya, konflik itu penting dalam sebuah cerita. Karena hidup tanpa masalah itu nggak enak. Eh, iyakah? Padahal enakan nggak ada masalah, sih. No. Cerita tak akan berkembang baik tanpa adanya konflik.

Baiklah. Setelah kelas ditutup saya pun merevisi naskah sesuai arahan. Siapa sangka sebuah pengumuman malam itu membuat saya berdecak bangga. Sang mentor sedang menyusun naskah dan karena beliau melihat naskah saya seide dengan naskahnya, maka ia pun menawarkan saya untuk duet menulis. Masya Allah. Beberapa waktu yang lalu saya pernah berharap mendapat tawaran duet nulis lagi sebenarnya. Pengalaman tiga kali menulis duet membuat saya kepengen mengulang sensasi itu.

Jalan rezeki itu misterius, ya. Naskah yang gagal pada kesempatan pertama ternyata menemukan takdirnya di kesempatan kedua. Jadi, jangan sia-siakan naskah yang pernah Sahabat tuliskan. Suatu saat, naskah tersebut akan menemui takdirnya. Terus semangat buat kita! (*)

Review Transfer Uang Pakai Aplikasi Bebas Bayar

Minggu, 25 Oktober 2020
Review Transfer Uang Pakai Aplikasi Bebas Bayar - Hari ini seseorang mengirim pesan melalui kotak masuk pesan facebook. Menyatakan ketertarikannya pada bisnis jual pulsa, token, bayar tagihan. Ya, saya memang beberapa kali membuat tulisan tentang aplikasi bayar-bayar di akun media sosial. Saya pun membagikan ilmu yang saya miliki tentang aplikasi bayar-bayar tersebut. Terutama tentang keuntungan bergabung menjadi anggota. Setelah tanya ini itu, sampailah pada pernyataan dan pertanyaan.

Jadi Kuat Karena Semangat

Sabtu, 24 Oktober 2020
Hari ini saya luar biasa capai. Masya Allah. Pulang dinas pukul 11 siang dan lanjut jam 3 siang kajian. Kemudian baru pulang pukul 21.00 WIB. Lanjut dinas malam pukul 22.00 WIB.

Namun, semua dapat saya lakukan. Semua karena cinta luar biasa. Cinta pada literasi yang membuat semua rasa lelah itu seolah buyar.

Cinta akan menemukan jalannya yang luar biasa. Lalu semangat menjelma asa. Sungguh luar biasa bila cinta menggerakkan semua.

Kuat Karena Semangat


Bolehlah kita berpaling ke belakang dan melihat sejenak usaha kita selama ini. Misal ODOP. Sudah tinggal hitungan hari saja menuju akhir. Bagaimana bisa merangkai kata jika tanpa cinta hingga saat ini. Itu tentu mustahil, bukan?

Jadilah kuat dan jadilah hebat dengan semangat. Karena hanya dengan semangat kita akan sanggup bertahan hingga di batas akhir, di garis finish yang kita nantikan. (*)

Menulis adalah Terapi yang Menyembuhkan

Jumat, 23 Oktober 2020
Kegiatan belajar daring tetap berlangsung karena wabah belum kunjung usai. Bagi saya yang banyak berkutat dengan dunia literasi media, sangat takjub dengan berbagai macam kelas yang dibuka oleh para mentor yang sudah tak diragukan lagi kapasitasnya.

Mulai dari kelas fiksi anak, fiksi remaja, fiksi dewasa, belum lagi nonfiksi. Harga yang ditawarkan juga mulai dari yang bersahabat sampai yang membuat kantong agak sekarat.

Kelas-kelas yang ditawarkan tentu sangat menarik. Tapi kalau kita sampai kalap mengikuti kelas sana-sini itu malah tidak baik. Karena tidak fokus menimba ilmu dan malah jatuhnya hanya sekadar ingin tahu.

Bagi yang masih sendiri alias belum berumah tangga, kegiatan mengikuti kelas daring bisa lebih fleksibel, menikmati suguhan ilmu sang mentor sambil menikmati segelas cendol, misalnya.

Tapi bagi yang sudah berkeluarga dan mempunyai anak balita, bisa jadi kegiatan daring membuat repot. Saat fokus belajar mata tertuju ke banyak arah.

Belajar daring memang membutuhkan lebih banyak fokus. Meskipun demikian, kewajiban itu memperhatikan anak tentu jauh lebih penting.

Pengalaman saya di beberapa kelas daring, penulis yang agak repot saat menghabiskan waktu dengan si kecil, bisa menyusul membaca materi di malam hari setelah anak istirahat. Ya, intinya manajemen waktu yang baik.

Jadi, baik yang masih sendiri ataupun sudah berpredikat sebagai emak, jangan khawatir! Kesempatan untuk belajar dan berkembang di dunia literasi terbuka lebar.

Meskipun daring membuat sebagian orang darting (darah tinggi) semoga itu tidak berlaku untuk kita. Karena menulis ada terapi yang menyembuhkan, bukan? (*)

Cara Kirim Sungguh Sungguh Terjadi Harian Kedaulatan Rakyat

Kamis, 22 Oktober 2020
Cara Kirim Sungguh Sungguh Terjadi Harian Kedaulatan Rakyat - Alhamdulillah, berita bahagia tentang pemuatan karya datangnya beruntun bagaikan gerbong kereta. Tiada henti mengucap syukur di bulan kelahiran saya ini. Hari ini karya sederhana saya dimuat di salah satu surat kabar besar di Kota Yogyakarta, Surat Kabar Harian Kedaulatan Rakyat, tepatnya di rubrik Sungguh Sungguh Terjadi.

Rubrik yang berisi penggalan kisah yang membuat para pembaca berdecak, terkesima dan terkadang tak menduga. Kok bisa ya ada kisah seperti itu. Tetapi itu kisah nyata, lo. Oleh sebab itu, saya suka membaca halaman rubrik ini dan akhirnya ketika ada kisah menarik yang pantas dibagikan, saya berkesempatan menghadirkannya kepada Sahabat Khansa.

Berikut Cara Pengiriman Naskah Sungguh Sungguh Terjadi SKH Kedaulatan Rakyat

 
  1. Tulis cerita unik menarik yang terjadi di sekitar kita dalam bentuk satu paragraf singkat. Saya perkirakan jumlah paragraf itu tak lebih dari 50 kata;
  2. Ketik rapi di badan email;
  3. Lengkapi dengan nama, alamat, nomor kontak, nomor rekening;
  4. Kirim naskah ke alamat surat elektronik joko.job@gmail.com
    Update: Sejak 17 Juli 2021, redaksi SST memberikan pengumuman terbaru khusus pengiriman naskah SST. Sahabat bisa mengirim naskah SST ke alamat surat elektronik naskahkr@gmail.com atau nomor WhatsApp 0895-6394-11000 
Cara Kirim Sungguh Sungguh Terjadi

Selanjutnya, Sahabat Khansa bisa memantau apakah tulisan tersebut dimuat/belum pada website Kedaulatan Rakyat.

Selamat mengirim karya, ya. Jika belum rezeki dimuat, terus kirim dan jangan bosan. Insya Allah, setiap naskah ada jalan rezeki masing-masing. (*)

Pamer Karya Bukan Ria, Tunjukkan Saja yang Terbaik

Rabu, 21 Oktober 2020
Pamer Karya Bukan Ria - Alhamdulillah kabar bahagia datang lagi hari ini. Kabar dari salah satu rubrik yang amanah, menurut pantauan kami-para penulis setia-selama ini. Apalagi kalau bukan Harian Solopos. Pandemi memang merenggut banyak luapan euforia yang tak tersalurkan. Ya, bagaimana lagi. Para penggawa media juga harus beradaptasi dengan efek samping pandemi.

Banyak rubrik media yang hibernasi hingga menutup peluang para penulis untuk mengirim karya. Berbeda dengan Harian Solopos yang tetap eksis dengan rubrik Ah Tenane dan tentu saja transfer honor yang tak pernah telat. Ups!

Nah, seperti biasa, ketika ada karya yang dimuat di media, saya selalu membuat postingan di akun sosial media. Lalu, dalam hitungan detik teman-teman seantero sosial media itu menghujani saya dengan banyak cinta sebagai ucapan selamat. Senang? Tentu saja manusiawi, ya. Namun, kesenangan di sini selalu saya redam agar tak berubah menjadi rasa ria yang tercela.

Pamer karya adalah ungkapan syukur dan berbagi bahagia dengan Sahabat. Dengan membuat postingan karya tersebut, tentu semangat Sahabat sedikit banyak akan terlecut untuk mengikuti jejak langkah kita. Terbukti, setelah status tersebut saya pajang, permintaan untuk bergabung dengan grup JKHI semakin bertambah. Malah, ada juga Sahabat yang mengirim pesan pribadi menanyakan tentang cara mengirim naskah ke rubrik tersebut.

Sebagai sesama pejuang tinta, kita sudah pernah berada di posisi pemula. Masih buta segala sesuatu tentang cara kirim ke sebuah media, misalnya. Baiknya, kita berikan solusi tanya dengan sebuah jawaban ataupun sharing. Dengan memudahkan urusan orang lain sesungguhnya kita telah mempermudah urusan kita sendiri.

Bila naskah Sahabat tersebut dimuat, itu artinya kita telah ikut berkontribusi menjadi jalan salah satu rezeki orang lain. Hal ini pun merupakan salah satu sifat mulia. Maka jika ada Sahabat yang menanyai saya, daripada sibuk menjawab satu per satu, maka saya buat saja satu postingan di blog. Hasilnya, kunjungan halaman blog saya bertambah dan Sahabat juga mendapatkan manfaat tulisan. Sebuah simbiosis mutualisme, ya, kan?

Sahabat Khansa, semua perbuatan tergantung niat, ya, kan? Jadi jangan khawatir dengan keputusan untuk memajang karya di sosial media. Siapa sangka postingan itu kelak akan menjadi salah satu amal jariah yang tiada putus bagi kita. Semangat berkarya dan menebar manfaat (*)